Rusak dan Berulat, Pembagian Raskin Ricuh – Berita Kota Kendari
Lingkar Sultra

Rusak dan Berulat, Pembagian Raskin Ricuh

Barang bukti beras Raskin yang dikeluhkan warga karena tidak layak konsumsi.

Barang bukti beras Raskin yang dikeluhkan warga karena tidak layak konsumsi.

RAHA, BKK – Pembagian raskin di Balai Desa Lagasa Kabupaten Muna disinyalir dicampur beras rusak dan tidak layak konsumsi, karena warga menemukan raskin yang mereka dapatkan mayoritas rusak, tidak layak dokonsumsi, tapi hanya layak untuk pakan ternak.

Hal itu diungkapkan warga Desa Lagasa diantaranya La Ode Madewin dan Narsih kepada sejumlah media dan aparat kepolsian Polres Muna, di Raha, Kamis (20/10).

Narsih mengaku melihat petuga yang membagika beras sedang mengayak -ayak beras rusak dicampur dengan raskin yang akan dibagikan pada warga.

“Ini beras yang dicampur itu dan ini ayak yang dipakai mereka. Kita kurang tahu sudah berapa karung beras rusak ini dicampur dengan raskin, tapi katanya sekitar 10 karung,” kata Narsih seraya memperlihatkan contoh beras rusak dan ulat itu yang akan mereka jadikan untuk makanan ternak.

La Ode Madewin menambahkan, da berserta sejumlah warga sudah berulang kali menyambaikan pada petugas pembagi raskin di Lagasa, agar berkoordinasi dulu dengan masyarakat, sebelum raskin dibagikan.

“Masa beras rusak begini mau dibagikan, seperti makanan ternak saja. Kita sudah himbau pada meraka yang bertugas bagikan raskin,jangan dulu raskin busuk begin dibagikan, kita bicarakan dulu,” kata La Ode Madewin.

Berkaitan kualitas raskin ini, pemerhati hukum di Kabupaten Muna Syahribin Hipno mengatakan kuat dugaan beras rusak dan sudah berulat itu, sengaja di ayak dan dicampur di raskin yang bagus.

“Mudusnya kira kira seperti itu, agar mereka dapat untung dari pembagian raskin ini, nah itu namanya pungli ,” kata Hipno dihadapan sejumlah aparat kepolsian dan warga Desa Lagasa.

Ditempat yang sama, menurut seorang petugas pembagi raskin yang ngaku bernama Ahmad mengatakan, mereka memang membuka sebanyak 15 karung raskin, untuk dibagikan pada masyarakat. “Jumlah raskin disini ada 15 ton untuk 721 penerima. Masing masing masyarakat menerima 21 kg 23 Ons. Karena mereka menuntut harus cukup, ya kita buka raskin ini dan kita timbang sisanya, itu timbangnya. Kalau masyarakat tidak mau, ya kami kembalikan uang mereka,” kata pria yang terlihat sibuk mencatat warga penerima raskin di Balai Desa Lagasa ini kemarin.

Keterangan Ahmad ini berbeda lagi dengan keterangan petugas raskin lainnya. Mereka mengatakan bahwa tunpukan beras sekitar 1 ton itu adalah beras 6 bulan lalu.

“Beras ini memang rusak bu, beras lama ini sudah 6 bulan lalu. Beras ini tidak habis disalurkan dan sudah rusak tidak kita bagikan,” kata sejumlah petugas raskin lainnya.

Imbas dari pembagian raskin disinyalir campur beras bak pakan ternak ini, sejumlah warga Desa Lagasa komplin dan berbuntut datangnya belasan aparat kepolisian Polres Muna dipimpin Kasat Intelkam IPTU Syahridin dan sejumlah aparat Polsek Katobu di pimpin Kaniit Reskrin AIIPTu Nexson.

Didepan aparat penegak hukum warga penerima raskin dan warga yang komplin raskin dicampur beras rusak, saling tuding. Hingga pukul 14.00 Wita pembagian raskin Desa Lagasa ini masih ricuh. Anehnya lagi sejumlah wanita yang juga bertugas membagi raskin, malah marah-marah dan mengamuk di depan aparat kepolsian. Meraka keberatan pembagian raskin ini tiba-tiba diketahui sejumlah polisi dan wartawan.

Meskipun antara petugas raskin dan warga yang melapor bahwa diduga ada beras rusak dan berulat dicampur saling klaim dengan pendiriannya masing masing, namun dari sejumlah warga, aparat kepolsian berhasil mengamankan sejumlah barang bukti nerupa beras yang rusak dan sudah berulat dan ayak yang dipakai petugas raskin diduga untuk mencampur beras rusak dengan raskin bagus yang terlanjur sudah dibagikan pada masyarakat penerima. (CR1/lex)

To Top