Kajian Model Ketahanan Pangan Dikritisi – Berita Kota Kendari
Lingkar Sultra

Kajian Model Ketahanan Pangan Dikritisi

KOLAKA, BKK- Sesi tanya jawab pada seminar yang mengkaji model ketahanan pangan Rumah Tangga (RT) nelayan masyarakat pesisir di kabupaten Kolaka, yang digelar Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Haluoleo, di aula Bappeda Kolaka, Senin (7/11) mengalami dinamika. Sejumlah penanya mengeritik isu yang diangkat.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kolaka, Alva Talanipa dan staf khusus Bupati, Fachruddin Rahim menyoroti dokumen kajian model ketahanan pangan RT nelayan yang dinilai masih belum menjawab persoalan ketahanan pangan secara utuh. Alva Talanipa mengaku kalau kesimpulan yang disampaikan masih bersifat umum atau global.
Dia menyayangkan saran yang disampaikan pada saat seminar awal tidak dimasukkan dalam seminar akhir. Dia mengungkapkan dalam judul tertulis kajian model, tapi yang dilihat tidak ada model seperti apa yang harus dibuat di pesisir untuk mewujudkan ketahanan pangan.
Alva juga berpendapat, persoalan adanya kelangkaan sagu bukan karena mereka tidak mau mengkonsumsi, tapi lebih disebabkan tergusurnya pohon sagu saat ini. Karena itu, dia memberikan masukan agar data penilitian lebih ditingkatkan lagi.
Adapun Fachruddin juga melihat judul yang diberikan, bukan membuktikan teori. Seharusnya membuat teori dengan membuat model, meski hanya sederhana. Peneliti seharusnya membandingkan nelayan yang ada di utara, tengah dan selatan. Kemudian ada kebijakan yang direkomendasikan untuk dilaksanakan Pemkab Kolaka.
“Harus ada kesimpulan rawannya berapa persen, harus menunjukan variabel atau elemen yang mempengaruhi ketahanan pangan. Kalau penelitiannya sudah bagus dan data yang diambil sudah banyak,” kata mantan Kepala Bappeda Kolaka yang sudah pensiun ini.
Terhadap saran dan kritik dari Alva Talanipa, Dr Muliha Halim mengungkapkan kalau pihaknya memang bukan memasukan model, tapi meneliti model ketahanan pangan apa yang ada di masyarakat, sekaligus melihat apakah mereka masuk rawan pangan atau tidak.
Dari hasil penelitian, terdapat dua model yakni yang berprofesi sebagai petani dan sekali-kali melaut yang disebut Petani Padi Sawah. Serta orang yang berprofesi pelaut tapi juga memiliki kebun yang disebut Nelayan Petani.
“Kami bukan menghasilkan model,” katanya.
Menurut Muliha, dari hasil penelitian yang paling rawan pangan adalah petani padi sawah di bandingkan nelayan petani. Karena mengandalkan beras sebagai makanan pokok, jika terjadi gagal panen akan terjadi kerawanan pangan bagi petani sawah. Begitupun jika terjadi ombak tinggi, ancaman kerawanan pangan bagi nelayan petani cukup tinggi.
Dr Muliha Halim menyimpulkan bahwa sebagian besar RT di Kolaka mengkonsumsi beras sebagai pola pangan pokok tunggal, serta merekomendasikan untuk mensosialisasikan pemanfaatan pangan lokal berupa sagu, keladi dan lainnya sebagai menu harian bagi masyarakat melalui lomba kreatif kuliner tingkat kabupaten Kolaka. (cr3/aha)

To Top