Ketua DPRD Sultra: Perbankan Belum Berani Mendobrak – Berita Kota Kendari
Beranda

Ketua DPRD Sultra: Perbankan Belum Berani Mendobrak

KENDARI, BKK- Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Abdul Rahman Saleh berpendapat, pembangunan perekonomian pada sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan harus menjadi perhatian industri jasa keuangan (IJK) di Sultra.

Sebab, menurutnya, ketiga sektor tersebut merupakan kekuatan pertumbuhan ekonomi.

Sejauh ini, ia menilai dari 26 perbankan yang ada di Kota Kendari dan 32 IJK di Sultra belum memiliki keberanian dalam melihat potensi-potensi yang ada di Sultra.

Menurut dia, perbankan sejauh ini hanya fokus mengembangkan pemberian kredit pada sektor yang sifatnya konsumtif.

“Ini menjadi pelajaran penting bagi kita semua sehingga dari tahun ke tahun memang tuntutan untuk jadi perhatian, untuk bagaimana kita bekerja keras mengoptimalkan peran serta jasa keuangan di Sultra,” ujar pria yang akrab disapa ARS, saat ditemui wartawan koran ini usai mengikuti kegiatan rapat tahunan OJK Sultra di Grand Clarion Hotel Kendari, Selasa (07/02) malam.

Sebagai DPRD Sultra, ia mengatakan, siap mendukung program-program jasa keuangan dalam bentuk regulasi.

Ia juga mengimbau perbankan di Sultra untuk meningkatkan perannya dalam bentuk program-program secara simultan yang sifatnya produktif.

“Sehingga nanti dimudahkan pengkreditan untuk rakyat-rakyat kecil, sehingga sektor-sektor yang 60 persen ini (sektor pertanian, perkebunan dan perikanan) diperuntukkan untuk rakyat lokal,” ungkap politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini.

“Dari 17 kabupaten dan kota di Sultra, dari 400 lebih pulau-pulau yang ada, serta 2,5 juta penduduk, seharusnya bank-bank ini harus lebih berani lagi mendobrak. Yang tadinya kaku dalam melihat potensi-potensi yang ada,” anjurnya.

ARS menilai, memang ada beberapa perbankan tidak berani melakukan inovasi kreatif. Hal ini, kata dia, disebabkan adanya idealisme yang terganggu akibat adanya risiko-risiko personal yang dialami.

“Seharusnya perbankan ini bisa kita kumpulkan kembali dalam diskusi-diskusi, sehingga program-program yang dicanangkan bisa diandalkan bagi kita semua,” ujar ARS.

Ia menyebutkan, usaha kecil dan menengah (UKM) di Sultra tercatat sebanyak 12 ribu kelompok usaha, di mana sebanyak 17 persen merupakan usaha kecil dengan tenaga kerja 10 sampai 25 orang.

Ini juga dinilai belum memadai dalam menunjang perekonomian daerah, karena belum bisa melakukan upaya-upaya maksimal dari hulu sampai hilir.

“Saya harapakan kepada perbankan dan pegawai perbankan untuk bukan hanya menerima nasabah-nasabah untuk memasukkan duitnya, tapi paling tidak perbankan maupun pegawainya harus mampu melihat potensi lokal yang kita miliki,” tandasnya. (p11/iis)

To Top