Kasuistika

BBM Langka, Polsek Lasusua Tertibkan Pengecer

LASUSUA, BKK- Jajaran Polsek Lasusua, Kolaka Utara (Kolut) menyita sedikitnya 46 jeriken yang berisi bensin dan solar dari para pengecer yang biasanya berdagang di depan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU)  Lasusua.

Langkah ini diambil sebagai penertiban terhadap puluhan pengecer bensin dan solar, menyusul semakin banyaknya keluhan dari masyarakat mengenai kelangkaan BBM di SPBU. Masalahnya, meski ribuan liter BBM bensin dan solar baru saja masuk di SPBU, namun hanya dalam hitungan jam SPBU sudah tutup karena kehabisan BBM.
Kapolsek Lasusua, AKP Hasanuddin yang didampingi Wakapolsek Lasusua, Ipda Rahman. SH mengatakan, penertiban dilakukan untuk mencegah praktek penimbunan yang dilakukan para pengecer.
“Saya dan Wakapolsek yang langsung pimpin penyitaan ratusan liter BBM jenis bensin dan Solar dari pengecer. Warga sudah banyak yang mengeluh tentang kekosongan stok BBM di SPBU. Padahal jumlah kendaraan yang ada di Lasusua masih dapat dihitung jumlahnya,” kata Hasanuddin, Rabu (12/10).
Menurut Hasanuddin, para pengecer ini meski telah diberi peringatan untuk tidak melakukan penimbunan BBM secara berlebihan, namun masih tetap membandel. Mereka tetap menjalankan aktivitasnya mengisi BBM dengan modus-modus yang mengelabui pemilik SPBU.
“Kasian masyarakat, apalagi tukang ojek yang hanya mengejar keuntungan beberapa ribu saja, harus harus membeli bensin eceran dengan harga Rp 10.000. Itu pun tidak cukupi 1 liter,” ujar Kapolsek.
Sebelum melakukan penertiban, kata Hasanuddin pihaknya melalui Kamtibmas telah melakukan imbauan dan sosialisasi selama satu minggu untuk tidak menjual bensin di sekitar SPBU. Sayangnya, imbauan itu tidak dipedulikan oleh para pengecer.
“Dalam penegakan hukum, kami juga masih mengedepankan nurani dan perasaan. Namun para pengecer yang sudah menikmati keuntungan berlipat ganda dari bisnis ini, tidak mengindahkan himbauan ini,” katanya.
Sebenarnya, lanjut dia, para pengecer diperbolehkan menjalankan aktivitasnya. Namun dengan syarat, bensin eceran yang dijual tidak boleh lebih Rp 8.000 per liter. Itu pun, jumlahnya tidak boleh berlebihan untuk menjamin pasokan BBM tetap tersedia.

“Upaya penertiban ini dilakukan untuk memastikan ketersedian BBM saat tahapan Pilkada sedang berjalan,” ujarnya.
Di lain sisi, pihak SPBU diminta proaktif dalam mengawasi kendaraan-kendaraan yang melakukan antrian berkali-kali. Sebab seperti itu cara para pengecer mengakali pembatasan dagangannya.
“Pegawai SPBU harus bisa melihat dan membatasi kendaraan-kendaraan yang antri. Kalau sudah berkali-kali, jangan lah dilayani lagi,” ujar Hasanuddin. (k2/lex).

To Top