Suksesi

Mahasiswa Segel Kantor KPU Sultra

RUDINAN/BERITA KOTA KENDARI DIPAKU DAN DICORETI. Massa mahasiswa menyegel pintu kantor KPU Sultra saat berunjuk rasa, menuntut transparansi hasil tes narkotika 11 Bakal Pasangan Calon (Bapaslon) Bupati/Wali Kota dan Wakil Bupati/Wali Kota dari Kendari, Bombana dan Buton Selatan, di BNN Jakarta, Selasa (11/10) kemarin.

RUDINAN/BERITA KOTA KENDARI
DIPAKU DAN DICORETI. Massa mahasiswa menyegel pintu kantor KPU Sultra saat berunjuk rasa, menuntut transparansi hasil tes narkotika 11 Bakal Pasangan Calon (Bapaslon) Bupati/Wali Kota dan Wakil Bupati/Wali Kota dari Kendari, Bombana dan Buton Selatan, di BNN Jakarta, Selasa (11/10) kemarin.

KENDARI, BKK – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Pilkada (AMPP) Sultra, Selasa (11/10) kemarin, menyegel Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sultra serta melakukan aksi vandalisme dengan mencoret dinding dan jendela serta pintu kantor tersebut.

Penyegelan ini dilakukan massa sebagai buntut kekecewaan mereka lantaran tak ada satu komisioner pun yang datang menemui dan mendengarkan tuntutan mereka saat berunjuk rasa. Unjuk rasa itu sendiri berkaitan dengan tuntutan transparansi mengenai hasil tes narkotika para Bakal Pasangan Calon Kepala Daerah dari Kendari, Bombana dan Buton Tengah, di Badan Narkotika Nasional, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Namun karena aksinya tidak diperhatikan oleh pihak KPU, mereka pun masuk ke dalam kantor dan mulai menyisir ruang-ruang kerja para komisioner. Saat melakukan penyisiran, mereka menemukan salah satu anggota komisioner KPU Sultra, Andi Sahibudin yang tengah berada di dalam ruangannya sementara duduk. Di situlah massa tersulut emosinya.
Mereka kemudian mencoba memaksa masuk ke ruangan Andi Sahibuddin. Beruntung, aparat kepolisian yang sedang bertugas menjaga KPU Sultra dengan sigap mengamankan situasi.
Massa pun mengajak Andi Sahibudin untuk menyaksikan proses penyegelan Kantor KPU Sultra. Penyegelan dilakukan dengan memaku pintu utama Kantor KPU Sultra. Tak hanya itu, mereka juga mencoret dinding serta kaca kantor tersebut. Sementara aparat kepolisian tampak tak bisa berbuat banyak mengatasi kemarahan massa mahasiswa ini.
Koordinator Lapangan (Korlap), Muhammad Agus Safar menyatakan tidak percaya lagi dengan KPU Sultra. Penyebabnya, hasil tes narkotika terhadap 11 Bapaslon dari Bombana, Kendari dan Buton Selatan tak pernah mereka ketahui hasilnya.
Padahal menurut mereka, diulangnya tes narkoba pada tiga kabupaten ini karena ada calon yang terindikasi sebagai pemakai narkoba.
“Kami menduga dari tiga daerah itu ada paslon yang berpotensi pengguna aktif narkoba,” teriak Agus dalam orasinya di depan Kantor KPU Sultra.
Dia melanjutkan, narkoba sudah beredar secara luas di Sultra dan karena itu tidak menutup kemungkinan ada calon kepala daerah yang mengkonsumsi narkoba. Harusnya, KPU belajar dari kasus lolosnya Bupati Ogan Ilir, Ahmad Wazir Noviadi dalam tes bebas narkoba saat Pilkada, namun akhirnya ketangkap oleh BNN.
“Dengan ditemukannya Bupati Ogan Ilir merupakan pengguna barang haram tersebut sehingga pihak BNN langsung diintruksikan oleh Presiden RI, Joko Widodo untuk melakukan tes narkoba terhadap tiap-tiap pasangan calon kepala daerah agar tidak terjadi lagi kasus yang sama. Tetapi lagi-lagi pihak KPU Sultra sama sekali tidak mau melakukan pengumuman secara terbuka kepada publik atas hasil tes narkoba kepada 11 pasangan calon kemarin,” katanya.
Dihubungi terpisah, Ketua KPU Sultra, Hidayatullah mengaku sangat kesal dengan tindakan massa yang menyegel Kantor KPU Sultra. Menurut lelaki yang akrab disapa Dayat ini, aksi massa itu salah alamat.
“Yang perlu diketahui, kami dari pihak KPU Sultra sama sekali tidak memegang data hasil tes narkoba. Karena yang memegang hasil tes itu adalah dokter yang langsung diserahkan oleh masing-masing KPU tiap-tiap kabupaten/kota. Massa aksi itu perlu diajar etika dan belajar kritis pada tempatnya,” jelasnya.
Selain itu, lanjut Dayat, penyegelan terhadap Kantor KPU Sultra adalah perbuatan yang tidak masuk akal. Selama ini, pihak KPU Sultra selalu bersifat transparan terhadap seluruh tahapan yang dilakukan.
“Belajar di mana perlakuaan seperti itu, sampai melakukan penyegelan dan mencoret dinding serta kaca KPU Sultra. Untung tidak sampai dilakukan pengrusakan. Kalau sampai kantor KPU dirusaki, saya harus mengambil tindakan hukum dengan melaporkan massa aksi kepada yang berwajib. Ini sama dengan anak TK yang diajar menulis. Saya sebagai kakak, harus memberikan pelajaran kepada mereka,” sindirnya.
Lebih lanjut, Dayat juga menantang massa untuk menunjuk langsung siapa calon kepala daerah yang merupakan pengguna narkoba. Karena menurut Dayat, tuduhan itu sangat serius.
“Kalau mereka memang berani, coba tunjuk hidung. Jika memang massa punyai bukti, silahkan lapor ke polisi. Bukan mendatangi KPU Sultra apalagi sampai melakukan perbuatan seperti ini,” tukasnya.
Dayat juga meminta kepada aparat kepolisian agar lebih sigap dalam mengamankan aksi di dalam Kantor KPU Sultra. Menurutnya, tidak seharusnya massa dibiarkan menyisir ruangan-ruangan untuk mencari komisioner. Apalagi sampai menyegel dan melakukan aksi vandalisme.
“Itu juga persoalannya. Kenapa sampai membiarkan persoalan itu terjadi. Seharusnya polisi itu tanggap dalam melihat kondisi-kondisi seperti ini. Jangan hanya sebatas diam saja. Kenapa sampai didiamkan. Yang pasti saya merasa terganggu dengan perbuatan massa aksi seperti ini,” pungkasnya. (p5/aha)

To Top