Akses Masyarakat Terhadap Jasa Keuangan Belum Optimal – Berita Kota Kendari
Bisnis & Ekonomi

Akses Masyarakat Terhadap Jasa Keuangan Belum Optimal

KENDARI, BKK- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mencatat aset perbankan atau bank umum pada september 2016 mencapai Rp 22,63 triliun. Aset tersebut mengalami pertumbuhan sebesar 2,03 persen dibanding Desember 2015.

Kepala OJK Sultra, Widodo menjelaskan, pertumbuhan aset bank umum ditopang oleh perrumbuhan DPK sebesar 3,75 persen menjadi Rp 15,44 triliun, dengan rincian pertumbuhan tabungan sebesar 17,77 persen menjadi Rp 7,72 triliun, deposito sebesar 6,45 persen menjadi Rp 3,93 triliun. Sedangkan giro mengalami penurunan sebesar -13,45 persen menjadi Rp 2,83 triliun.

“Secara umum berdasarkan pangsanya, bank pemerintah masih mendominasi industri perbankan di Sultra dengan porsi aset mencapai 83,5 persen, sedangkan total bank swasta nasional hanya sebesar 16,5 persen dari total aset bank umum di Sultra,” jelas Widodo saat dikonfirmasi usai rapat tahunan OJK yang digelar di Grand Clarion Hotel Kendari, Selasa (07/02) malam.

Dipaparkannya, untuk bank perkreditan rakyat (BPR), per September 2016, pertumbuhan aset BPR sebesar 15,8 persen menjadi Rp 18,12 triliun, dengan rincian jenis kredit modal kerja Rp 5,06 triliun, investasi Rp 6,83 triliun, dan kredit konsumsi 11,14 triliun.

Sementara jumlah penyaluran kredit bank umum tertinggi terjadi pada beberapa sektor, diantaranya sektor rumah tangga untuk pemilikan peralatan rumah tangga lainnya Rp 8,68 triliun atau 55,36 persen, sektor perdagangan besar dan eceran Rp 4,22 triliun atau 26,91 persen, sektor rumah tangga untuk pemilikan rumah tinggal Rp 1,79 triliun atau 11,42 persen, sektor kontruksi Rp 0,53 triliun atau 3,38 persen, serta sektor penyediaan akomodasi dan penyediaan makan dan minum Rp 0,46 triliun atau 2,93 persen.

Sedangkan untuk industri jasa keuangan non bank di Sultra, lanjut Widodo, piutang pembiayaan Sultra per November 2016 senilai Rp 2,32 triliun, sedangkan untuk piutang penbiayaan nasional mencapai Rp 394,87 triliun dengan total aset Rp 438,22 triliun, mengalami pertumbuhan 3,1 persen.

Sementara itu, pembiayaan modal ventura Sultra per Oktober 2016 adalah Rp 13,05 miliar dengan jumlah perusahaan pasangan usaha (PPU) sebanyak 224. Selain itu, untuk total dana pensiun di Sultra adalah Rp 127 miliar dengan tingkat perrumbuhan 21,36 persen.

“Berdasarkan overview kinerja jasa keuangan di Sultra, perekonomian di Sultra diharapkan tidak hanya tumbuh namun juga berdampak pada kesejahterahan masyarakat yang merata melalui percepatan akses keuangan daerah,” tutur Widodo.

Ia menambahkan, IJK memilimi ruang yang dapat terus berkembang denagn potensi rakyat Sultra yang didominasi sekitar 44,49 persen usia angkatan kerja atau 1,09 juta jiwa, serta pertumbuhan ekonomi yang tumbuh 7,62 persen. Sementara itu rasio jumlah rekening kredit terhadap penduduk akngkatan kerja di Sultra menunjukkan penurunan menjadi 18,1 persen.

“Masih rendahnya rekening kredit menunjukkan bahwa fasilitas lembiayaan masih sedikit digunakan oleh masyarakat dan masih terdapat ruang untuk meningkatkan penyaluran kredit di masa yang akan datang,” tuturnya.

Pihaknya menilai, akses masyarakat terhadap jasa keuangan di Indonesia secara umum dan di Sultra khususnya masih tergolong moderate, dalam hal ini belum optimal. Hal ini mengindikasikan masih banyak peluang untuk menjadikan sistem keuangan menjadi lebih inklusif dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Dibutuhkan peran kita semua untuk ikut andil dengan segala kebaikan yang ditujukan untuk membangun daerah kita, utamanya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kesejahterahan masyarakat,” ujar Kepala OJK Sultra yang tidak lama lagi periode jabannya berakhir ini.(p11/lex)

To Top