Suksesi

BSI : ADP – Sul Tertinggi untuk Sementara

lKENDARI, BKK– Lembaga survei Barometer Suara Indonesia merilis hasil survei per Oktober. Untuk sementara ini, pasangan Adwiatma Dwi Putra – Sulkarnaen mendulang dukungan tertinggi yakni 32,7 persen. Disusul berturut-turut Abdul Rasak – Haris Andi Surahman sebanyak 27,1 persen dan Zayat Kaemoedin – Suri Syahriah Mahmud sebanyak 26,8 Persen.

Direktur Eksekutif BSI, Baso Affandi mengemukakan, meski ADP – Sul
nampak memimpin perolehan dukungan, namun secara umum dapat disimpulkan bahwa ketiga pasangan ini masih bersaing secara ketat. Masing-masing kandidat masih berpeluang menang.
Apalagi, margin of error dari survei ini mencapai 4,8 persen. “Jika pemilihan digelar 22 Oktober, bisa dipastikan perolehan suara ketiga pasangan ini tidak berpaut jauh,” kata Baso dalam rilis yang dikirim ke Berita Kota Kendari, Minggu (16/10) kemarin.

Untuk tingkat popularitas atau keterkenalan para calon, enam calon wali kota dan wakil wali kota ini sudah dikenal secara luas oleh masyarakat. Zayat dan Rasak berada di peringkat teratas dengan persentase 96,6 persen dan 94,1 persen. Disusul berturut-turut ADP (91,8 %), Haris (88,6 %), Suri (86,8 %) dan Sulkarnaen
(82,5 %)
Sementara untuk tingkat kesukaan, 61,2 persen publik masih lebih menyukai figur Rasak. Kemudian Zayat 59.2 %, Sulkarnaen 57.2 %, ADP 55.6 %, Suri 45.8 % dan Haris 44.7 %.
BSI juga menguji para responden dengan pertanyaan, siapa wali kota yang akan dipilih Jika Pilkada digelar 2017 nanti. Walhasil, yang memilih Rasak 33,2 persen, Zayat 28.4 persen dan ADP 29.1 persen. Sementara untuk pertanyaan yang sama untuk figur wakil wali kota, ternyata 44,2 persen responden belum menentukan pilihan. Hanya 30,9 persen yang memilih Sulkarnaen, Suri (15,7 persen) dan Haris (9,2 persen).
Meski demikian, hanya 43,0 persen responden yang sudah teguh dengan pendiriannya. Sebanyak 28,4 persen
masih kemungkinan berubah dukungannya.
Tidak tahu sebanyak 28,6 persen
.

BSI juga menanyakan kapan akan mengambil keputusan untuk mendukung. Sebanyak 40,0 % sudah menentukan pilihan sebelum kampanye.
Pada saat kampanye (21,8 %) dan pada masa tenang (13,4 persen). Sebagian kecil baru menentukan pilihan saat hari pencoblosan.
Yang cukup penting adalah faktor yang mempengaruhi memilih. Hampir seluruh responden mengaku memilih pasangan berdasarkan visi dan misinya. Sebanyak 81,2 persen responden mengakui hal itu. Adapun faktor money politic, pemberian uang dan barang lainnya, hanya 2,3 persen responden yang mengaku bisa terpengaruhi. Tidak menjawab 8,3 persen.
Untuk pertanyaan orang yang bisa mempengaruhi pilihan, keluarga menempati peeringkat pertama dengan 26,9 persen. Lalu tokoh masyarakat (19,4 persen), ketua RT (11,9 persen), lurah (9,0 persen), tokoh agama (7,5 persen), ketua RW (6,0 persen) dan tokoh adat (4,1 persen). Sementara relawan politik, teman, rekan kerja dan tokoh partai, pengaruhnya hanya di bawah 2 persen.    Dari kuisioner yang diberikan, umumnya responden memilih figur berdasarkan penilaian mampu mengatasi persoalan ekonomi serta moralitas yang baik. Beberapa juga memilih karena agama.

Jika dipisahkan berdasarkan gender, pemilih laki-laki (sampel 50,0%) yang memilih Rasak – Haris sebanyak 30,0%, Zayat – Suri (27,7%) danADP – Sul (28,1%). Tidak menjawab 14.2 %. Untuk kalangan perempuan (sampel 50 persen), mereka lebih menyukai ADP – Sul (35,7%), lalu Rasak – Haris (28,6 %) dan Zayat – Suri (26,4 %). Yang tidak menjawab 9.3 %. Hasil ini cukup mengejutkan lantaran Suri mewakili kaum perempuan tapi justru yang disukai adalah ADP.
Untuk agama, responden beragama Islam (sampel 95,9%) lebih menyukai Rasak – Haris (29,2%). Sementara Zayat – Suri dan ADP – Sul sama-sama memperoleh dukungan 26,6%. Yang tidak menjawab 17.6 %
Dari Non-Islam (sampel 4,1 %), mereka lebih menyukai Zayat – Suri (27,8 %), Rasak – Haris (22,2 %) dan ADP – Sul (0,0 %). Tetapi yang belum memberikan jawaban sekitar 50 %.
Yang menarik adalah faktor kesukuan. Berdasarkan survei BSI, hanya 32,0 persen
orang yang akan memilih berdasarkan kesamaan suku. Sementara 59,8 persen responden mengaku memilih bukan karena kesamaan suku.
Publik juga nampaknya tidak terlalu peduli mengenai keharusan orang Kendari asli yang menduduki jabatan wali kota dan wakil wali kota. Sebanyak 33,7 persen menganggap orang Kendari asli tidak penting dan 25,7 persen bahkan beranggapan tidak penting sama sekali. Hanya 8,7 persen responden yang menganggap wali kota dan wakil wali kota sangat penting orang Kendari asli dan 23,5 persen menganggap cukup penting.
Kemudian, jika dipisahkan berdasarkan kesukuan, responden dari Bugis-Makasar (sampel 34,1%) lebih banyak yang belum memiliki pilihan, yakni 41,3 persen. Sementara yang sudah punya pilihan, Zayat – Suri tampaknya lebih disukai dengan persentase 20,7 persen. Rasak – Haris (20,0%
) dan ADP – Sul 18,0%.
Untuk suku Tolaki, yang belum menentukan pilihan juga cukup tinggi, 47,1 persen. Responden Tolaki yang sudah punya jagoan, mengunggulkan Rasak – Haris (23,2%
), ADP – Sul (17,6%) dan Zayat – Suri (8,8%).
Adapun suku Muna (Sampel 17,7%), yang mendukung Rasak – Haris (12,8%), Zayat – Suri (26,9%) dan ADP – Sul (9,0%). Tidak menjawab sebanyak 51.3 %. Kemudian suku Buton (sampel 8,2%); Rasak – Haris (5,6%), Zayat – Suri (19,4%), ADP – Sul (13,9%). Tidak menjawab (61.1 %).
Suku Lainnya (sampel 16,8%);  Rasak – Haris (21,6%), Zayat – Suri (21,6%) dan ADP – Sul (17,6%). Tidak menjawab sebanyak 39.2 %.
Berdasarkan faktor umur, responden 19 tahun ke bawah (sampel 4,1%) lebih menyukai Rasak – Haris (37,8%). Zayat – Suri (15,0%) dan ADP – Sul (28,7%). Tidak menjawab sebanyak 18.5 %.
Usia 20-29 tahun (sampel 19,1%
), lebih memilih ADP Sul
(31,4%), lalu Rasak – Haris (29,0%) dan Zayat – Suri (25,5%). Tidak menjawab 14.1 %
Adapun usia 30-39 tahun (sampel 28,2%) ; Rasak – Haris (39,4%), Zayat – Suri (19,4%), ADP – Sul (35,3%). Tidak menjawab 5.9 %. Kategori usia
40-49 tahun (sampel 22,3%) ; Rasak – Haris (29,4%), Zayat – Suri (37,3%), ADP – Sul (28,4%) dan tidak menjawab sebanyak 4.9 %. Kemudian usia 50 tahun ke atas (sampel 26,4%
);
Rasak – Haris (38,1%), Zayat – Suri (28,1%) dan ADP – Sul (10,3%). Tidak menjawab sebanyak 23.5 %.

***

Dari hasil survei tersebut, BSI mengungkapkan temuan baru diantaranya, tingkat popularitas dan elektabilitas Abdul Rasak secara personal masih mengungguli kandidat lainnya (secara personal). “Namun jika diuji dengan berpasangan, maka tingkat elektabilitas tersebut anjlok dan dikalahkan oleh pasangan lainnya,” kata Baso.
Dia melanjutkan, dinamisnya dinamika perpolitikan di Kota Kendari juga disebabkan oleh ritme kinerja tim pemenangan yang masif dengan daya kreatifitas yang berbeda-beda. Hal ini membuat fluktuasi suara masih naik turun.
Selain itu, pengaruh tokoh yang awalnya punya niat mau bertarung dalam Pilkada, seperti Andi Musakkir, Yani Kasim Marewa, Ishak Ismail, Musadar Mappasomba, kemudian secara terang-terangan melakukan manuver mendukung salah satu pasangan calon, juga mempengaruhi dinamisasi fluktuasi tingkat dukungan.
“Tingkat dukungan juga dipengaruhi oleh track record pasangan masing-masing,” katanya.
Yang cukup menggembirakan adalah tingkat partisipasi pemilih di Kota Kendari. Dari hasil survei ini tergambarkan bahwa publik di Kendari sangat antusias mengikuti jalannya Pilkada Kendari.
Sebanyak 97,3 persen responden memastikan akan memilih. Hanya 1,6 persen yang tidak mau memilih dan 1,1 persen belum tahu apakah akan memilih atau tidak.
“KPU sebagai penanggung jawab pilkada bisa senyum-senyum senang karena tingkat partisipasi pemilih akan meningkat,” tekannya.
Survei BSI termutakhir ini menggunakan metodologi survei  multistage random sampling dengan jumlah responden awal 440 orang. Seluruh responden diwawancara tatap muka langsung. (aha)

To Top