Pendidikan

Gandeng Unsultra, Kemenristekdikti Adakan Workshop Peningkatan Mutu Dosen

Rektor Unsultra Prof Andi Bahrun (tengah baju hitam) dan Perwakilan Kemenristekdikti saat menyanyikan lagu indonesia raya sekaligus membuka rangkaian kegiatan workshop (Foto Sumardin)

KENDARI, BKK-  Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemensistek Dikti) berkerja sama dengan Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra) mengadakan workshop  untuk peningkatan mutu dosen dalam penyusunan proposal program riset dasar tahun 2017.

Kegiatan tersebut diikuti oleh sejumlah perwakilan perguruan tinggi lainnya di Sultra, yang terdiri Universitas Halu Oleo (UHO),  Universitas Sebelas November (USN), Universitas Dayanu Iksanuddin, Stikes Mandala Waluya, Universitas Muhamadiyah Kendari (UMK), Stikes Avicenna, Akbid Pelita Ibu, Universitas Muhamadiyah Buton (UMB), STIKES Catur Sakti, dan Universitas Lakidende.

Rektor Unsultra Prof Andi Bahrun mengungkapkan, kepercayaan Kemenristekdikti untuk menggandeng Unsultra mengadakan kegiatan tersebut memberikan kebanggan tersendiri.

“Amanah ini dapat menjadi penghargaan sekaligus sebagai spirit bagi Perguruan Tinggi di Sultra, khususnya Unsultra dalam mengembangkan amanah guna mewujudkan tekad dan visi Kemenristekdikti dalam meningkatkan daya saing bangsa,” ujar Prof Andi Bahrun, Kamis (20/4), saat ditemui di sela-sela workshop itu.

Kegiatan workshop kali ini, katanya, sangat penting karena pemerintah pusat khusus pemerintah daerah Sultra lagi serius meningkatkan daya saing. Hal tersebut sejalan dengan prioritas pembangunan Jokowi-Jusuf Kalla (JK) antara lain meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional.

Sementara itu, Kepala Sub Bidang Riset Dasar, Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Kemenristekdikti, Adhi Indra Hermanu mengatakan, peserta yang mengikuti kegiatan workshop merupakan dosen yang sebagian besar sudah pernah mengajukan proposal. Namun, proposan yang mereka ajukan tersebut belum bisa diloloskan karena masih mempunyai beberapa kekurangan, terutama berhubungan dengan metode dan target peneliti yang belum jelas.

“Sehingga dalam kegiatan ini, proposal yang belum lolos akan dibedah, sehingga ditemukan dimana kekurangan-kekurangan yang banyak dialami oleh para peneliti dalam mengajukan proposal,” terang Adhi.

Lanjut Adhi, dalam workshop juga  ini pihaknya mengundang para ahli dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Gadjah Mada (UGM) dan yang lainnya,  sehingga dapat melihat dan mengoreksi segala kelemahan proposal yang diajukan oleh para peneliti.

Masih katanya, Kemenristekdikti telah mengeluarkan kebijakan-kebijakan  yang sebenarnya sangat berpihak kepada para peneliti. Contohnya, kebijakan hak paten yang berpihak kepada peneliti yang bisa mendapatkan royaliti dari hasil penelitiannya yang berkerja sama dengan pihak industri yang sudah  disiapkan dananya.

Saat ini pun, tambahnya, telah ada kebijakan baru dengan keluarnya Peraturan Menteri Keuangan 106 yang terkait dengan penelitian berbasis output. Dalam hal ini, peneliti tidak perlu lagi ribet dengan pertanggung jawaban kwitansi, pembelian bahan, dan sebagainya..

“Sekarang sudah melakukan standar penelitian/ hibah penelitian yang sesuai dengan fokus penelitiannya dan mereka tidak usah lagi mempertanggung jawabkan secara rinci. Ada tim penilai yang disiapkan oleh pihak Kemenristekdikti yang akan melihat penelitian yang dilakukan oleh para dosen peneliti yang dibiayai tersebut,” tandasnya. (p12/nur)
 

To Top