Mengenal Kamooru, Kain Tenun Khas Muna – Berita Kota Kendari
Feature

Mengenal Kamooru, Kain Tenun Khas Muna

NIRWAN/BERITA KOTA KENDARI HARUS TEKUN. Sarfina tengah menenun kain sarung khas Suku Muna, Kamooru, dalam pameran kreativitas kepemudaan, di Hotel Qubra, Kendari, Kamis (13/10).

NIRWAN/BERITA KOTA KENDARI
HARUS TEKUN. Sarfina tengah menenun kain sarung khas Suku Muna, Kamooru, dalam pameran kreativitas kepemudaan, di Hotel Qubra, Kendari, Kamis (13/10).

Pameran Karya Kreaktif Pemuda bidang Grafika dan Kriya yang digelar di Hotel Qubra, Kota Kendari, salah satunya menampilkan Kamooru, kain tenun khas Muna. Melalui pameran yang berlangsung selama dua hari ini, publik bisa melihat langsung cara pembuatan Kamooru yang sudah legendaris ini.

Laporan : Nirwan
Kendari
Sarfina (25) tampak begitu fokus menghani benang lusi di mesin tenun kayunya. Wanita berjilbab ini seakan tidak terganggu dengan percakapan yang terdengar ramai atau lalu-lalang orang di sekitar lokasi pameran.
Saat didekati Berita Kota Kendari, Sarfina pun sempat menghentikan penghanian. Dari sedikit perkenalan, Sarfina mengaku berasal dari Desa Liang Kabori, Kecamatan Loghia, Kabupaten Muna. Dia sangat senang bisa ikut tampil dalam pameran yang dibuka oleh pihak Kementerian Pemuda dan Olah Raga tersebut.
“Saya sudah 12 tahun menekuni pekerjaan ini. Belajar dari keluarga secara turun-temurun,” katanya.
Kali ini, Sarfina tengah membuat Kamooru atau sarung tenun Muna. Dia pun dengan ramah memperkenalkan peralatan tenun yang digunakannya.
Alat tenun yang digunakannya masih tradisional. Bisa digunakan untuk membuat baju ataupun sarung khas Muna.
Pada dasarnya, membuat baju dan sarung sama saja. Karena semuanya harus dimulai dari pembuatan kain dasar. Yang membedakan hanyalah ukuran dan motif yang akan disematkan.
“Untuk membuat satu baju khas Muna dengan lebar kurang lebih 70 centimeter, dibutuhkan benang ekstra sepanjang empat meter. Kalau untuk membuat sarung tenun tentu akan menggunakan lebih banyak lagi benang ekstra. Sebab ukuran sarung tenun lebih besar dibandingkan baju,” ungkapnya.
Cara pembuatannya, pertama dibuat dulu sisirnya yang dalam bahasa Muna dikenal dengan nama Dhangka. Tujuannya untuk merapikan benang. Setelah itu, ada proses penghanian yang dikenal dengan istilah Palida, memukul atau memberikan tekanan terhadap benang yang baru saja dimasukan agar rapat. Jika benangnya tidak rapat maka kain dihasilkan bisa cacat.
Hanya saja, dibutuhkan kesabaran dalam menenun. Sebab untuk membuat satu lembar sarung atau baju, dibutuhkan waktu selama tujuh hari. “Tapi kalau dikerjakan setiap hari, bisa selesai selama empat hari,” katanya.
Soal harga, sangat tergantung dari variasi motif dan bahannya. Makin rumit motif dan berkualitas bahannya, harganya pun makin mahal. Paling murah Rp 200 ribuan. Sementara sarung dengan tenun dan bahan berkualitas tinggi, harganya bisa sampai jutaan rupiah per lembar.
Dia mengakui masyarakat penenun sudah menikmati hasil dari karyanya sendiri. Sebab, sarung tenun khas Muna ini sangat diminati oleh pembeli dari luar negeri, terutama di Eropa dan Amerika.
“Saya merasa bangga dan senang hasil karya saya sudah sampai hingga pasaran luar negeri,” ujarnya.

***

Sejak beratus-ratus tahun, keterampilan menenun sarung khas Muna diwariskan secara turun-temurun. Apalagi, benang yang digunakan sangat khas, yang dipintal secara tradisonal, baik dari benang sutera maupun kapas. Sarung Muna saat ini banyak dihasilkan di Desa Masili, Kabupaten Muna.
Masyarakat Muna mempercayai bahwa untuk melahirkan selebaran Kamooru, haruslah dikerjakan dengan jiwa yang bersih dan tenang. Jika tidak, penenun akan sangat kesulitan merangkai motif yang memang cukup rumit.
Dalam sejarah kebudayaan Kamooru, motif-motif tenun Muna bahkan memiliki nama tersendiri karena terkandung makna filosifis di dalamnya. Seperti Bhotu, Samasili, Bharalu, Djalima, Ledja, Kaparanggigi, Bhia-bhia, Paghino Toghe, Katamba, Kapadodo, Lante-lante, Kabarino, Finding Konini dan Kambeano Bhanggai.
Sejak tahun 2011 hingga saat ini, produk tenun tradisional gedong yang dipasarkan menggunakan menggunakan media sosial itu, sudah mampu menembus pasar luar negeri, terutama Eropa, Amerika hingga Asia. Antara lain Jerman, Denmark, Prancis, Qatar, Bruney Darusalam, dan Amerika Serikat.
Rata-rata para pembeli Kamooru tertarik karena motifnya yang sangat khas. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang penasaran cara menyusun motif sarung, rela datang jauh-jauh ke Muna untuk menyaksikan langsung proses penenunan kain tersebut.
Namun, bukan baru kali ini saja motif sarung Muna menarik banyak orang. Di masa lalu, sarung Muna sudah menjadi produk unggulan sejak masa pemerintahan Raja Muna pertama, La Eli alias Baidhuldhamani yang bergelar Bheteno Ne Tombula.
Menurut catatan sejarah, Kamooru sudah ada sejak tahun 1371. Suku Muna Kamooru menjadikan sarung ini sebagai salah satu alat pembayaran yang sah, misalnya untuk pembayaran pajak.
Kamooru juga dijadikan status golongan sosial, sebagai pembeda antara golongan bangsawan dan rakyat jelata. Golongan bangsawan atau Kaomu, terdiri dari Sara (keturunan raja) serta Walaka (penegak hukum).
Bagi golongan Kaomu, cara pemakaian sarungnya yaitu kain sarungnya berada di atas lutut. Dalam masyarakat Muna semakin ke atas pemakaian sarungnya, semakin tinggi status sosialnya. Sebaliknya semakin kebawah pemakaian sarungnya, semakin rendah pula status sosialnya.
Pada golongan Sara, kain sarungnya berada di bawah lutut. Panjang kain sarung lebih kurang dua centimeter di bawah lutut. Kemudian pada golongan Walaka, kain sarungnya berada sekitar 30 centimeter atau sejengkal dari bawah lutut. (*/aha)

To Top