Hikmah

Tafsir Surah Al-Maidah ayat 51

Oleh: Asrar Aqdas

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi teman penolong(mu); sebagian mereka penolong bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi teman penolong, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan dari mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim (Qs. Al-Maidah: 51).
Asbabun Nuzul atau sebab-sebab turunnya ayat ini adalah ketika Ubadah bin Shamith datang menemui Rasulullah Saw dan mengatakan bahwa dia mengadakan hubungan kerjasama dagang dengan orang-orang Yahudi, karena mereka bisa menjadi teman yang dapat dipercaya dan membantu dalam hubungan perdagangan. Namun ketika menjelang perang Uhud dia khawatir akan dikhianati oleh orang-orang Yahudi, kemudian dia berlepas diri dan memutuskan hubungan dengan mereka.

Salah seorang sahabat Rasulullah Saw yang terkenal Munafik, Abdullah bin Ubay berkata kepada Rasulullah bahwa dia juga memiliki hubungan kerjasama dengan Yahudi tetapi dia tidak mau berlepas diri dengan mereka, karena khawatir suatu saat dia akan membutuhkan mereka lagi. Lalu Rasulullah Saw bersabda, “Aku lebih mengkhawatirkan yang terjadi padamu daripada yang terjadi pada Ubadah”. Kemudian Abdullah bin Ubay mengatakan menerima nasehat Rasulullah.

Melihat dari konteksnya, ayat ini turun berkenaan dengan larangan mengadakan hubungan pertemanan kerjasama dan saling membantu dengan orang-orang Yahudi karena melihat kondisi perang saat itu, dikhawatirkan orang-orang Yahudi waktu itu akan berkhianat dan menjadi spionase bagi pihak-pihak yang benci dengan umat Islam. Karena mengadakan perjanjian dan hubungan kerjasama diantara orang-orang Arab waktu antar agama merupakan hal yang biasa.

Hubungan kerjasama mereka disebut dengan kata wila’ yang merupakan akar kata dari wali atau Auliya di ayat 51 surah Al-Maidah.
Kata Auliya merupakan kata bahasa Arab yang bentuk jamak dari Wali yang memiliki beberapa arti diantaranya, orang yang dipercaya, teman (klien) bekerja sama, teman bergaul, kekasih, penolong, penanggung jawab, pemerintah, pemimpin, raja, keluarga dekat, orang yang dekat (sahabat), orang yang utama dll (Lisanul Arab, kata wali).

Mayoritas Ahli Tafsir ketika menafsirkan Ayat 51 surah Al-Maidah mengatakan bahwa maksud dari kata Auliya di ayat ini adalah teman yang membantu karena adanya hubungan perjanjian kerjasama, seperti halnya hubungan kerjasama dua negara atau dua kelompok yang mensyaratkan adanya NGO untuk saling membantu jika sewaktu-waktu diperlukan pertolongannya seperti pada peristiwa kedua sahabat nabi di atas. Dan salah seorang sahabat menolak untuk berlepas diri dari orang-orang Yahudi yang mengakibatkan kekalahan pasukan muslim pada perang Uhud (Tafsir Baidhawi dan Jami’ul Bayan).

Dalam tafsir ini kata Auliya diartikan sebagai teman penolong yang dipercaya karena hubungan kerjasama. Dan dengan melihat konteks turunnya ayat, tidak ada hubungannya dengan menjadikan orang-orang Yahudi dan selain Islam sebagai pemimpin waktu itu karena pada saat itu Rasulullah Saw sendiri adalah pemimpin umat Islam dan pemimpin kota Madinah waktu itu yang warganya adalah umat Islam, Yahudi dan Nasrani.

Jadi, menurut konteks ayat ini turun bukan berkenaan dengan pemilihan kepemimpinan. Melainkan turun berkenaan dengan pelarangan mempercayai selain umat Islam sebagai teman kerjasama yang dapat dipercaya. Karena salah satu makna dari kata wali adalah penolong dan teman dekat, mungkin makna ini juga yang dipakai ketika menafsirkan hadis Rasulullah Saw ketika mendaulat Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin di Ghadir Khum sebagai penggantinya dengan mengatakan barang siapa yang aku Walinya maka Ali lah Walinya, dan kebanyakan ahli tafsir memaknai hadis ini bahwa nabi hanya menunjuk Ali as sebagai penolong beliau dan bukan sebagai pemimpin umat. Dan penafsiran ini semakin mempertegas bahwa maksud dari kata wali yang bentuk tunggal dari Auliya maksudnya adalah penolong atau teman dekat dan bukannya pemimpin.

Raghib Isfahani dalam kitab Mufradat Alfaz Al-Qur’an mengatakan bahwa kata wali yang bentuk tunggal dari Auliya selain dari makna yang disebutkan di atas juga bermakna menyambungkan dua atau lebih sesuatu dimana tidak ada lagi penghalang sedikitpun diantara keduanya. Kata wali ini merupakan bahasa metafora yang digunakan untuk menggambarkan kedekatan tempat atau kedekatan hubungan kekeluargaan, agama, penolong, hubungan akidah dan pemimpin yang melindungi rakyatnya (wilayat).

Makna kata wilayat yang berarti pemimpin yang disampaikan oleh ayat 51 Al-Maidah adalah kedekatan yang bersifat khusus yang merangkum semua makna kata Auliya, yakni yang menyambungkan antara dua orang atau beberapa orang di mana tidak ada lagi sesuatu yang menghalangi penyatuan itu dari tujuannya. Adapun tujuannya bisa berupa suatu kemenangan atau hal-hal yang bersifat spiritual dan selainnya.

Berdasarkan arti bahasa yang digunakan oleh Raghib Isfahani ini, Allamah Thabaththaba’I penulis kitab Al-Mizan menuliskan beberapa kemungkinan mengenai maksud dari kata Auliya dalam ayat 51 Al-Maidah. Jika wali harus diartikan sebagai pemimpin maka pemimpin yang dimaksud adalah seorang penolong yang membantu mendekatkan dua atau beberapa orang, yang bertujuan membawa rakyatnya mencapai puncak ketakwaan atau pemimpin spiritual. Dan jika kata Auliya diartikan sebagai teman dalam pergaulan maka kata Auliya maksudnya adalah seorang kekasih yang menarik perasaan sehingga pecintanya rela tanpa halangan atau paksaan untuk taat pada perintahnya. Dan jika kata Auliya diartikan sebagai saudara dari segi nasab maka kata Auliya di ayat 51 Al-Maidah berarti seorang yang mewarisi seseorang tanpa adanya penghalang.

Olehnya itu jika melihat pada konteks turunnya ayat ini dengan memperhatikan makna keseluruhan ayat itu maka kata Auliya yang bentuk Jamak dari wali berarti teman kepercayaan atau penolong. Dan pelarangan di ayat itu adalah larangan untuk bekerjasama dengan orang-orang di luar Islam atas dasar kepercayaan penuh dan menjadikan umat Yahudi dan Nasrani sebagai penolong dikarenakan suatu waktu akan membawa bencana bagi umat Islam.

Dan kata Auliya di ayat itu tidak bisa diartikan sebagai pemimpin. Karena Rasulullah Saw waktu itu posisinya adalah sebagai pemimpin dan tanpa dilarang pun para sahabat tidak mungkin mencari pemimpin lain selain beliau. Dan kalaupun harus memaknai kata Auliya di ayat itu dengan makna pemimpin sebagaimana yang tafsirkan oleh Allamah Thabaththaba’i, maka maksud dari pemimpin yang dimaksud adalah pemimpin spiritual dan bukannya pemimpin daerah.

Terlebih lagi kata Ittakhaza yang dalam ayat 51 ini yang berarti “mengambil” maksudnya bukanlah mengambil sesuatu seperti seseorang mengambil buku atau benda, akan tetapi maksud dari kata “mengambil” di ayat itu adalah mengambil sesuatu untuk dipercaya atau mempercayai sesuatu (Majma’ Al-Bayan).

Yang jika keseluruhan ayat itu jika diartikan menjadi “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil (sebagai kepercayaanmu) orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman penolong(mu); karena sebagian mereka dari umat Yahudi penolong bagi sebagian yang lain (umat Nasrani). Barang siapa di antara kamu mengambil mereka sebagai teman penolong, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan dari mereka.

Dan penerjemahan kata Auliya dengan tafsiran seperti ini lebih sesuai dengan konteks ketika ayat ini turun.

To Top