Beranda

Dinas Pertanian dan Kehutanan Kendari Lakukan Budidaya Sagu

budidaya-sagu

Wakil Wali Kota Kendari Dr Ir H Musadar Mapasomba MP saat pencanangan penaman sagu.

KENDARI, BKK – Melihat budidaya pangan lokal sagu yang setiap tahunnya mengalami penurunan signifikan, membuat Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Kendari bertekad membudidayakan sagu. Hal itu dilakukan, mengingat selama ini produk tanaman tersebut merupakan salah satu ikon Sulawesi Tenggara (Sultra).

“Lokasi pertanaman sagu selama ini ternyata dari ketahun-ketahun terjadi penurunan yang siginifikan. Hal itu terjadi karena konversi lahan yang terlalu tinggi, baik dari alih fungsi lahan untuk bahan persawahan lalu ahli fungsi lahan untuk perumahan dan bangunan-bangunan industri lainnya,” ujar Kepala Bidang (Kabid) Perkebunan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Kendari Arianti Patiung saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (18/11).

Dengan kondisi itu, diakuinya, tidak menutup kemungkinan banyak lahan sagu yang beralih fungsi. Padahal, animo masyarakat terhadap produk sagu khususnya di Kota Kendari cukup tinggi. Hal itu bisa dibuktikan banyaknya rumah makan ataupun perhotelan yang ada di IbuKota Sultra itu, menyiapkan menu makan sinonggi yang bahan dasarnya dari tanaman tersebut.

“Bahkan kami pernah mendata, ternyata di Kendari kurang lebih 25 rumah makan yang menyajikan menu makan sinonggi. Sehingga pasti membutuhkan bahan baku yang tidak sedikit,” paparnya.

Program pemerintah untuk swasembada pangan, lanjutnya, bukan hanya digenjot dari program upaya khusus (Upsus) peningkatan padi, jagung, dan kedelai, tetapi juga bagaimana swasembada pangan itu didukung oleh penurunan konsusmsi beras sebesar satu persen pertahunnya.

“Jadi pemerintah pusat sudah beberapa tahun ini telah memprogramkan diversifikasi pangan, bahkan Wali Kota Kendari sejak tahun 2010 sudah membuat aturan dan berkomitmen kuat untuk mengembangkan pangan lokal ini. Sebab, pangan lokal tidak susah didapatkan, sebab ada di sekitar kita,” paparnya.

Namun, akunya, mengangkat kembali pangan lokal agak susah. Pasalnya, meski makanan khas nenek moyang masyarakat Sultra diolah dari sagu, namun kini pola makan warga berubah yang rata-rata lebih memilih mengkonsumsi beras. Terlebih dengan adanya program beras miskin (Raskin).

Ia menyebutkan, beberapa titik yang berpotensi untuk pengembangan sagu di Kota Kendari ada enam lokasi, yakni Kecamatan Mandonga, Kecamatan Puuwatu, Kecamatan Abeli, Kecamatan Poasia, Kecamatan Baruga, dan Kecamatan Kadia.

“Untuk jenis sagu yang dibudidayakan kami masih mengambil tanaman sagu lokal yang ada di masyarakat, sebab kita belum memiliki komoditi yang waktu panennya cepat. Dimana tanaman sagu yang kita ambil dimasyarakat lokal masa panennya kurang lebih 7-8 tahun baru bisa panen,” pungkasnya.

Ia menambahkan, rencananya tahun ini dilakukan tahap pencanangan dan penamaman. (Cr6/c/nur)

To Top