Bisnis & Ekonomi

Era Uang Elektronik Dimulai

AKBAR HAMDAN/BERITA KOTA KENDARI SOSIALISASI TCASH. Spv High Value Costumer, Telkomsel Branch Kendari, Riyan Yanuardi Thamrin (kiri), Marcom Telkomsel area Sulawesi, Maylia Usmani (tengah), owner Bangi Kopitiam, Leonard (ketiga dari kanan) beserta personil Armada Band memperlihatkan stiker Tcash dalam peresmian Bangi Kopitiam Kendari sebagai merchant pertama Tcash di area Sulawesi Tenggara, Senin (10/10) kemarin.

AKBAR HAMDAN/BERITA KOTA KENDARI
SOSIALISASI TCASH. Spv High Value Costumer, Telkomsel Branch Kendari, Riyan Yanuardi Thamrin (kiri), Marcom Telkomsel area Sulawesi, Maylia Usmani (tengah), owner Bangi Kopitiam, Leonard (ketiga dari kanan) beserta personil Armada Band memperlihatkan stiker Tcash dalam peresmian Bangi Kopitiam Kendari sebagai merchant pertama Tcash di area Sulawesi Tenggara, Senin (10/10) kemarin.

KENDARI, BKK– Gerakan Nasional Non Tunai kian agresif diperkenalkan di masyarakat kota, termasuk di Kota Kendari. Jika sebelumnya Bank Indonesia, Pemkot Kendari dan BRI mensosialisasikan Kendari Smart Card sebagai alat pembayaran elektronik atau virtual, kini giliran Telkomsel menggeber produk serupa, Telkomsel Cash atau Tcash.
Perluasan penggunaan Tcash di Kendari ditandai dengan peresmian Bangi Kopitiam sebagai merchant pertama Tcash di Sulawesi Tenggara, Senin (10/10) kemarin. “Tak lama lagi, akan menyusul KFC (Kentucky Fried Chicken) dan yang lainnya. Kita targetkan ada lima merchant di tahun ini dan semakin banyak lagi di tahun depan,” kata Spv High Value Costumer, Telkomsel Branch Kendari, Riyan Yanuardi Thamrin dalam jumpa pers di Bangi Kopitiam, Kendari, kemarin.
Riyan menjelaskan, Tcash bisa diartikan sebagai tempat penyimpanan uang virtual bagi pengguna Telkomsel, dan secara garis besar punya kemiripan dengan rekening bank. Hanya saja, Tcash punya banyak kelebihan.
Diantaranya, simpanan atau deposit saldo di Tcash tidak memerlukan biaya pemeliharaan alias tidak ada potongan seperti yang lazim di rekening bank. “Jadi berapa pun depositnya, tidak akan berubah sampai kapan pun. Asalkan masih menggunakan nomor Telkomsel yang sama,” ujar Riyan.
Pembuatan Tcash pun tak perlu ribet. Cukup membeli stiker Tcash dengan harga Rp 5.000 di GraPARI maupun merchant mitra, yakni Bangi Kopitiam Kendari dalam hal ini. Setelah itu, pengguna Telkomsel sudah bisa mengisi saldo atau depositnya minimal Rp 25.000 dan menggunakannya kapan saja.
Stiker Tcash sendiri dilengkapi dengan teknologi pemindai NFC (near field communication) yang akan menjadi semacam kartu debit. Umumnya, stiker Tcash ditempel di ponsel pengguna. Stiker inilah yang digunakan sebagai media transaksi pada mesin pemindai seperti EDC di merchant-merchant mitra Telkomsel.
Kelebihan lainnya, transaksi di merchant-merchant mitra dikenakan diskon khusus. “Seperti di Kopitiam, setiap transaksi akan mendapat potongan 10 persen. Kalau transaksi Tcash di atas Rp 100 ribu, dapat scoup ice cream secara cuma-cuma,” kata Riyan yang diamini owner Bangi Kopitiam Kendari, Leonard.

Soal keamanan, itu pun tak perlu dikhawatirkan. Stiker Tcash juga dilengkapi dengan Personal Identification Number atau PIN. Asalkan tidak ada orang lain yang tahu PIN Tcash tersebut, maka deposit atau saldo pengguna tetap aman.
“Kalau seumpama stikernya hilang atau dicuri, orang lain tidak bisa membajak deposito yang ada di dalamnya. Karena ada PINnya, ada pengamannya. Sepanjang nomor PIN itu tidak diketahui orang lain, tentunya aman saja,” tambah Riyan.
Kelebihan lainnya, Tcash juga bisa digunakan untuk transaksi kebutuhan penting, seperti pembayaran rekening listrik dan tentu saja, mengisi pulsa Telkomsel sendiri, baik untuk penggunanya maupun kerabat.
Saat ini, pengguna Tcash di Sulawesi Tenggara sudah mencapai 8.700 dari 1,5 juta pelanggan aktif Telkomsel. Telkomsel Kendari sendiri sangat optimis jumlah pengguna Tcash akan terus bertumbuh seiring bertambahnya jumlah merchant juga massifnya gerakan nasional non tunai.
“Sekarang lebih aman menggunakan uang elektronik daripada menyimpan uang tunai di dompet. Risiko kehilangan atau pecahnya uang besar bisa dikurangi,” katanya.
Marketing Communication Telkomsel Area Sulawesi, Maylia Usmani mengatakan, di kota-kota besar, penggunaan uang elektronik seperti Tcash sudah sangat lazim. Sebab masyarakat sudah memahami dan merasakan manfaat dari uang elektronik ini.
“Di Makassar itu sudah ada 37 merchant, seperti Coffee Bean, McDonald, biskop XXI, Wendy’s dan lain-lain. Banyak yang suka pakai Tcash karena mereka dapat potongan harga produk dari merchant,” kata Maylia.
Jumpa pers tersebut juga turut dihadiri oleh vokalis Armada Band, Rizal beserta personil band yang top lewat lagu ‘Pergi Pagi Pulang Pagi’ ini. Sebelumnya, Armada Band tampil mengisi Karnaval Hiburan Telkomsel Kendari, di Lapangan Tugu MTQ, Minggu (9/10).

***

Transaksi non tunai pun terus bertumbuh. Menurut catatan Bank Indonesia, ada tiga jenis transaksi non tunai yang berkembang.

Pertama, transaksi ATM terutama melalui tranfer antarrekening. Sejak 2014 lalu, transaksi ATM nontunai terus memperlihatkan grafik naik. Di akhir 2014 lalu, transaksi ATM berkisar antara Rp 6 triliun – Rp 8 triliun per hari. Lalu di 2016, hingga Juli lalu sudah menembus antara Rp 8 triliun – Rp 11 triliun per hari.

Kedua, transaksi kartu kredit belanja juga menunjukkan pertumbuhan meski tidak seagresif kartu ATM. Sebagai perbandingan, di 2014, transaksi belanja kartu kredit berkisar antara Rp Rp 640 miliar hingga Rp 730 miliar per hari. Di 2016 ini, transaksi belanja juga tumbuh pelan antara Rp 670 miliar hingga Rp 780 miliar per hari.

Yang ketiga adalah transaksi uang elektronik. Inilah jenis transaksi non tunai terbaru dan tengah digadang-gadang sebagai model belanja yang baru. Presiden Joko Widodo bahkan sudah mengarahkan agar seluruh bantuan sosial dari pemerintah disalurkan dalam uang elektronik di 2016 ini.

“Insya Allah di Oktober ini sudah diujicoba,” kata Ricky Satria, Deputi Direktur Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran, Bank Indonesia, dalam acara pertemuan Bank Indonesia dengan 200 wartawan daerah se Indonesia, di Hotel Grand Mercure, Selasa (4/9) lalu.

Ricky menjelaskan, dalam penyaluran bansos tahun ini, masyarakat penerima akan diberikan kartu uang elektonik. Kartu inilah yang nantinya diisikan uang elektonik untuk selanjutnya digunakan belanja kebutuhan sehari-hari, sesuai dengan jenis bantuan sosial yang dia dapatkan. Seperti diketahui, ada banyak model bansos yang diberikan pemerintah pusat, mulai beras, sembako, peralatan sekolah, kebutuhan ibu hamil hingga bayi dan lainnya.

Bansos melalui kartu ini pun sangat banyak manfaatnya. Salah satunya menghindari terjadinya korupsi. “Dulu saat pembagian bantuan uang tunai, yang 300 ribu per tiga bulan itu, ada banyak sekali laporan terjadi pemotongan oleh oknum penyalur. Dipotong 20 ribulah, 30 ribulah. Orang yang terima bantuan itu kan selalu bilang biarkan saja. Tapi kalau model kartu, tak bisa dipotong lagi. Penerima benar-benar mendapatkan jumlah sesuai yang diputuskan pemerintah,” kata Ricky.

Manfaat lainnya, mencegah penyalahgunaan bantuan dari sisi penerima. Pasalnya, tidak sedikit penerima memanfaatkan kartunya untuk belanja yang tidak sesuai peruntukkannya. Yang paling sering, untuk membeli pulsa telekomunukasi. Padahal bantuan itu seharusnya digunakan untuk kebutuhan pendidikan dan kesehatan.

Belajar dari situasi sebelumnya, pemerintah pun membuat regulasi agar kartu itu dibelanjakan sesuai dengan peruntukkannya. Di bidang pendidikan misalnya, pengguna kartu bansos ini akan diarahkan untuk berbelanja di sekolahnya masing-masing. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pun sudah diinstruksikan untuk segera melengkapi koperasi-koperasi sekolah dengan alat penerima transaksi kartu elektronik.

“Kalau mau beli beras, sekarang sudah ada e-warong (warung berbasis elektronik). Di saja juga sudah ada mesin transaksinya,” kata Ricky yang ikut menyusun teknologi uang elektronik ini.

***

Penggunaan uang elektronik sebagai instrumen transaksi non tunai memang sudah banyak dilakukan di kota-kota besar. Bahkan di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, uang elektronik ini sudah diluncurkan meski masih sebatas untuk kalangan PNS di Pemkot Kendari. Setiap PNS di Pemkot Kendari, sudah mengantongi kartu BRI yang digandeng Pemkot dan BI sebagai mitra penyalur uang elektronik yang dinamakan Kendari Smart Card.
Kartu tersebut sudah bisa digunakan untuk berbelanja di outlet yang menggunakan logo Brizzi. Ke depan, Kendari Smart Card ini akan semakin diperluas agar bisa dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.
Transaksi non tunai pun terus bertumbuh. Menurut catatan Bank Indonesia, ada tiga jenis transaksi non tunai yang berkembang. Pertama, transaksi ATM terutama melalui tranfer antarrekening.
Sejak 2014 lalu, transaksi ATM non tunai terus memperlihatkan grafik naik. Di akhir 2014 lalu, transaksi ATM berkisar antara Rp 6 triliun – Rp 8 triliun per hari. Lalu di 2016, hingga Juli lalu sudah menembus antara Rp 8 triliun – Rp 11 triliun per hari.
Kedua, transaksi kartu kredit belanja juga menunjukkan pertumbuhan meski tidak seagresif kartu ATM. Sebagai perbandingan, di 2014, transaksi belanja kartu kredit berkisar antara Rp Rp 640 miliar hingga Rp 730 miliar per hari. Di 2016 ini, transaksi belanja juga tumbuh pelan antara Rp 670 miliar hingga Rp 780 miliar per hari.
Yang ketiga adalah transaksi uang elektronik. Inilah jenis transaksi non tunai terbaru dan tengah digadang-gadang sebagai model belanja yang baru. Presiden Joko Widodo bahkan sudah mengarahkan agar seluruh bantuan sosial dari pemerintah disalurkan dalam uang elektronik di 2016 ini.
“Insya Allah di Oktober ini sudah diujicoba,” kata Ricky Satria, Deputi Direktur Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran, Bank Indonesia, belum lama ini.
Transaksi uang elektronik sepanjang 2015 pun terus bertumbuh antara Rp 9 miliar hingga Rp 19 miliar per hari. Sampai Agustus 2016, transaksi uang elektronik melonjak drastis menjadi rata-rata Rp 18,1 miliar per hari.
Metode transaksi uang elektronik ini pun terus dipermudah. Bahkan sudah ada teknologi transfer uang hanya dengan saling menempelkan ponsel, seperti Tcash milik Telkomsel.
Di seluruh Indonesia, sudah tersebar 1000 agen dari 1400 agen uang elektronik yang ditargetkan BI. (*)

To Top