Headline

Kemampuan Paslon Belum Maksimal # Bukan Debat Menarik, Baru Sebatas Penyampaian Visi, Misi, dan Program

Foto: Muh Najib Husain

KENDARI, BKK – Pakar komunikasi politik Universitas Halu Oleo (UHO), Dr Muh Najib Husain MSi, menilai para pasangan calon (paslon) wali kota dan wakil wali kota Kendari belum mengeluarkan  kemampuannya secara maksimal dalam forum debat putaran pertama yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Kendari, di Grand clarion Hotel Kendari, Rabu (28/12) malam.

“Penyampaian para calon masih normatif, biasa-biasa saja. Belum menampilkan hal-hal solutif bagi pembangunan Kota Kendari. Sehingga acara itu tidak terkesan sebagai debat, tetapi hanya penyampaian visi, misi, dan program dari paslon,” kata Najib kepada Berita Kota Kendari (BKK)  di Kendari, Kamis (29/12).

Menurut doktor lulusan Universitas Gajah Mada (UGM) ini, menurut pengamatan dia penguasaan panggung para kontestan masih rendah, demikian pula materi visi, misi, dan programnya belum sepenuhnya dikuasai secara mendalam.

Sehingga ketika panelis atau calon lain bertanya, katanya mantan aktivis HMI ini, mayoritas paslon menjawab dengan bahasa berbelit-belit, tidak fokus, bahkan cenderung lari dari inti pertanyaan.

Menurut Najib, dia tidak melihat makna sesungguhnya dari debat, tetapi hanya formalitas dari penyampaian visi, misi, dan program. “Yang kita harapkan sebenarnya, ada proses debat, dimana diantara paslon saling membongkar misi, misi, dan program yang dipaparkan. Tapi proses itu kita tidak saksikan, padahal moderator sudah berusaha memancing dan mengantarnya. Sayang kita mendatangkan moderator berkelas nasional, tapi ternyata debatnya biasa-biasa saja,” kata Najib.

Najib menguraikan, para paslon belum menggunakan speaking public yang baik, khususnya bagaimana memanfaatkan forum itu untuk menggunakan komunikasi verbal dan non verbal mereka.

“Mayoritas hanya komunikasi verbal. Tapi komunikasi non verbalnya tidak muncul. Misalnya, gerak tubuh, mimik wajah, sorotan mata mereka biasa-biasa saja, tidak dieksplor,” katanya.

Demikian pula dalam mendebat lawannya, semua paslon tidak mampu mengkritisi secara mendalam terhadap program dari lawannya. Hal ini tampak saat sesi tanya jawab antar paslon di sesi ke empat dan lima.

Dari proses debat pertama ini, Najib memberikan nilai kepada semua paslon di angka 7, alias kekuatan berimbang, tak ada yang menonjol. Dengan angka ini, menurutnya, belum cukup kuat untuk mempengaruhi pemilih khususnya pemilih yang belum menentukan sikap (swing voter) dan pemilih pemula.

“Saya kira pemilih yang belum menentukan sikap dan pemilih pemula belum bisa menentukan sikapnya berdasarkan debat putaran pertama semalam. Apalagi di Kota Kendari mayoritas pemilihnya cerdas, yang akan sangat dipengaruhi dari proses debat seperti itu,” katanya.

Melaihat realitas ini, Najib menyarankan konsultan politik dari semua paslon agar menggreat kemampuan paslonnya, terutama dalam penguasaan materi visi misi dan programnya, serta materi lain terkait dengan tema debat yang telah ditetapkan KPU.

“Paslon juga harus lebih meningkatkan kemampuannya dalam penguasaan panggung, komunikasi non verbal, dan lebih berani membongkar  atau mengkritisi calon lain. Sehingga kita masyarakat benar-benar bisa menyaksikan debat yang kreaktif, dinamis, sengit, dan berisi,” tegasnya.

Menurutnya, sebenarnya paslon memiliki personal branding yang bisa menjadi kekuatan. Dia mencontohkan, paslon nomor satu personal brandingnya legislator berpengalaman, paslon nomor dua, calon muda, dan paslon nomor tiga dengan personal brandingnya birokrat mapan.

“Personal branding harus dijadikan kekuatan sehingga bisa melahirkan hal-hal yang dianggap benar-benar tepat bagi solusi pembangunan Kota Kendari. Jangan menjadikan situasi kota lain sebagai latar belakang, tapi harus menguasai semua permasalahan dalam Kota Kendari,” katanya.

Dia menyebutkan, paslon nomor satu sebagai legislator berpengalaman mengungkapkan dengan segala pengalamannya dapat melahirkan program yang tepat bagi Kota Kendari ke depan. Demikian juga nomor dua, sebagai calon muda, memaparkan berbagai kreaktivitasnya untuk Kota Kendari yang lebih baik. Dan paslon nomor tiga, dengan pengalamannya sebagai birokrat harus tampil lebih solutif bagaimana pembangunan Kota Kendari.

Senada dengan Najib, anggota Ombudsman Republik Indonesia (ORI) perwakilan Sultra, La Ode Hasidin Samada SSos juga menilai penampilan paslon wali kota masih normatif, belum ada rencana program yang nyata sebagai solusi dalam pembangunan Kota Kendari lima tahun ke depan.

Dia mencontohkan, dalam pelayanan publik, apalagi di Kota Kendari ini masih banyak masalah dalam pelayanan publik, tapi semua calon tak satu pun yang menawarkan jalan keluarnya seperti apa.

“Jawaban hanya normatif, akan melaksanakan sesuai aturan. Itu kan bukan jawaban yang pas. Mestinya menjawab dengan langkah-langkah apa yang harus dilakukan, sehingga lebih kongrit dan jelas,” katanya. (lex)

To Top