Komitmen Anti Korupsi Cawali Belum Jelas # Pegamat Lingungan Nilai Visi Lingkungan Cawali Lemah – Berita Kota Kendari
Headline

Komitmen Anti Korupsi Cawali Belum Jelas # Pegamat Lingungan Nilai Visi Lingkungan Cawali Lemah

KENDARI, BKK – Aktivis anti korupsi yang juga Direktur Pusat Anti Korupsi (Pukat) Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK), Hariman Satria SH MH menyatakan, menilai komitmen para calon wali kota (cawali) Kendari belum jelas saat acara debat visi misi dan program yang diselenggarakan KPU Kota Kendari, 28 Desember 2017 lalu.

“Isu anti korupsi seperti senyap. Tidak tampak dari visi misi dan program para cawali. Padahal isu itu dimasukan sebagai salah satu materi debat,” kata Hariman kepada jurnalis Berita Kota Kendari (BKK) melalui telepon selulernya, Minggu (1/1).

Foto: Hariman

Menurut dia, isu korupsi harusnya menjadi isu yang hangat diperdebatkan para calon, karena Kota Kendari adalah kota jasa, yang memiliki potensi terjadinya praktik korupsi.

“Daerah-daerah yang sumber pendapatannya mayoritas dari sektor jasa, sangat besar potensi praktik korupsinya. Karena sering terjadi transaksi antar pemerintah pihak swasta. Sehingga mestinya tergambar komitmen dan program mereka dalam pemberantasan korupsi,” tegasnya.

Hariman menilai belum jelasnya komitmen para cawali dalam debat itu karena pertanyaan dari panelis tidak tajam mempertanyakan visi misi mereka di bidang pemberantasan korupsi. Walaupun moderator sudah memancing, katanya, tapi pertanyaan yang diajukan terlalu normatif.

Hariman berharap pada debat kedua nanti panelis lebih tajam dalam memberikan pertanyaan kepada paslon untuk membongkar visi misi dan programnya.

Hariman sepakat dengan pakar komunikasi politik Dr Muh Najib bahwa, proses debat dalam putaran pertama sangat buruk. “Itu bukan debat yang kreaktif. Biasa saja. Kita berharap masing-masing paslon bisa saing adu argumen dan adu gagasan termasuk soal anti korupsi,’ katanya.

Pengamat lingkungan pun ikut kecewa dengan proses debat putara pertama. Pegamat lingkungan dari Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan UHO, Safril Kasim SP MES menyatakan, visi dan misi lingkungan ke tiga paslon masih sangat kurang.

Fotoi : Safril Kasim

“Mungkin moderator kurang angkat itu. Tapi pada saat saya menonton live di TV, masih sangat kurang visi lingkungan Paslon yang maju ini,” ungkap Safril, kepada jurnalis BKK melalui telepon selulernya, Senin (2/1).

Menurut dia, harusnya isu lingkungan menjadi prioritas calon. Sebab, selama ini para calon meneriakan kota layak huni dan kota layak tinggal, tapi perhatian terhadap lingkungan sangat minim.

“Mereka selalu bicarakan kota layak huni. Bagaimana mau jadi kota layak huni, sementara kita satu jam saja hujan sudah tergenang,” kritik Safril.

Kota layak huni dan nyaman itu tergantung kualitas lingkungannya. Untuk itu menurut dia, Paslon harusnya mengusung isu kelayakan ekologi yang menjadi bagian utama pendukung terciptanya kota layak huni.

“Layak huni itu terkait dengan kenyamanan lingkungan. Bagaimana bicara layak huni sementara kita kebanjiran, air bersih berlimpah tapi keruh. Kalau air sudah keruh, itu menunjukan kualitas air kita tidak bagus,” paparnya.

Safril memaparkan, mewujudkan Kota Kendari yang nyaman dan layak huni mempunyai beberapa kriteria. Satu diantara kriteria yang penting adalah kelayakan ekologis kota. Beberapa indikator kelayakan ekologis kota adalah proporsi ruang terbuka hijau (RTH) dibanding total luas kota.

“Seusai UU No 26 thn 2007 mensyarakat suatu kota harus memiliki proporsi 30 persen RTH dengan komposisi 20 persen RTH publik dan 10 persen RTH privat. RTH mempunyai fungsi menyerap gas gas cemaran aktivitas industri, transportasi dan aktivitas domestik kota,’ jelasnya.

Dikatakan, melihat kecenderungan Kota Kendari yang terus berkembang di sektor jasa dan industri, RTH menjadi syarat mutlak kenyamanan ekologis kota.

Safril menambahkan, persoalan persoalan banjir dan kekeringan menjadi issu ekologis yang perlu distressing oleh calon calon pemimpin kota kedepan. Tingginya aliran permukaan di musim penghujan mengindikasikan daya serap vegetasi semakin berkurang. Kualitas air bersih yg kita terima menjadi berkurang/keruh.

“Fakta lain adalah banjir bandang yang menenggelamkan hampir 70 persen wilayah kota pada tahun 2013. Perlu penanganan yang serius pada DAS-DAS penting yang mengitari Kota Kendari,’ ujarnya.

Menurutnya, pengelolaan yang tepat kawasan konservasi tahura Nipa Nipa dan hutan lindung Nanga Nanga menjadi krusial, karena dua kawasan ini menjadi benteng utama ekologis Kota Kendari.

“Koordinasi dan sinergitas program dengan pemprov dann pemerintah pusat menjadi kata kunci. Selain itu, penataan dan interkoneksitas drainase kota pada satu titik mengumpul hujan dengan titik lainnya menjadi penting,” ujar alumnus program pascasarjana bidang lingkungan universitas York Canada ini.

Mengenai reklamasi teluk Kendari sebaga icon Kota Kendari, menurutnya harus dipikirkan matang matang agar tidak terjadi dampak lingkungkan yang memilukan kedepan. Pertimbamgan ekologis harus diutamakan misalnya peran hutan mangrove dibibir teluk sangat strategis untuk menjerap sedimen dari sungai Wanggu dan sekitranya.

“Disamping tentu saja akan menambah nuansa hijau teluk dan menjadi habitat yang nyaman bagi sejumlah biota teluk. The last, but not the least, kawasan RTH yang tertata dengan baik, kawasan hutan, dan kawasan teluk Kendari dapat didorong menjadi destinasi ekowisata bagi masyarakat dan tentu saja berpihak pada ekonomi rakyat dengan tetap mengedepankan aspek kelestariannya,” tutupnya.(m2/b/lex)

 

To Top