Geliat TNI/Polri Atasi 90 Persen Nelayan Bajo yang Buta Aksara – Berita Kota Kendari
Feature

Geliat TNI/Polri Atasi 90 Persen Nelayan Bajo yang Buta Aksara

ok-foto-feature-desa-bajo-bahari

MULAI BERSEKOLAH. Anak-anak Suku Bajo di Desa Bajo Bahari, Kecamatan Wabula, Kabupaten Buton, menuju ke rumahnya masing-masing sepulang sekolah. Awalnya, 90 persen penduduk di desa ini buta aksara.

Di Kabupaten Buton, ada satu desa yang hampir seluruh penduduknya buta aksara alias tidak bisa baca tulis. Jumlah penduduk buta aksara ini sempat mencapai 90 persen.

La Ode Adnan Irham
Kabupaten Buton

Desa tersebut adalah Desa Bajo Bahari, Kecamatan Wabula. Sebenarnya, desa ini tidak begitu jauh dari kota kabupaten, Pasarwajo. Jaraknya hanya 15 kilometer dengan waktu tempuh hanya 20 menit saja menggunakan kendaraan.

Desa Bajo Bahari dihuni oleh nelayan suku Bajo. Sekilas tak ada yang berbeda perkampungan suku bajo itu dengan perkampungan suku bajo lain yang biasanya mendiami wilayah pesisir.

Rumah-rumah panggung khas suku Bajo didirikan di atas permukaan air laut dangkal, bertumpu pada bebatu karang. Desa Bajo Bahari luasnya sekitar satu hektar, dan terpisah dari daratan Pulau Buton. Ada jembatan beton sepanjang 200 meter untuk menuju perkampungan tersebut.

Tradisi turun-temurun hidup sebagai nelayan, membuat warga setempat lebih memilih melaut daripada bersekolah. Maka tak heran, buta aksara ini melanda hampir seluruh usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, perempuan maupun laki-laki.
Terlebih memang, tak ada sekolah yang dekat dari perkampungan mereka. Orangtua pun tak memiliki waktu untuk mengantar anak-anaknya ke sekolah karena harus mencari ikan di lautan lepas. Akhirnya, anak-anak suku Bajo ini lebih memilih ikut orangtuanya melaut, dan melupakan sekolah.

Situasi ini terus bertahan sejak desa ini mekar dari Desa Holimombo 2012 silam. Beruntung setelah pemekaran, Kodim 1413/Buton dan Polres Buton mengirim Babinsa dan Babinkamtibmas ke desa tersebut.

“Saat mulai bertugas di sana, aparat kita terkaget-kaget setelah tahu penduduk di sana hampir semua buta aksara. Mereka pun langsung memberikan pemahaman kepada orang tua agar memberikan pendidikan kepada anak-anaknya,” kata Komandan Komando Distrik Militer (Dandim) 1413/Buton, Letnan Kolonel Rudi Ragil, kepada Berita Kota Kendari awal pekan lalu.

Aparat Babinsa dan Babimkamtibmas yang melihat kondisi itu kemudian mencari solusi agar bagaimana anak-anak tertarik untuk membaca. Ternyata itu tidak mudah. Anak-anak suku Bajo benar-benar tak tertarik dengan belajar menulis dan membaca.

Meski tak mudah, prajurit TNI pun pertama-tama membuat perpustakaan keliling. Jangan membayangkan perpustakaan keliling ini seperti perpustakaan keliling yang biasa dijumpai di desa-desa, yaitu mobil boks yang dimodifikasi sebagai ‘tempat membaca’.

Perpustakaan keliling yang dibuat oleh prajurit TNI hanya bermodal sepeda motor. Dengan modifikasi sedemikian rupa, perpustakaan keliling ini memuat buku-buku bercerita dan bergambar. Harapannya, agar anak-anak menjadi tertarik.
Itupun awalnya, lanjut Letkol Rudi, hampir tidak ada anak-anak yang tertarik. Setelah membujuk rayu, lama-kelamaan anak-anak mulai mendatangi perpustakaan keliling tersebut. Mereka mulai membuka-buka buku cerita dengan halaman berwarna.

Karena perpustakaan keliling ini dirasakan masih cukup kurang, aparat Babinsa pun serta Kepala Desa membangun rumah baca, agar bisa menampung lebih banyak anak-anak. Maka dibuatlah bangunan sederhana yang dindingnya terbuat dari papan triplek dan beratap seng. Bangunan itu kemudian menjadi rumah baca di desa tersebut.

Setelah dua tahun, akhirnya rumah baca itupun menarik minat anak-anak hingga orang dewasa untuk belajar membaca. Kini, di 2016, angka buta aksara di Desa Bajo Bahari sudah terus berkurang dan menjadi 60 persen dari total 132 Kepala Keluarga (KK) atau 542 jiwa.

Informasi mengenai adanya desa yang hampir seluruh penduduknya mengalami buta aksara pun mengundang simpati banyak pihak. Banyak lembaga maupun perorangan yang datang memberikan bantuan, terutama buku.

“Kami target tahun 2020, paling tidak 90 persen masyarakat kami bisa baca dan tulis,” kata Kepala Desa Bajo Bahari, Si Nusir yang ditemui di Desa Bajo Bahari, belum lama ini.

Dia berharap agar Pemerintah Kabupaten Buton menambah fasilitas, sarana dan prasarana pendidikan di desanya. Sehingga tujuan dan targetnya untuk memberantas Buta Aksara di desanya dapat tercapai. Bahkan jika bisa, sebelum tahun 2020 yang menjadi target awal bisa lebih cepat terealisasi.

Dandim Buton, Letkol Rudi mengatakan, pihaknya akan tetap berkomitmen untuk melanjutkan upaya pemberantasan buta aksara di desa tersebut. Dia juga berharap ada sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Buton dalam bentuk infrastruktur dan sarana pendidikan yang lebih memadai.

“Sekarang ini tidak ada alasan lagi orang belum bisa membaca dan menulis. Ini jadi PR kita, pemerintah harus harus melakukan pemerataan pendidikan. Kita sinergi mencerdaskan anak bangsa,” paparnya yang sempat datang langsung ke Desa Bajo Bahari memberikan bantuan buku. (*/b/aha)

To Top