Headline

Keluarga Korban Cari Sulfian

ft-korban-vera1

IST Almarhumah Verawati semasa hidup

PENEMUAN MAYAT PEREMPUAN BUGIL DI POASIA

KENDARI, BKK– Polisi memastikan identitas mayat perempuan yang ditemukan dalam kondisi bugil di pinggir kali di Jl Banteng, Kelurahan Rahandouna, Kecamatan Poasia, Kendari pada Senin (5/12) siang lalu adalah Verawati Fajar. Sementara pihak keluarga korban kini mencari Sulfian (29), yang membawa korban dari kampungnya menuju Kota Kendari, dua pekan sebelumnya.

Korban yang berusia 19 tahun ini diketahui merupakan warga Desa Tokai, Kecamatan Polipolia, Kabupaten Kolaka Timur. Berdasarkan keterangan pihak RSP Bhayangkara usai mengautopsi jenazah korban, Selasa (6/12) kemarin, ada dugaan korban mengalami kekerasan fisik sebelum meninggal.

Kasubbid Dokpol RSP Bhayangkara, Komisaris Polisi (Kompol) Dr Mauluddin menjelaskan ada luka lebam di wajah, leher dan beberapa bagian tubuh korban. “Untuk secara umum, tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban, umumnya pada bagian wajah dan leher. Untuk leher belum bisa disimpulkan bahwa dia dicekik atau lainnya. Tetapi nanti dengan penyidik kita akan singkronkan dengan alat bukti yang ada di TKP,” tuturnya.

Mengenai dugaan korban diperkosa, Kompol dr Mauluddin mengatakan itu masih harus didalami. Tetapi dia mengakui bahwa korban telah mengalami hubungan seksual beberapa saat sebelumnya.

“Tanda-tanda kekerasan seksual itu juga masih didalami lagi. Yang tentunya untuk mencari tahu siapa-siapa yang diduga atau tersangka, itu nantinya akan disingkronkan dengan temuan atau fakta pada tubuh jenazah,” ucapnya.

Selain itu, diperkirakan korban meninggal pada Minggu sore atau Minggu malam. Seperti diberitakan sebelumnya, jenazah korban ditemukan pada Senin siang sekitar pukul 11.00, oleh warga setempat.

Untuk sementara ini, ada dugaan korban dihabisi di sebuah tempat, kemudian mayatnya dibawa ke pinggir kali tersebut. Informasi yang diperoleh Mauluddin, polisi sudah menemukan sebuah rumah yang tak jauh dari TKP di mana dalam rumah tersebut terdapat beberapa barang yang identik milik korban.

“Ada charger sama sendal dan rambut korban. Kami menduga korban dieksekusi di sana, lalu mayatnya dibawa ke tempat yang kemudian dia ditemukan. Saya kita penyidik akan menemukan semua koneksinya,” tuturnya.

Sementara pihak keluarga korban tampak shock saat mengetahui bahwa mayat dalam peristiwa naas itu adalah anggota keluarganya. Tampak datang ke RS adalah ayah korban, Fajar, paman korban Suwardi dan salah seorang sepupunya, Ipa.
Fajar sendiri awalnya datang ke RSP Bhayangkara hanya untuk memenuhi panggilan kepolisian untuk melihat sesosok jenazah perempuan. Tak disangka, itu adalah jenazah putri sulungnya.

“Mending saya yang mati daripada anak saya,” kata Fajar yang tampak masih terpukul atas musibah tersebut.

Fajar mengakui tidak punya firasat buruk saat diminta berkunjung ke RSP Bhayangkara. Bahkan istrinya pun tak diajaknya.
Namun tiga malam yang lalu, dia mengaku tiba-tiba terbangun dari tidur dan air matanya menetes sendiri. Saat itu, terbayang wajah Verawati. Hanya saja, dia tidak menganggap itu adalah sebuah pertanda akan kepergian putrinya tersebut.

Cari Sulfian

Sekitar dua pekan yang lalu, Verawati meminta izin kepadanya berangkat ke Kota Kendari untuk bekerja. Meski sempat merasakan berat karena anak perempuan, dia pun mengizinkannya.

Suardi (33), paman korban bercerita, Verawati merupakan tamatan SMAN 1 Polipolia, Ladongi, Koltim, tahun lalu. Vera anak pertama dari enam bersaudara, pasangan Fajar dan Tile.

“Anak ini pendiam. Kalau ada acara keluarga, dia jarang bicara,” katanya.

Dua minggu yang lalu, Verawati memang meminta izin kepada keluarganya berangkat ke Kota Kendari untuk bekerja di sebuah toko alat tulis dan kantor, yang berlokasi di depan Universitas Halu Oleo. Saat berangkat, Vera dijemput oleh sepupu dari ayahnya, Sulfian. Sulfian sendiri ini diketahui bekerja serabutan. Kadang dia menjadi sopir, kadang pula menjadi pekerja bangunan di Kota Kendari.

“Sekarang kita lagi cari Sul. Tapi tidak ditau mi di mana dia sekarang,” katanya.

Pia (19), sepupu korban juga menambahkan, Vera berangkat bersama tiga orang rekannya yang sama-sama akan bekerja di toko ATK tersebut. Namun dia tak pernah menyangka bahwa itu adalah masa-masa terakhir hidup korban. Pihak keluarga pun langsung membawa jenazah Vera ke kampung halamannya untuk dimakamkan hari itu juga.

Selidiki Rumah di Graha Asri

Di tempat terpisah, penyidik Polres Kendari yang melakukan olah tempat kejadian perkara, dilaporkan menyelidiki sebuah rumah di Graha Asri Lampareng, Blok B2, Kelurahan Rahandouna, Kecamatan Poasi. Rumah tipe 32 bercat kuning ini hanya berjarak sekitar 200 meter dari lokasi penemuan jenazah Vera.

Sebelumnya, polisi menemukan selimut, jilbab, handuk, serta ikat rambut yang merupakan milik korban di pinggir kali. Dua anjing pelacak yang diturunkan kemudian mengarahkan polisi ke rumah tersebut.

Kasat Reskrim Polres Kendari, AKP Yunar Hotman mengatakan, di rumah yang kosong itu, polisi menemukan lagi sepasang sendal serta charger ponsel. Dua barang ini juga identik dengan milik korban.

“Sampai tadi sudah ada tujuh orang saksi yang kami periksa baik itu teman-teman korban dan pihak keluarga korban. Dari hasil olah dua TKP, kita juga menemukan beberapa barang bukti di lapangan (lokasi penemuan mayat serta rumah, red),” katanya.

Informasi yang dihimpun dari Polres, rumah tersebut disebut-sebut milik salah seorang rekan Sulfian. Rekan Sulfian yang belum diketahui identitasnya ini bekerja di sebuah industri tambang di Morosi.

Hingga kini, di mana pakaian korban juga belum terungkap. Saat melakukan olah TKP, polisi memang hanya menemukan jilbab, aksesori pengikat rambut serta pengikat jilbab.

Kapolres Kendari, AKBP Sigid Haryadi mengatakan kasus ini akan menjadi atensinya. Dia berharap para penyidik sudah mendapatkan petunjuk mengenai siapa pelaku dari pembunuhan sadis ini.

“Kita sama-sama berharap semoga pelakunya cepat ditangkap,” tandasnya. (m1/a/aha)

To Top