Korban Tembakau Gorila di Kendari 80 Persen Pelajar #Sultra Juara I Provinsi Pemakai Narkoba di Kalangan Pelajar – Berita Kota Kendari
Beranda

Korban Tembakau Gorila di Kendari 80 Persen Pelajar #Sultra Juara I Provinsi Pemakai Narkoba di Kalangan Pelajar

Ketgam: Murniati. (Foto: Nirwan/BKK)

KENDARI, BKK – Orangtua sebaiknya lebih waspada dan lebih intens dalam mengotrol anaknya, agar terhindar dari tembakau gorila yang oleh Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Kendari disebut medusa. Nama kimianya dinamakan dengan ganja sintetis.

Kepala BNNK Kendari Murniati mengungkapkan itu, Selasa (24/1), saat ditemui wartawan koran ini. Tembakau gorila bentuknya seperti rokok pada umumnya, yang dapat dipesan secara online dengan harga Rp 50 ribu per linting.

Kata dia, pihaknya sontak terkejut karena tembakau gorila yang ketika diisap dua kali sudah dapat menyebabkan mabuk bahkan pingsang selama tiga jam.

Akhir 2016 sebanyak enam siswa yang duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA) dilaporkan memakai medusa.

“Enam siswa yang positif memakai tembakau gorila bukan hasil dari razia yang kami lakukan, tapi di sekolah yang bersangkutan yang melaporkan ke kami. Memang, kami sudah melakukan kerja sama dengan dinas pendidikan dan kebudayaan (dikbud) dan pemkot, sehingga apa pun yang terjadi mereka langsung cepat melaporkan ke kami,” ungkapnya.

Diungkapkan, pihaknya sudah melakukan assesmen kepada seluruh siswa yang memakai tembakau gorila itu.

“Kita sekarang dalam pengembangan. Untuk mengantisipasi penyebaran tembakau gorila ini, kita sudah membuat program-program pencegahan di seluruh lini, bahkan di sekolah kami sudah membentuk kurikulum yang terintegrasi materi tentang narkoba. Kami juga membentuk satuan tugas (satgas). Jadi, memang saya mengakui bandarnya tembakau gorila sudah berada di Kendari,” paparnya.

Jadi, lanjut dia, tim penyidik pun, baik pihak kepolisian maupun BNNK, bisa memberikan hukuman terhadap siswa yang memakai tembakau gorila.

“Untuk di Kendari memang kalangan pelajar yang paling banyak penyalahgunaan penggunaan obat terlarang. Itu berdasarkan penelitian yang dilakukan Universitas Indonesia (UI) menyebut Sulawesi Tenggara (Sultra) menjadi juara satu dari 34 provinsi untuk pemakai narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa. Untuk itu memang harus diantisipasi,” ujarnya.

Dan itu, menurut dia, benar terbukti adanya. Sebab, kata dia, yang datang di kliniknya lebih banyak pelajar, sekitar 80 persen.

“Saya berpesan para lingkup pendidik mulai dari TK sampai SMA, jauhi yang namanya narkoba, dan hati-hati dalam pergaulan. Karena, kita tidak pernah tahu teman yang sangat setia mendapingi kita, ternyata dia yang akan menjerumuskan kita,” imbuhnya.

Ia juga meminta kepada para orangtua untuk tidak lepas kontrol terhadap anak-anaknya.

“Sebab, waktu di sekolah hanya delapan jam. Maka di keluargalah yang lebih utama. Bila perlu, para orangtua mesti melihat lebih jauh aktivitas anaknya baik di rumah maupun di luar rumah. (cr6/c/iis)

To Top