Pemprov. Ambil Kembali Tugu Eks MTQ – Berita Kota Kendari
Headline

Pemprov. Ambil Kembali Tugu Eks MTQ

IST
KEMBALI DIKELOLA PEMPROV. Kawasan Tugu eks MTQ Kendari akan dikelola kembali oleh Pemprov Sultra setelah bertahun-tahun dikelola oleh Pemkot Kendari.

KENDARI, BKK– Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara akan mengambil kembali pengelolaan Tugu eks Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Kendari dari Pemerintah Kota Kendari. Pengambilalihan ini dikarenakan Pemkot dinilai kurang serius mengelola landmark Kota Kendari tersebut.

Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kota Kendari, Nahwa Umar mengakui adanya rencananya pengambil alihan kembali kawasan Tugu eks MTQ yang juga dikenal dengan sebutan MTQ Square atau Tugu Religi ini. Menurutnya, pihak Pemprov Sultra sudah menyampaikan keinginannya melalui surat resmi kepada Pemkot Kendari, beberapa waktu lalu.

“Saya sudah mendengar kabar terkait pengambil alihan MTQ Squer lawat telepon genggam saya. Bahkan pihak Pemprov juga sudah bersurat langsung ke Wali Kota Kendari Asrun,” ujar Nahwa yang ditemui di ruang kerjanya, Selasa (20/12).

Pada prinsipnya, lanjut dia, Pemkot tidak mempermasalahkan jika Pemprov mengambil alih kembali kawasan Tugu Eks MTQ tersebut. Apalagi, Pemkot memang tidak pernah meminta untuk mengelola kawasan itu. Menurutnya, pelimpahan pengelolaan Tugu eks MTQ sebelumnya hanya dilakukan begitu saja oleh Pemprov Sultra.

Nahwa mengakui alasan Pemprov mengambil alih kembali kawasan itu karena Pemkot dinilai tidak melakukan perawatan serta minimnya Pendapatan Asli Daerah dari pengelolaan bisnisnya. Namun Nahwa menjelaskan, saat kawasan Tugu eks MTQ berada di bawah kendali Pemkot, maka pengelolaannya berdasarkan peraturan daerah yang dibuat oleh Pemkot Kendari.

“Memang dalam pengelolaan MTQ Square kita harus menyesuaikan dengan peraturan daerah (Perda) Kota Kendari. Kita tidak bisa berpatokan pada Perda Provinsi. Sebab yang kelola adalah Pemkot, jadi dalam pengelolaan harus berlandaskan pada Perda Kota Kendari,” jelasnya tanpa menyebut seperti apa maksud dari Perda tersebut.

Jika yang disinggung karena Tugu eks MTQ nampak kumuh dan tidak terawat, itu karena saat penyerahan pengelolaan kondisi Tugu eks MTQ sudah seperti itu. Dia juga menegaskan penataan UKM (Usaha Kecil Menengah), utamanya warung makanan, Pemkot memang sengaja tidak mengganggunya.

“Kita di kota tidak ada yang namanya pembongkaran. Karena kalau kita melakukan pembongkaran, kita harus menyiapkan tempat pengganti bagi para pedagang. Apalagi Wali Kota Kendari selalu meminta kepada kami untuk memanusiakan para pedagang,” tambahnya.

Saat penyerahan pengelolaan, ada perjanjian PAD yang diperoleh dari pengelolaan kawasan Tugu Eks MTQ dibagi dengan persentase 75 persen untuk Pemkot Kendari dan 25 persen untuk Pemprov Sultra. Nahwa pun mengakui hal ini.

Namun minimnya bagi hasil PAD ke Pemprov, itu juga dikarenakan Pemkot tidak pernah berpikir untuk memungut retribusi dengan cara yang memberatkan para pedagang kecil yang mencari hidup di kawasan tersebut. Pemkot, tegas dia, menginginkan agar para pedagang bisa beraktivitas dengan nyaman tanpa ada tekanan soal retribusi.

“Yang kita tekankan kepada para pedagang agar mereka menjaga kebersihan,” kuncinya.

Karena itu, kata dia, pengambil alihan kawasan Tugu eks MTQ ini tidak akan memengaruhi PAD Kota Kendari. Karena memang jumlahnya sangat sedikit.

Sementara Ketua Komisi I DPRD Sultra, Suwandi Andi menganggap pengambilalihan sebuah aset dari Pemprov ke Pemkot merupakan hal yang biasa. Untuk Tugu Eks MTQ, kata dia, Pemprov Sultra dan Pemkot Kendari harus bersinergi karena itu merupakan ikon kebanggaan masyarakat Sultra.

“Kita kan ada dua sentral kekuasaan pemerintahan, yaitu Pemprov dan Pemkot. Saya kira dua pemerintahan ini bersinergi lah membangun. Karena semua menginginkan adanya peningkatan ekonomi masyarakat dan akselerasi pembangunan,” kata Ketua Fraksi PAN ini saat dihubungi Berita Kota Kendari tadi malam.

Dia mengingatkan, siapapun yang mengelola kawasan Tugu eks MTQ tersebut, harus dilakukan dengan tujuan meningkatkan kehidupan bermasyarakat yang lebih baik. “Kalau saya sangat yakin pengelolaan Tugu eks MTQ tujuannya seperti itu. Apalagi saat ini kan sudah ada pengerjaan di sana. Nantinya akan lebih sempurna lagi,” jelasnya.

Apakah dengan diambilalihnya kembali Tugu eks MTQ ini ke Pemprov akan berkonsekuensi pada anggaran, Suwandi memastikan hal tersebut. Sebab menurutnya, memang kawasan itu masih membutuhkan anggaran agar nampak lebih baik lagi.

“Tempat itu kan sudah dinikmati publik. Jadi pemerintah memang harus memeliharanya dengan baik agar menjadi tempat yang nyaman bagi warga,” pungkasnya.

Mengenai keberadaan para pedagang di sekitar lokasi kawasan, Suwandi yakin akan lebih baik lagi penataannya. Menurutnya, kehadiran para pedagang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kawasan tersebut.

“Ada saling memberi dan menerima manfaat dari aktivitas pedagang dan masyarakat di sana. Saya sangat tahu itu karena kebetulan saya ketua pembina mereka di sana,” katanya.

Perjalanan Tugu MTQ

Kawasan Tugu eks MTQ awalnya dibangun oleh Gubernur Sulawesi Tenggara, Ali Mazie di atas lahan seluas lima hektar pada 2006 lalu. Dinamakan Tugu MTQ karena saat diresmikan bertepatan dengan pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur`an (MTQ)Tingkat Nasional XXI di mana Kota Kendari menjadi tuan rumah.

Namun sebenarnya, tugu yang dirancang oleh Ramadhan Pomanto yang kini menjadi Wali Kota Makassar itu, ditujukan sebagai simbol persatuan masyarakat Sulawesi Tenggara yang dihuni oleh multietnis. Karena itu, tugu ini awalnya dinamakan sebagai Tugu Persatuan.

Simbol budaya dari beragam etnis di Sultra ini pun tergambar di hampir setiap bagian tugu. Seperti dasar menara yang di desainnya dibuatkan kolam bulat yang melambangkan Kalosara, yang merupakan lambang pemersatu suku Tolaki. Ada juga lima tiang penyangga yang melambangkan Pancasila.

Di atas tiang penyangga, terdapat sebuah seperti bola dengan lima tiang kecil menghadap ke atas. Lima tiang ini juga merupakan simbol lima etnis dominan di Sultra, yakni Tolaki, Muna, Buton, Moronene dan Bugis.

Tugu tersebut memiliki tinggi 99 meter. Itu juga merupakan simbol religi dari 99 Asmaul Husna.

Saat Ali Mazie digantikan oleh Nur Alam sebagai Gubernur Sultra berikutnya, Tugu MTQ ini tak dilanjutkan lagi pembangunannya. Padahal beberapa bagian dalam tugu belum sepenuhnya rampung, terutama lantai, kolam, tangga dan lift. Padahal dalam tugu ini awalnya didesain sebagai museum diorama sejarah perjalanan Sulawesi Tenggara.

Nur Alam lebih fokus membenahi kawasan di sekitar tugu dengan membangun pelataran yang sangat luas. Pelataran ini kemudian dijadikan alun-alun Kota Kendari, dan setiap akhir pekannya diisi even-even massal yang digelar oleh sejumlah instansi. Di malam minggu, tempat ini juga menjadi salah satu tempat favorit warga. (cr6/c/aha)

To Top