Lingkar Sultra

PKK Butur Bertekad Berantas Buta Alquran

DARSO/BKK
Sitti Rabiah Umar

BURANGA, BKK – Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten Buton Utara (Butur) menyatakan salah satu sasaran program prioritas urusan pendidikan berupa bebas buta Alquran. Hal ini juga merupakan langkah untuk mewujudkan Butur sebagai daerah religius, sebagaimana visi misi pemerintahan Bupati Abu Hasan dan wakilnya Ramadio.

Ketua PKK Butur Sitti Rabiah Umar ketika diwawancarai di Ereke, Jumat (20/1) mengatakan, pemberantasan buta huruf Alquran akan dimulai dari anak-anak sekolah, kemudian kepada masyarakat umum.

Di mana, bagi siswa yang masuk di SMP, maka syaratnya harus tes baca tulis Alquran, sehingga ketika SMA sudah pasti tahu baca tulis Al Qur’an. Oleh karena itu, pihaknya telah membentuk sekolah Madrasah Tahmiliah.

“Jadi anak-anak pagi ke sekolah formal, sore sekolah di Madrasah. Di situ diajar mengaji, menulis. Ini sekolah semi formal, karena terstruktur. Ada kurikulumnya, tapi hanya tiga tahun saja. Bagi anak-anak yang sudah mengaji pulang ke rumahnya, mungkin di rumahnya belum ada yang tahu mengaji, mereka lah yang nanti mengajarkan,” paparnya.

Meskipun anak-anak merupakan tanggung jawab sekolah, dalam hal ini guru agamanya untuk mengajar anak didiknya mengaji, namun tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada pihak sekolah formal. Sebab, tenaga pendidik di bidang agama sangat terbatas.

Untuk mewujudkan praktek tes baca tulis tersebut, pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) Butur. Utamanya membahas tentang salah satu syarat ini untuk masuk SMP.

Kemudian kepada masyarakat umum, pihak PKK melalui Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) akan mendata masyarakat yang buta huruf Alquran melalui pengajian. Di situ bisa dilihat, mana yang belum bisa mengaji, untuk selanjutnya diberikan pengajaran.

Namun sebelum itu, akan terlebih dahulu memulai diinternal pengurus BKMT. Sebabnya, bisa saja pengurus BKMT belum ada yang bisa mengaji. Bahkan mungkin juga pengurus PKK ada yang belum bisa mengaji. Setelah itu bisa lagi bergeser kepada bapak-bapaknya.

“Semuanya itu tergantung dari Bupati. Apakah dibuatkan Peraturan Bupati. Mudah-mudahan setuju. Kita sementara koordinasikan akan hal ini. Jadi semua warga harus bisa baca tulis Alquran, baik itu anak-anak maupun sudah tua. Belum ada kata terlambat untuk belajar,” imbuhnya. (k5/c/aha)