Kasuistika

Jaksa Kembali Periksa Pejabat Bombana

KENDARI, BKK – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Tenggara terus mengintesifkan penyidikan terhadap kasus dugaan pelanggaran royalti PT Panca Logam Makmur. Kali ini, penyidik Kejati Sultra kembali memeriksa dua orang saksi dilingkup Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bombana.

Dua orang tersebut adalah Kepala Bidang (Kabid) Perizinan Bombana, Ardi dan Kadis ESDM Bombana, Yusuf Lara. “Ardi dan Yusuf dimintai keterangan sebagai saksi atas penetapan ketiga orang tersangka sebelumnya,” kata Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasipenkum) dan Humas Kejati Sultra, Janes Mamangkey kepada Berita Kota Kendari, Rabu (12/10).
Ia menambahkan, pemeriksaan ini berkaitan kelengkapan berkas ketiga tersangka yang rencananya akan segera dilimpahkan ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Janes pun mengakui pihaknya menjerat ketiga tersangka dengan Pasal 2 dan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dan ditambahkan dengan Undang-Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi Jo Pasal 55 KUHP.
“Ancaman hukumannya di atas lima tahun penjara sampai 20 tahun penjara,” pungkasnya.
Diketahui, PT PLM diduga telah mengubah laporan produksi emasnya di 2010 – 2011 dari yang seharusnya 15 ton ore menjadi hanya 10 ton ore. Hal ini mengakibatkan negara dirugikan karena mereka membayar royalti dengan jumlah yang kurang dari semestinya.
PT PLM merupakan perusahaan pertambangan emas terbesar di Kabupaten Bombana dengan luas konsesi 500 hektare. Perusahaan tersebut beroperasi sejak tahun 2009 lalu di kecamatan Rarowatu.
Tak sampai di situ, PT PLM juga dilaporkan tidak lagi membayar royaltinya dalam kurun 2012-2015. Dengan demikian, negara mengalami kerugian hingga Rp 21 miliar dari dua kasus tersebut. (m2/aha)

To Top