Headline

Kreaktivitas Daerah di Karnaval Tenun

Bupati Buton Utara mendampingi timnya menampilkan tema hutan mangrove bersama sejumlah peserta lain yang mengenakan beragam kain tenun khas Butur.

KENDARI, BKK – Karnaval Tenun dalam rangkaian pameran Halo Sultra ke-10,  Senin (24/4) dimanfaatkan pemerintah kabupaten/kota se-Sultra memamerkan kreaktivitasnya terhadap produk kain tenun daerahnya masing-masing. Bukan saja itu sejumlah kepala daerah juga tampil beda dalam acara tersebut.

Kabupaten Buton Utara (Butur) misalnya menampilkan kain tenun tenun Katamba Gawu. Tenun andalan Butur ini dikenakan seorang gadis dengan tema hutan manggrove yang kini tengah digadang-gadang untuk wisata bahari, dan dan kerang raksasa yang merupakan simbol adat daerah.

“Ikon kita tampilkan untuk memperkenalkan manggrove. Di dalam manggrove itu dikelilingi hasil laut, ada udang, kepiting, dan lain sebagainya,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Butur, Harlin Hari di sela-sela acara karnval.

Dalam karnaval kali ini menurunkan sekitar 250 orang yang terdiri dari jajaran SKPD, Dekranas, Tim Penggerak PKK, serta tokoh masyarakat

Kabupaten Buton yang juga dikenal sebagai penghasil kain tenun menampilkan tema kupu- kupu endemik hutan Lambusango, hutan yang dimiliki Kabupaten Buton.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buton, Zainuddin Napa ketika diwawancarai saat mendampingi rombongan mengatakan, sengaja menampilkan kekayaan alam Buton, khususnya Hutan Lambusango, agar menjadi icon baru pariwisata Buton. Di Hutan itu kata dia terdapat jenis kupu-kupu endemik yang kerap menjadi objek penelitian.

Kabupaten Muna Barat (Mubar) sebagai kabupaten yang baru mekar tak mau ketinggalan menampilkan kreaksinya.  Kabupaten pecahan dari Muna ini menampilkan tema gadis bunga teratai yang memiliki makna perempuan yang kuat dan tangguh.

Rombongan Mubar menjadi perhatian warga termasuk penonton di panggung kehormatan karena Pj Bupati Mubar Rony Yakob Laute bersama istri dengan mengenakan pakaian adat khas Mubar memimpin barisan dengan menunggangi kuda berwarna coklat.

Kabupaten Konawe dan Konawe Selatan (Konsel) menampilkan tarian reog ponorogo sebagai gambaran kemajemukan adat dan suku di kabupaten ini, apalagi merupakan salah satu wilayah trans masyarakat Jawa dan Bali.

Bupati dan Wakil Bupati Konut, Ruksamin dan Raup berpakaian ala petani saat mengikuti pawai karnaval.
Foto: Darso dan IST

Rombongan Kabupaten Konawe Utara (Konut) juga menarik perhatian panggunga kehormatan. Selain menampilkan kain tenunnya, yang membuat menarik perhatian karena Bupati dan Wakil Bupati Ruksamin dan Rauf ikut dalam rombongan karnaval dengan berpakaian ala petani.

Dia berpakaian celana dan baju ala petani dipadu dengan topi jerami, lalu memanggul bakul berisikan padi dan sayur-sayuran.

Menurut Bupati Ruksamin melalui Watshap kepada BKK, karena mereka mencita-citakan Konut sebagai lumbung pangan di Sultra makanya mereka tampil seperti itu.

Gubernur Sultra Nur Alam dalam sambutannya mengatakan, perayaan karnaval tenun Sultra merupakan wujud pelestarian tradisi budaya daerah, khususnya kain tenun.

“Kain tenun kita sudah terkenal hingga ke mancanegara, jadi bukan tidak mungkin kegiatan ini merupakan momen penting untuk memperlihatkan wajah Sultra,” ujar Nur Alam.

Dikatakan, melimpahnya kekayaan budaya tenun di Sultra, dia berharap kepada seluruh pemerintah daerah untuk terus berkomitmen menjaga dan mengembangkan potensi budaya tenun di seluruh wilayahnya masing-masing.

Festival karnaval tenun Sultra diikuti 72 barisan dari seluruh SKPD lingkup Pemerintah Provinsi Sultra, pelajar dan mahasiswa serta seluruh perwakilan 17 kabupaten/kota se-Sultra.

Di tribun kehormatan tanpak sejumlah pejabat di antaranya Gubernur Sultra Nur Alam, Danrem 143/HO, Wakapolda Sultra, dan sejumlah pejabat lingkup Pemprov Sultra. Lalu ada juga Bupati Muna dan Istri yang keduanya memakai pakaian adat khas Muna berwarna hitam, Wabup Buton La Bakry, Wakil Bupati Wakatobi Ilmiati Daud, Pj Bupati Busel Ilah Ladamay, dan kepala daerah lainnya. (r1-cr7-cr9/lex)

To Top