HMI Telah Berjasa kepada Bangsa – Berita Kota Kendari
Aktualita

HMI Telah Berjasa kepada Bangsa

Sekretaris KAHMI Kolaka, Nasrullah Wahid, bersama Keta Umum HMI Cabang Kolaka, Candra Agra ‎dan Ketua Umum Badko HMI Wilayah Sultra Sandra Hasba, memotong nasi tumpeng pada Dies Natalis HMI ke-70. (Foto: Armin/BKK)

 

KOLAKA, BKK – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Kolaka menggelar Dies Natalis HMI ke-70, dirangkaikan temu HMI dan KAHMI, Jumat (10/2) malam di aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kolaka.

Dies Natalis atau Hari Ulang Tahun (HUT) ke-70 HMI yang mengambil tema “70 tahun HMI bersama umat, Mewujudkan Indonesia Jaya”, diisi dengan pemutaran film dokumenter sejarah lahir dan pergerakan HMI dalam mengawal keutuhan Republik Indonesia, sekaligus pemotongan nasi tumpeng.

Ketua umum HMI cabang Kolaka Candra Arga‎ mengungkapkan, HMI yang merupakan organisasi mahasiswa tertua di Indonesia, telah banyak memberikan kontribusi pada bangsa ini. Bahkan saat ini banyak kader HMI yang menjadi tokoh nasional.

Pada kesempatan itu Candra menyampaikan bahwa kondisi HMI Kolaka saat ini sangat memprihatinkan. Meski demikian, semua kader harus memiliki satu prinsip bagaimana membesarkan organisasi ini ke arah pengaderan yang akan membawa bangsa ke arah yang lebih baik. Dia juga menyampaikan kekecewaannya ketidakhadiran Korps Alumni HMI (KAHMI) dalam acara ini.

Ketua umum Badan Koordinasi HMI Wilayah Sultra Sandra Hasba menyampaikan, refleksi 70 tahun lahirnya HMI haruslah dijadikan introspeksi berkaitan kekurangan yang dialami, sebab sebelumnya HMI pernah mengalami masa keemasan.

“‎Melalui momentum ini, perlu saling memperingati terkait kebenaran. Bagi senior hendaknya menjadi suri teladan bagi adik-adiknya,” harap Sandra.

Sementara sekretaris umum KAHMI Kolaka Nasrullah Wahid menyampaikan bahwa tanggal 5 Februari 1947 di Yogyakarta organisasi HMI lahir yang didirikan Lafran Pane. Kelahiran HMI dua tahun setelah Indonesia merdeka guna mempertahankan dan membela Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ini dibuktikan banyaknya kader HMI yang berdarah-darah bahkan gugur dalam membela NKRI.

“Tujuan utama lahirnya HMI adalah meninggikan syariat Islam dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang baru merdeka 2 tahun,” ungkapnya.

Meski berperan dalam mempertahankan NKRI, namun ketika azas tunggal diterapkan tahun 1980, besic training HMI dilakukan dengan cara sembunyi dan berpindah-pindah, karena selalu digrebek. Inilah yang kemudian dibuat dua HMI yakni Dipo yang berasas Pancasila dan Majelis Penyelamat Organisasi ‎(MPO) yang tetap berasas Alquran dan Assunah.

HMI di Sultra baru bernapas panjang setelah Laode Kaimuddin ‎yang saat itu belum menjadi Gubernur Sultra pasang badan, dengan mengatakan kalau dirinya kader HMI dan melarang menganggu HMI. Dalam perkembangannya, saat ini kader HMI di Sultra tercatat 7 Bupati dan 5 wakil bupati.

Pada kesempatan itu, Dr H Bakri Mendong yang juga Alumni HMI, dalam orasi ilmiahnya menegaskan bahwa HMI merupakan organisasi mahasiswa. Karena itu, jika bukan mahasiswa atau sudah DO tidak bisa lagi dikatakan HMI. Seorang kader HMI tidak boleh lama kuliah, serta harus unggul dalam segala bidang. (r3/c)

To Top