Konsel Dijadikan Pilot Project Pengolahan Limbah Kayu – Berita Kota Kendari
Suksesi

Konsel Dijadikan Pilot Project Pengolahan Limbah Kayu

Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Pariwisata Konsel, Suhartin (kedua dari kiri), berfoto bersama dalam pelatihan pembentukan ekosistem pusat kreaktif limbah kayu. (Foto: IST)

Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Pariwisata Konsel, Suhartin (kedua dari kiri), berfoto bersama dalam pelatihan pembentukan ekosistem pusat kreaktif limbah kayu. (Foto: IST)

ANDOOLO, BKK – Sejak September lalu, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Kementerian Pariwisata melakukan pembinaan dan pendampingan terhadap 50 pengrajin yang mewakili dari tiga desa di Kabupaten Konawe Selatan (Konsel). Melalui kegiatan yang merupakan program pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata, Kabupaten Konsel difokuskan sebagai pusat kerajinan bisnis kerajinan limbah kayu.

Melalui workshop yang dilakukan Deputi Kementerian Pariwisata bekerjasama Dinas Pariwisata Konsel difokuskan pada edukasi pengrajin potensi ekonomi limbah kayu. Serta merangsang para pengrajin untuk langsung berkreasi.

Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Pariwisata Konsel, Suhartin mengatakan desa yang langsung melakukan kreasi pengolahan limbah kayu yakni di Desa Panganjaya, dimana mayoritas maskarakatnya bekerja dibidang pembuatan meubeler.

“Workshop ini menekankan pada kreativitas pengrajin dalam melakukan eksplorasi desain dan gambar dari ragam produk kerajinan dari limbah kayu yang ada,” ujarnya.

Kata dia, kegiatan itu berlangsung selama tiga bulan di Konsel dan berhasil memberikan semangat serta tambahan skills bagi para pengrajin dalam melakukan perubahan berbasis kearifan lokal dan kebutuhan pasar.

“Dari 50 pengrajin yang ikut dalam program ini, banyak sekali hasil kerajinan yang mengalami transformasi baik dalam penggarapannya serta keragaman hasil kerajinannya. Sebelum adanya Program Fasilitasi Pembentukan Ekosistem Pusat Kreatif Limbah Kayu, para pengrajin yang dalam kesehariannya membuat mebel mengaku limbah kayu yang ada hanya di bakar dan dianggap tidak bermanfaat. Olehnya, itu dengan adanya kegiatan ini maka limbah kayu dapat diolah dalam bentuk souvenir yang memberikan nilai jual dan nilai tambah bagi para pengrajin kayu,” tuturnya.

Suhartin menambahkan dengan kegiatan itu maka periwisata Konsel fokus pada pengembangan souvenir, toys education serta miniatur dari limbah kayu.

Deputi Infrastruktur Bekraf Hari Santosa Sungkari menjelaskan bahwa Pembentukan Ekosistem Pusat Kreatif tersebut dimaksudkan untuk mengenali potensi unggulan desa dengan berusaha mengetahui dari lima rantai nilai ekonomi kreatif.

“Program ini dilakukan secara bersama-sama dan saling sinergi oleh lintas pemangku kepentingan yang melibatkan Pemerintah baik pusat maupun daerah, komunitas kreatif sebagai representasi masyarakat, akademisi dan para pelaku usaha. Program fasilitasi Bekraf memiliki tujuan besa. Yaitu, peningkatan PDRB, peningkatan jumlah tenaga kerja terampil, serta pengembangan ekonomi berbasis kearifan lokal,” ujarnya.

Selama ini, pandang Sungkari, pekerja meubeler bergelut dengan pembuatan mebel lalu dijual guna memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Sedangkan, limbah sisa bahan mebel dibakar. “Kini kami tantang bagaimana para pengrajin yang ada mampu menciptakan ragam produk kerajinan dari limbah kayu. Di Konsel potensi pengembangan limbah kayu begitu besar dengan hasil yang bisa diakui dan diterima masyarakat Indonesia maupun internasional.” jelas Sungkari.

Ia berharap, setelah suksesnya Program Fasilitasi Pembentukan Ekosistem Pusat Kreatif di Konsel selama tiga bulan ini, kedepannya diharapkan pemerintah daerah memiliki kesamaan semangat untuk meneruskan dan menyukseskan pembentukan ekosistem pusat kreatif kerajinan limbah kayu ini dengan senantiasa melakukan pembinaan dan pendampingan.

Dari 507 Kabupaten Kota di Indonesia hanya lima daerah yang mendapatkan program tersebut salah satunya Konsel, Kabupaten Batang, Sika, Lombok, dan Malang.(K8/LEX)

To Top