Mantan Kabid Pertambangan Bombana Diperiksa – Berita Kota Kendari
Headline

Mantan Kabid Pertambangan Bombana Diperiksa

KENDARI, BKK – Dalam upaya melakukan penuntasan kasus dugaan manipulasi data hasil produksi emas PT Panca Logam Makmur (PLM) Tahun 2010-2011 dan kasus Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Royalti ke Kas Negara Tahun 2012-2015, penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sultra kembali melakukan pemeriksaan salah seorang saksi, Senin (3/10).

Saksi tersebut adalah mantan Kepala Bidang (Kabid) Pertambangan Kabupaten Bombana, Sahrun. Diaa diperiksa di ruang penyidik pidana khusus Kejati Sultra atas kasus dugaan PNBP Royalti yang sama sekali tidak menyetor ke kas negara mencapai Rp 9 miliar.

Kepala Seksi Penerangan Hukum dan Hubungan Masyarakat Kejati Sultra, Janes Mamangkey SH saat ditemui di ruang kerjanya mengatakan, saat ini pihaknya terus melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi atas kasus tersebut. Setelah menetapkan tiga orang tersangka di kasus PT PLM penyidik kembali memeriksa Sahrun untuk dimintai keterangan sebagai saksi.

“Hari ini satu orang yang kami periksa yaitu Sahrun. Dia diperiksa untuk dimintai keterangan saat menjabat sebagai Kabid Dinas Pertambangan Bombana Tahun 2012 sampai Agustus 2015 lalu,” jelas Janes kepada Berita Kota Kendari.

Dikonfirmasi mengenai penetapan tersangka akan bertambah, Janes belum bisa memastikan. Pasalnya, masih akan ada pemeriksaan lanjutan yang akan dilakukan pihak Kejati.

“Yang penting sudah ada orang yang ditetapkan sebagai tersangka. Meskipun baru tiga orang. Intinya kami akan terus lakukan pemeriksaan dan pengembangan kasus ini untuk penambahan tersangka lainnya. Kalau ada yang terbukti lagi, maka kami akan kembali menetapkan tersangka,” cetusnya.

Sebelumnya dalam kasus ini, penyidik telah menetapkan tiga orang tersangka yang diduga terlibat dalam kasus manipulasi data hasil produksi emas. Ketiga orang tersebut yakni Kepala Biro Administrasi Keuangan PT PLM, Fachlawi Mujur Saleh, karyawan accounting, Made Susastra, dan Wakil Direktur PT PLM, Rizal Fachreza.

Diketahui, modus kasus ini yakni perubahan laporan hasil produksi yang seharusnya 15 ton ore emas per tahun tetapi laporannya diubah menjadi 10 ton ore emas per tahun. Sementara penikmat uang tersebut belum dapat diungkapkan oleh pihak Kejati Sultra. PT PLM merupakan perusahaan pertambangan emas terbesar di Kabupaten Bombana dengan luas konsesi 500 hektare. Perusahaan tersebut beroperasi sejak 2009 lalu di Kecamatan Rarowatu.

PT PLM melakukan dua pelanggaran hukum sekaligus, yakni Tahun 2010-2011 PT PLM melakukan pemalsuan data hasil produksi emas yang mengakibatkan kerugian negara mencapai Rp 12 miliar sementara ditahun 2012-2015 PT PLM tidak menyetorkan PNBP yang mengakibatkan negara mengalami kerugian Rp 9 miliar. (p5)

To Top