Muhamad Yusri, Berani Tinggalkan Status Karyawan Bank Mega Sukses Usaha Kuliner Berbahan Durian – Berita Kota Kendari
Headline

Muhamad Yusri, Berani Tinggalkan Status Karyawan Bank Mega Sukses Usaha Kuliner Berbahan Durian

Foto: Muhamad Yusri Bersama Menu Jagoannya. (Nirwan/BKK)

Untuk menjadi wirausaha memang membutuhkan keberanian. Hal itulah yang dilakukan Muhammad Yusri (32), berani meninggalkan pekerjaanya sebagai karyawan Bank Mega di Kota Makassar, lalu mendirikan usaha kuliner yang semuanya berbahan dasar durian, bernama Bos Duren. Alhamdulillah, ternyata keputusannya berbuah manis, baru 13 bulan usaha yang dijalankannya, sudah membuahkan hasil.

Laporan: Nirwan, Kota Kendari
Muhammad Yusri mengambil langkah berani meninggalkan statusnya sebagai karyawan Bank Mega di Kota Makassar, didorong keinginannya untuk bisa bersama keluarganya yang bertempat tingggal di Kota Kendari. Padahal, dia berkarir di Bank Mega sudah tujuh tahun lebih.

“Jujur pada saat saya memutuskan untuk keluar sebagai karyawan di Bank Mega Makassar yang telah saya geluti selama tujuh tahun, memang itu adalah resiko besar. Sebab saya memiliki tanggungan yakni anak dan istri saya. Sehingga ketika saya bulat memutuskan untuk keluar sebagai karyawan bank niat saya cuman satu yakni saya harus mencari pekerjaan lebih dari itu. Bahkan dibenak saya dulunya tidak terfikir untuk membuka usaha seperti ini,” ungkap ayah satu anak itu.

Dia menceritakan, usai memutuskan keluar dari Bank Mega, Yusri kemudian berdiskusi dengan istrinya untuk membuka usaha. Namun usaha apa yang akan dibuka, dia masih gamang.

Rupanya hobinya dia dan istri makan durian melahirkan inspriasi. Setelah berdiskusi dengan istrinya, akhir 2015 Yusri  memutuskan membuka kuliner yang semua bahan dasarnya durian, seperti sup durian, pengkek durian, dan terang bulan durian. Kebetulan, saat itu belum ada kuliner yang berbahan dasar durian, padahal di Sultra banyak durian.

Dia memberi nama usaha kulinernya dengan Bos Duren dengan memilih tempat di area eks MTQ atau Tugu Persatuan. Dia membuka usahanya mulai pukul 10.00 sampai pukul 22.00 Wita.

“Awalnya untuk mendirikan Bos Duren ini saya bismilah saja. Modal awal saya tidak sampai Rp 5 juta. Sebenarnya tidak ada inspirasi saya ketika membuka usaha kuliner ini, tetapi semua itu lahir dari hasil diskusi saya dengan sang istri. Karena istri saya adalah penggemar durian begitu juga saya pribadi.

Sehingga atas dasar itulah saya mencoba angkat menu durian yang disukai banyak orang, Pada waktu itu saya mencoba angkat menu sup durian,” ungkap Muhamad Yusri ditemui Senin (30/1).

Yusri mengaku dana yang dia jadikan modal usaha yang jumlahnya tidak sampai Rp 5 juta berasal dari sisa gaji saya ketika bekerja sebagai karyawan Bank Mega.

Dia menjual produknya dengan harga variatif yakni dari harga Rp 15 ribu sampai Rp 100 ribu. Untuk menjaga kualitas produknya, Yusri mengaku mendatangkan buah durian dari Medan, karena sebab perbandingan rasa dan kualitasnya jauh lebih baik. Apa lagi menu yang dijualnya lebih mengutamakan kualitas, bukan semata-mata sup durian toh.

Soal motivasinya membuat usaha, dia mengaku tak ada pengalaman, tapi dia punya modal pengalaman berorganisasi saat kuliah. “Pengalaman inilah yang membuat tekad dan kemauan saya semakin bulat untuk meninggalkan profesi lama dan membuka usaha kuliner,” paparnya.

Setelah melalui perjuangan dan usaha kerasnya, akhirnya menuai hasil. Kini usaha keliner terus mengalami kemajuan dan semakin dikenal masyarakat, sehingga memiliki pelanggan tersendiri.

Dia mengaku kesusesan yang diraihnya bukan semata karena perjuangan sendiri, tetapi berkat dukungan dari sang istri, Dian Riani Pratiwi. “Dia selalu memberikan dukungan penuh bahkan sang istrilah yang mengusulkannya untuk membuka usaha walaupun kecil yang penting berkah,” ujarnya.

Ia mengaku sangat senang dan bersyukur karena semua pengorbanan yang dilakukannya tidak sia-sia, selain itu dia juga memiliki waktu yang lebih banyak bersama keluarga. Sehingga, lanjutnya, apa yang menjadi landasan utamanya untuk meninggalkan profesinya sebagai karyawan Bank Mega yang semata untuk dekat dan bersama keluarga bisa terkabulkan.

“Kalau omset sih setiap harinya lumayan besar yakni berkisar Rp 5-10 juta perharinya. Sebab hitung-hitungnya perhari yang datang itu sebanyak 300 orang dan semua rata-rata memesan sup duren perporsinya saya jual Rp 15 ribu, itupun sudah musim hujan. Kalau bukan musim hujan yang datang belanja setiap harinya mencapai 600 orang,” katanya.(cr6/lex)

To Top