Bisnis & Ekonomi

Perekonomian Sultra Bakal Membaik di 2017

foto-kepala-kpw-bi-sultra-bersama-sejumlah-pejabat-daerah

FOTO BERSAMA. Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sultra, Dian Nugraha dalam sesi foto bersama dengan para pejabat Pemerintah Provinsi Sultra dan Pemkot Kendari, dalam acara Pertemuan Tahunan BI 2016, di Plaza Inn Hotel Kendari, Senin (5/12) malam.

KENDARI, BKK- Perekonomian di Sulawesi Tenggara diperkirakan akan tumbuh dengan baik pada 2017, sekalipun saat ini masih terjadi perlambatan ekonomi global yang berimbas pada ekonomi nasional. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sendiri di tahun 2016 ini diperkirakan sekitar 5,0 persen, cukup mengesankan bila dibandingkan capaian negara lain.

Kepala Perwakilan Wilayah (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Dian Nugraha mengatakan, inflasi Indonesia di akhir 2016 diperkirakan berada pada level yang relatif rendah, yaitu sekitar 3,0 – 3,2 persen. Laju inflasi tersebut masih lebih baik dari inflasi 2015 yang mencapai 3,4 persen.

“Perekonomian domestik yang tetap kondusif dan inflasi yang tetap rendah tidak lepas dari konsistensi dan sinergi kebijakan pemerintah dan BI dalam menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong permintaan domestik,” ujar Dian Nugraha dalam acara Pertemuan Tahunan BI 2016 di Plaza Inn Hotel Kendari, Senin (5/12) malam.

Dian mengatakan, di tingkat regional, pada 2016 ekonomi Sultra diperkirakan tumbuh 6,2 persen atau lebih rendah jika dibanding pertumbuhan 2015 yang tercatat 6,9 persen. Capaian tersebut masih lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi secara nasional.

Sementara itu, laju inflasi akan berada pada kisaran yang rendah yakni pada kisaran 3,3 sampai 3,7 persen pada akhir 2016. Capaian tersebut tidak lepas dari semakin baiknya koordinasi dan kerja sama yang terbangun dalam wadah tim pengendalian inflasi daerah yang saat ini sudah terbentuk di seluruh kota/kabupaten di Sultra.

“Kondisi makro ekonomi Sultra yang stabil dan kondusif tersebut ditopang oleh terjaganya kinerja perbankan yang ada di wilayah Sultra, terutama dalan penyaluran kredit,” ungkap Dian Nugraha.

Ia menambahkan, sampai September 2016, penyaluran kredit perbankan tumbuh 15,8 persen (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan kredit secara nasional yang mencapai 6,5 persen (yoy). Sementara dalam penghimpunan dana masyarakat, lanjut Dian Nugraha, hingga posisi akhir September 2016 jumlah DPK tumbuh sebesar 3,8 persen (yoy).

“Secara umum intermediasi dana oleh perbankan masih berjalan baik, didukung oleh terkendalinya risiko kredit bermasalah di mana rasio NPL gross perbankan di Sultra yang tercatat hanya sebesar 2,79 persen,” tuturnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Sultra, H Saleh Lasata mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Sultra masih dominan bertumpu pada sektor pertanian dalam arti luas. Selain itu juga ditopang oleh konsumsi rumah tangga, swasta, dan terkait dengan kempuan daya beli masyarakat.

“Kita patut syukuri inflasi kita juga lebih rendah dari rata-rata inflasi nasional. Ini tidak lepas dari kerja tim pengendali invlasi daerah (TPID) yang dibentuk oleh BI dalam menjaga kestabilan,” ungkap H Saleh Lasata.

Pada kesempatan tersebut, Wagub juga menyampaikan prioritas pembangunan ekonomi di 2017. Diantaranya mendatangkan investor sebanyak mungkin serta memperbaiki infrastruktur wilayah.

“Jalan provinsi sudah hampir semua kita perbaiki, sudah diatas 80 persen. Ketersediaan energi di Moramo Utara itu kita sudah tingkatkan, kemudian mempermudah perizinan melalui BPSP, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM),” tuturnya.

Ia mengakui, semua itu dilakukan dalam upaya pemerintah daerah agar pertumbuhan ekonomi Sultra tetap terjaga dengan baik. “Mari kita jaga stabilitas daerah kita dengan baik, serta mari kita jaga kebersamaan, mengedepankan toleransi, kita bekerja maksimal sesuai bidang tugas kita masing-masing. Sehingga, masyarakat Sultra sejahterah dapat terwujud,” tutupnya. (p11/b/aha)

To Top