Headline

Warga Hukohuko Jadi Pengungsi Semalam

ARMIN/BERITA KOTA KENDARI MENGUNGSI. Sebagian warga Desa Hukohuko, Kecamatan Pomalaa, terlihat mengungsi setelah banjir kian meninggi, Sabtu (8/10) malam lalu. Sementara hujan yang terjadi sepanjang Sabtu juga menyebabkan Jembatan Baula yang menghubungkan Kecamatan Baula dan Kota Kolaka terancam putus. Jembatan Baula yang menghubungkan kota Kolaka ambruk akibat hantaman banjir, sehingga tidak bisa lagi digunakan. (Foto: Armin/BKK)

ARMIN/BERITA KOTA KENDARI
MENGUNGSI. Sebagian warga Desa Hukohuko, Kecamatan Pomalaa, terlihat mengungsi setelah banjir kian meninggi, Sabtu (8/10) malam lalu. Sementara hujan yang terjadi sepanjang Sabtu juga menyebabkan Jembatan Baula yang menghubungkan Kecamatan Baula dan Kota Kolaka terancam putus.

Jembatan Baula yang menghubungkan kota Kolaka ambruk akibat hantaman banjir, sehingga tidak bisa lagi digunakan. (Foto: Armin/BKK)

Jembatan Baula yang menghubungkan kota Kolaka ambruk akibat hantaman banjir, sehingga tidak bisa lagi digunakan. (Foto: Armin/BKK)

KOLAKA, BKK- Ratusan warga Desa Hukohuko, Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, sempat merasakan menjadi warga pengungsian setelah sebelumnya banjir setinggi dua meter melanda permukiman mereka, Sabtu (8/10) malam.

Hujan deras yang mengguyur Kecamatan Pomalaa? dan sekitarnya sejak Sabtu siang menyebabkan Sungai Hukohuko meluap dan kemudian memicu banjir. Banjir yang menyergap menjelang sore hari, membuat warga sempat panik. Apalagi, ketinggian air terus bertambah dan hujan tak kunjung reda.
Sebagian besar warga langsung mengevakuasi barang-barang berharga mereka dan secepatnya mengungsi ke rumah keluarga mereka yang tidak terkena banjir. Sebagian lagi memilih SDN 1 Hukohuko yang dijadikan pokso penampungan yang dibuat tim Tanggap Darurat Bencana (TDB).
Evakuasi massal ini juga turut melibatkan personil Batalyon TNI 725/Woroagi Longori. Meski air sudah mulai surut sekitar pukul 21.00 ?Wita, warga yang mengungsi belum diperkenankan kembali ke rumah masing-masing, sebab ditakutkan terjadi banjir susulan.
Pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan dinas sosial Kolaka serta PT Antam UBP Nikel Sultra, ikut terjun ke lokasi penampungan dengan memberikan bantuan darurat pada korban banjir, terutama makanan dan keperluan sehari-hari.
Menurut salah seorang warga Hukohuko, Wahyudi, sebelum banjir, terlebih dahulu terjadi hujan deras sekitar pukul 12.00 Wita. “Sekitar jam 5 sore, tiba-tiba datang air dari belakang karena ada sungai di sana meluap, kita kaget dan keluar, ternyata air sudah sampai di jalan raya,” kata Wahyudi.
Dia melanjutkan, karena banjir semakin meluas dan meninggi, Wahyudi dan tetangganya berinisiatif meninggalkan rumahnya untuk selanjutnya mengungsi ke tempat yang lebih aman. “Kita lari mengungsi ke SDN Hukohuko, ada juga yang ke rumah keluarganya yang tidak ada banjir,” ungkap Wahyudi.
Kapolsek Pomalaa AKP Bachtiar Thayeb, mengungkapkan, bencana alam ini tidak menimbulkan korban jiwa. Namun ratusan rumah warga dipastikan terendam banjir. Belum diketahui berapa kerugian yang ditimbulkan akibat bencana ini.
“Kita masih kalkulasi kerusakannya, yang jelas ratusan rumah terendam, untuk sementara tidak ada laporan korban jiwa,” kata AKP Bachtiar Thayeb.
Minggu (9/10) kemarin, seluruh warga yang sempat mengungsi akhirnya diperbolehkan kembali ke rumahnya. Sesampai di rumah masing-masing, warga langsung membersihkan sisa-sisa lumpur yang sempat terbawa oleh banjir.
Sementara itu, hujan deras sepanjang Sabtu lalu juga membuat pinggiran jembatan penghubung Kecamatan Baula dan Kota Kolaka ambruk. Derasnya aliran sungai membuat bangunan yang sudah berdiri lebih 30 tahun itu tak lagi bisa menahan beban dan akhirnya terperosok.
Peristiwa yang terjadi pada Sabtu sore itu menjadi tontonan warga. Beberapa warga bahkan sempat mengabadikan proses ambruknya sebagian jembatan akibat diterjang arus air yang sangat kencang.
Yang jadi masalah, jembatan itu merupakan satu-satunya akses jalan yang menghubungkan Baula-Kolaka. Karena itu, sejumlah pemotor tetap nekat melintasi jembatan yang sudah terkikis sebagian itu. Tidak ingin ada korban, warga pun berinisiatif menutup akses menuju jembatan tersebut dengan memasang tanda larangan seadanya.
“?Sekitar jam 12 (siang), air meluap dan mengikis bronjong jembatan. Akibatnya jembatan ambruk,” kata salah seorang warga Baula, Edy Syam ditemui Sabtu sore.
Edy mengakui jembatan Baula merupakan jembatan tua. Usianya diperkirakan sudah sekitar 30 tahun. Karena itu, warga berharap Pemprov atau pun Pemkab Kolaka segera merehabilitasi jembatan tersebut karena perannya sangat penting dalam menunjang mobilitas warga.
“Kami berharap pemerintah Kolaka segera menangani jembatan yang putus ini, apalagi jembatan ini satu-satunya penghubung jalan menuju kota Kolaka, mes?kipun kami tahu ini jalan nasional yang merupakan kewenangan Provinsi,” harap Edy Syam.
Adapun warga yang ingin ke Baula, diminta untuk lewat jalan bypass meskipun jarak dan waktu tempuh harus lebih lama. Minggu (9/10) kemarin, warga setempat membuat jembatan darurat dari kayu yang hanya bisa diewati kendaraan roda dua.
“Ini jembatan kita bangun untuk membantu warga setempa?t, sehingga mereka tidak perlu lagi berputar yang jaraknya cukup jauh kalau mau ke rumah saudaranya,” kata Edy Gunawan. (cr3/aha)

To Top