Uang Elektronik, Alat Pembayaran Masa Depan – Berita Kota Kendari
Feature

Uang Elektronik, Alat Pembayaran Masa Depan

AKBAR HAMDAN/BKK ATRAKTIF. Ricky Satria, Deputi Direktur Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran, Bank Indonesia menjelaskan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) yang mulai dikampanyekan pemerintah. Penggunaan uang elektronik akan mencegah praktik korupsi, keborosan dan mendidik masyarakat berbelanja secara tepat dan aman.

AKBAR HAMDAN/BKK
ATRAKTIF. Ricky Satria, Deputi Direktur Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran, Bank Indonesia menjelaskan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) yang mulai dikampanyekan pemerintah. Penggunaan uang elektronik akan mencegah praktik korupsi, keborosan dan mendidik masyarakat berbelanja secara tepat dan aman.

Lompatan teknologi yang terus terjadi banyak mengubah gaya hidup masyarakat. Transaksi keuangan salah satunya. Dari yang dulunya datang belanja dengan uang tunai, kini beralih ke belanja online dengan sistim transfer, baik melalui ATM, SMS atau internet banking, kartu kredit ataupun debit. Dan saat ini, sudah ditambah dengan uang elektronik.

****

Teknologi memang kian memudahkan banyak urusan. Termasuk sistem pembayaran. Uang tunai makin sedikit di dompet. Masyarakat lebih banyak menyimpan uang dalam rekening bank, dan hanya membelanjakannya dengan kartu ATM atau debit. Apalagi, mesin-mesin pembaca kartu ATM atau biasa disebut dengan EDC sudah tersebar di banyak outlet. Inilah yang disebut dengan belanja non tunai. Transaksi tanpa menggunakan uang tunai.

Transaksi non tunai pun terus bertumbuh. Menurut catatan Bank Indonesia, ada tiga jenis transaksi non tunai yang berkembang.

Pertama, transaksi ATM terutama melalui tranfer antarrekening. Sejak 2014 lalu, transaksi ATM nontunai terus memperlihatkan grafik naik. Di akhir 2014 lalu, transaksi ATM berkisar antara Rp 6 triliun – Rp 8 triliun per hari. Lalu di 2016, hingga Juli lalu sudah menembus antara Rp 8 triliun – Rp 11 triliun per hari.

Kedua, transaksi kartu kredit belanja juga menunjukkan pertumbuhan meski tidak seagresif kartu ATM. Sebagai perbandingan, di 2014, transaksi belanja kartu kredit berkisar antara Rp Rp 640 miliar hingga Rp 730 miliar per hari. Di 2016 ini, transaksi belanja juga tumbuh pelan antara Rp 670 miliar hingga Rp 780 miliar per hari.

Yang ketiga adalah transaksi uang elektronik. Inilah jenis transaksi non tunai terbaru dan tengah digadang-gadang sebagai model belanja yang baru. Presiden Joko Widodo bahkan sudah mengarahkan agar seluruh bantuan sosial dari pemerintah disalurkan dalam uang elektronik di 2016 ini.

“Insya Allah di Oktober ini sudah diujicoba,” kata Ricky Satria, Deputi Direktur Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran, Bank Indonesia, dalam acara pertemuan Bank Indonesia dengan 200 wartawan daerah se Indonesia, di Hotel Grand Mercure, Selasa (4/9) lalu.

Ricky menjelaskan, dalam penyaluran bansos tahun ini, masyarakat penerima akan diberikan kartu uang elektonik. Kartu inilah yang nantinya diisikan uang elektonik untuk selanjutnya digunakan belanja kebutuhan sehari-hari, sesuai dengan jenis bantuan sosial yang dia dapatkan. Seperti diketahui, ada banyak model bansos yang diberikan pemerintah pusat, mulai beras, sembako, peralatan sekolah, kebutuhan ibu hamil hingga bayi dan lainnya.

Bansos melalui kartu ini pun sangat banyak manfaatnya. Salah satunya menghindari terjadinya korupsi. “Dulu saat pembagian bantuan uang tunai, yang 300 ribu per tiga bulan itu, ada banyak sekali laporan terjadi pemotongan oleh oknum penyalur. Dipotong 20 ribulah, 30 ribulah. Orang yang terima bantuan itu kan selalu bilang biarkan saja. Tapi kalau model kartu, tak bisa dipotong lagi. Penerima benar-benar mendapatkan jumlah sesuai yang diputuskan pemerintah,” kata Ricky.

Manfaat lainnya, mencegah penyalahgunaan bantuan dari sisi penerima. Pasalnya, tidak sedikit penerima memanfaatkan kartunya untuk belanja yang tidak sesuai peruntukkannya. Yang paling sering, untuk membeli pulsa telekomunukasi. Padahal bantuan itu seharusnya digunakan untuk kebutuhan pendidikan dan kesehatan.

Belajar dari situasi sebelumnya, pemerintah pun membuat regulasi agar kartu itu dibelanjakan sesuai dengan peruntukkannya. Di bidang pendidikan misalnya, pengguna kartu bansos ini akan diarahkan untuk berbelanja di sekolahnya masing-masing. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pun sudah diinstruksikan untuk segera melengkapi koperasi-koperasi sekolah dengan alat penerima transaksi kartu elektronik.

“Kalau mau beli beras, sekarang sudah ada e-warong (warung berbasis elektronik). Di saja juga sudah ada mesin transaksinya,” kata Ricky yang ikut menyusun teknologi uang elektronik ini.

***

Penggunaan uang elektronik sebagai instrumen transaksi non tunai kini sudah banyak dilakukan di kota-kota besar. Bahkan di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, uang elektronik ini sudah diluncurkan meski masih sebatas untuk kalangan PNS di Pemkot Kendari. Setiap PNS di Pemkot Kendari, sudah mengantongi kartu BRI yang digandeng Pemkot dan BI sebagai mitra penyalur uang elektronik yang dinamakan Kendari Smart Card.

Kartu tersebut sudah bisa digunakan untuk berbelanja di outlet yang menggunakan logo Brizzi. Ke depan, Kendari Smart Card ini akan semakin diperluas agar bisa dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.

Ricky menceritakan, di masa awal memimpin Jakarta, Gubernur Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok pernah meminta masukan dari BI agar bagaimana kebocoran anggaran dapat ditekan. BI pun mengusulkan agar masyarakat dibiasakan bertransaksi melalui elektronik. Maka kemudian, diluncurkan lah Jak-One sebagai tema kartu uang elektronik.

“Sekarang senang itu dinas pendapatan daerahnya. Sebab pemasukan dari parkirnya melonjak drastis. Orang kan sekarang bayar parkir pakai uang elektronik. Langsung masuk ke kas daerah. Makanya jika ada yang menolak penggunaan uang elektronik, artinya dia ketakutan,” jelasnya.

Dari Jakarta, kartu ceras uang elektronik ini pun meluas ke daerah lain. Di Bandung, diluncurkan Smart Card Juara, di Makassar, Smart Card Makassar dan di Sumatera Utara, disebut SEPP. Termasuk Kota Kendari seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Transaksi uang elektronik sepanjang 2015 pun terus bertumbuh antara Rp 9 miliar hingga Rp 19 miliar per hari. Sampai Agustus 2016, transaksi uang elektronik melonjak drastis menjadi rata-rata Rp 18,1 miliar per hari.

Metode transaksi uang elektronik ini pun terus dipermudah. Bahkan sudah ada teknologi transfer uang hanya dengan saling menempelkan ponsel, seperti yang dirancang oleh Telkomsel.

Di seluruh Indonesia sudah tersebar 1000 agen dari 1400 agen yang ditargetkan BI. “Cara penggunaannya kita buat sesimpel mungkin. Karena kita tahu orang tak mau direpotkan dengan petunjuk yang sangat banyak. Kalau seumpama transaksi lewat SMS, kita bikin sepraktis mungkin,” katanya.

Masyarakat pun tak perlu khawatir dengan masalah jaringan. Sebab meski sinyal hanya tinggal satu bar, transaksi masih bisa berhasil. Sebab jaringan yang digunakan di bawah GPRS. Dengan kata lain, dengam model ponsep keluaran lama sekalipun, transaksi uang elektronik ini bisa berjalan lancar melalui metode SMS.

“Yang perlu dijaga adalah nomor PINnya. Jangan pakai tanggal lahir, angka berurut 123456 atau 987654. Supaya kalau seumpama hilanh, tak bisa digunakan sama orang lain,” tandasnya.

Menggunakan uang elektronik, juga bisa mencegah pemborosan. Bandingkan kalau seumpama mengantongi uang tunai Rp 100.000, bisa bertahan sampai kapan agar tidak pecah. Yang jadi masalah, jika sudah menjadi pecahan kecil, habisnya akan berlangsung dengan cepat.

“Tapi kalau uangnya elektronik, setiap pecahan masih tersimpan dengan aman. Coba uang kertas, kalau sudah pecah, bisa ke mana-mana itu uang kecilnya. Belum lagi kalau hilang, entah karena salah taruh atau terjatuh saat mau dimasukin dalam kantong.” (*)

To Top