Catatan dari Penelusuran Hutan Perbatasan Kolaka – Koltim Kali Putih yang Tetap Jernih Meski Musim Penghujan – Berita Kota Kendari
Aneka

Catatan dari Penelusuran Hutan Perbatasan Kolaka – Koltim Kali Putih yang Tetap Jernih Meski Musim Penghujan

ABDUL RAHIM/BERITA KOTA KENDARI
Tim Terpadu Kecamatan Mowewe, Kolaka Timur, saat melakukan ekspedisi penelusuran hutan di wilayah Kolaka – Kolaka Timur, Sabtu (17/12)

Ada beberapa hal menarik yang ditemukan Tim Terpadu Kecamatan Mowewe, Kolaka Timur, saat melakukan ekspedisi penelusuran hutan di wilayah Kolaka – Kolaka Timur, Sabtu (17/12) lalu. Diantaranya legenda kampung tua, Desa Lambotua serta Kali Putih.

Laporan : Abdul Rahim
TIRAWUTA
Perjalanan yang cukup melelahkan. Inilah yang tergambar dari ekspedisi singkat tim terpadu yang terdiri dari aparatur Kecamatan Mowewe, dinas kehutanan serta masyarakat setempat. Jurnalis Berita Kota Kendari juga ikut bergabung bersama tim yang berjumlah sepuluh orang, dan dipimpin oleh Camat Mowewe, Wasiruddin S Sos.

Tujuan utama dari ekspedisi ini untuk memastikan tapal batas antara Kolaka dan Kolaka Timur, serta meninjau langsung kondisi hutan di wilayah perbatasan tersebut. Perjalanan ke titik tapal batas pun cukup menguras energi. Karena harus menempuh medan berat pebukitan berupa tanjakan dan penurunan. Kadang harus melalui hutan lebat, dan kadang tempat terbuka dengan sengatan matahari siang.

Setelah berjalan sejauh enam kilometer dengan waktu tempuh sekitar 3,5 jam, tim akhirnya berhasil mencapai titik koordinat perbatasan Kolaka – Koltim. Meski perjalanan ini sangat melelahkan, namun pihak kehutanan merasa puas. Sebab secara umum, kondisi hutan di perbatasan yang masuk kategori hutan lindung, masih terlihat asri dan ekosistemnya terjaga secara alami.

Hanya saja, sudah ada kegiatan perambahan hutan yang dipastikan illegal logging. Perambahan hutan itu sudah banyak terjadi daerah Kolaka, dan mulai masuk ke Kolaka Timur.

“Secara umum, kondisi hutan lindung di perbatasan ini cukup baik. Tapi yang agak mencemaskan kita karena sudah ada perambahan liar yang sudah mulai masuk ke Kolaka Timur. Sudah ada sekitar setengah sampai 1 hektar hutan kita yang dirambah, jika melihat dari titik koordinat perbatasan. Ini tentu akan menjadi laporan kami nantinya,” kata Kepala Kesatuan Pemangku Hutan Lindung Ueesi, Kecamatan Mowewe, Agus.

Camat Mowewe, Wasirudin pun mendukung pelaporan tersebut. Dia menegaskan, ilegal loging tak boleh dibiarkan.

“Ini tidak saja menjadi perhatian (Pemkab) Kolaka Timur, tetapi juga Kolaka,” katanya Selain meninjau kondisi hutan, perjalanan ini juga sebenarnya untuk mencari objek wisata yang tersembunyi di Desa Lambotua. Sebelum berangkat, ada beberapa legenda warga mengenai tempat-tempat yang indah, seperti air terjun di Desa Lambotua serta danau di atas pebukitan yang disebut sebagai Air Nebeko.

Sayangnya, singkatnya waktu perjalanan membuat tim belum bisa berkunjung ke air terjun atau pun Air Nebeko. Namun saat singgah di Desa Lambotuo, ada beberapa legenda yang dikisahkan oleh warga setempat.

Yang pertama adalah asal usul Desa Lambutuo sendiri. Menurut Hadrianus Lewi, tokoh masyarakat setempat, Desa Lambotua sebelum mekar dari Desa Puosu, dulunya dikenal sebagai perkampung tua. Lambotua sendiri memang berarti perkampungan tua dalam bahasa lokal.

“Saat mekar dari Puosu, masyarakat sepakat untuk menamakan desa ini Lambo Tua,” kata Hadirianus yang kini ikut mencalonkan diri di Pilkades Lambotua.

Peradaban dari Lambotua masih bisa terlihat dari rumah-rumah tua yang masih tersisa. Pada tahun 1950an, saat pemberontakan DI/TII pecah, kampung ini sempat lama ditinggalkan penghuninya.

“TNI waktu itu meminta agar warga mengungsi karena kampung itu sudah dikuasai gerombolan. Itu juga memudahkan TNI untuk menumpas pergerakan mereka tanpa jatuhnya korban dari rakyat sipil. Jadi kampung ini sempat kosong dalam waktu yang lama,” ceritanya.

Setelah gerombolan DI/TII meninggalkan Lambotua, penduduk aslinya tidak langsung balik. Mereka tetap menetap di Mowewe.

Hingga beberapa tahun setelahnya, lanjut Hadriansyah, ada beberapa pendatang dari Sulawesi Selatan yang berkunjung ke Mowewe, lalu meminta izin kepada tetua adat untuk menempati Lambotua. Mereka pun diizinkan untuk mengisi kampung tersebut.

“Sekarang Lambutoa sudah ada ratusan orang. Kalau wajib pilihnya sekitar 250 orang,” katanya.

Menurut Hadriansyah, selain air terjun dan Danau Nabeko yang indah, keunikan alam yang dimiliki Desa Lambotua adalah Kali Putih. Kali ini berada tidak jauh dari permukiman warga desa.

Dinamakan Kali Putih karena airnya yang selalu jernih meski musim penghujan tiba. “Kalau sungai lain, biasanya airnya coklat atau keruh kalau turun hujan deras. Kalau Kali Putih tidak pernah begitu. Airnya selalu jernih biar hujan bagaimana kerasnya,” kata Hadriansyah.

Penjelasan Hadriansyah mengenai keunikan Kali Putih ini pun dihubungkan dengan kondisi alam di desa tersebut yang masih asri. (*/d/aha)

To Top