Feature

Mengenalkan Kembali Bidadari Khayangan yang Turun di Tangkeno

RIDHA/BERITA KOTA KENDARI PUTRI KHAYANGAN. Bidadari dari Khayangan yang diperankan warga Bombana tampil di festival yang mengangkat kebudayaan Suku Moronene, di Desa Tangkeno, Kabaena, Bombana, akhir pekan lalu. Tampak Pj Bupati Bombana, Hj Sitti Saleha (kedua dari kiri) saat mengikuti acara pembukaan Festival Tangkeno 2016.

RIDHA/BERITA KOTA KENDARI
PUTRI KHAYANGAN. Bidadari dari Khayangan yang diperankan warga Bombana tampil di festival yang mengangkat kebudayaan Suku Moronene, di Desa Tangkeno, Kabaena, Bombana, akhir pekan lalu. Tampak Pj Bupati Bombana, Hj Sitti Saleha (kedua dari kiri) saat mengikuti acara pembukaan Festival Tangkeno 2016.

Kawasan plaza Desa Wisata Tangkeno, Kabaena, atau lebih dikenal dengan Negeri di Awan yang meliputi, rumah adat, penginapan, masjid, gazebo, serta taman parkir, Sabtu (24/9) lalu, disulap menjadi arena pegelaran seni budaya. Sebuah anjungan diadakan sebagai panggung pertunjukan beragam budaya Moronene Thokotu’a bertajuk “Festival Tangkeno 2016”

Laporan:  Ahmad Ridha,
Kabaena, Bombana

Di bawah anjungan disiapkan sebagai arena pertunjukan tarian khas suku Moronene di Kabupaten Bombana, dilengkapi kereta yang diperuntukkan khusus bagi Anakia atau Mokole alias bangsawan. Acara ini dibuka secara resmi oleh Pj Bupati Bombana, Hj. Sitti Saleha yang didampingi Kapolres Bombana, AKBP Hery Susanto dan seluruh kepala SKPD di daerah itu.
Festival Tangkeno ini dijadwal akan berlangsung mulai 24 hingga 29 September mendatang. Berbagai atraksi kesenian tradisional akan diperlombakan dalam kegiatan ini.
Pada acara pembukaan, sejumlah penari tampil mementaskan tarian khas Moronene, seperti Tari Lumense, Tari Motasu serta sebuah tarian yang menghadirkan “Putri Tangkeno” yang diibaratkan sebagai seorang bidadari yang turun dari khayangan.
Kehadiran sang putri ini membuat para undangan dan penonton tersentak kagum. Terlebih, alam terkesan ikut memberikan efek dramatisasi. Pasalnya, saat sang bidadari bergerak, awan tebal ikut berarak di puncak bukit.
Sang bidadari datang dengan mengendarai kereta kencana yang disebut Kalemba Pekativa’a, dengan iringan awan bagai hamparan kapas putih dengan cepat menyelimuti areal Plaza Tangkeno tersebut. Hanya butuh waktu kurang lebih 20 menit, awan tebal menyelimuti lokasi kegiatan hingga menyebabkan jarak pandang terganggu.
“Sakral memang acara ini. Tadi sebelum putri Tangkeno dihadirkan, awan masih berada jauh dipuncak bukit, setelah pembaca sinopsis tadi berkata sambutlah bidadari kayangan, tiba-tiba kita semua diselimuti awan tebal,” ujar Pajawa Tarika, Kepala Kantor Perizinan Terpadu Bombana.
Putri Tangkeno sendiri diibaratkan bidadari yang turun dari khayangan, sehingga kedatangan awan tebal di areal tersebut dipercaya sebagai pertanda baik dan merupakan karunia dari Allah swt.
Dikawal delapan orang penari yang terdiri dari empat orang laki-laki, serta empat pengawal perempuan lainnya, putri Tangkeno diibaratkan sedang bermain di atas awan sembari menikmati panorama di sekitarnya.
Mahkota sang putri bermotif bosu-bosu yang dipakainya berbentuk setengah lingkaran yang menghadap ke bawah, menyerupai bentuk payung dimaknai sebagai pengayom atau raja yang senantiasa menjadi pelindung masyarakat .
Pakaian dengan motif khas Bombana ini pula disebut sebagai perpaduan Burisinita, Bosu-Bosu, serta Soronga, yang memiliki keunikan tersendiri dan sarat makna. Warna biru merupakan simbol hamparan langit.
Sementara, warna putih abuabu merupakan simbol gugusan awan tebal. Pada sabuk pakaian sang putri, terdapat simbol kampiri atau lumbung padi yang berarti daerah tersebut merupakan daerah penghasil beras.
Masyarakat dimaksud berasal dari kehidupan yang berbeda, namun hidup saling menghargai dan menghormati serta taat kepada pimpinan mereka dengan penuh tanggung jawab dan bijaksana.
Dari keterangan yang diperoleh, cerita ini masih terus dilestarikan oleh masyarakat setempat. Hal ini pula ditandai dengan masih adanya tujuh buah lesung batu yang berdiri kokoh diatas air terjun yang diberi nama Tondopano yang dipercaya sebagai tempat turunnya sang bidadari Tangkeno tersebut.
“Inilah momen yang saya tunggu, karena sesuai dengan namanya ‘Tangkeno Negeri di Awan,” ujar, Kapolres Bombana AKBP Hery Susanto SIk, disela pose bersama dengan para pejabat daerah lainnya.
Sementara itu, Pj Bupati Bombana, Hj Sitti Saleha mengatakan, desa Tangkeno merupakan destinasi wisata unggulan di daerah itu. “Desa Tangkeno ini adalah destinasi wisata unggulan daerah kita. Desa ini memiliki keindahan dan keberagaman budaya. Saya berharap, Festival tangkeno ini terus berjalan sebagai ajang promosi daerah yang kita cintai ini,” ungkap, Saleha.
Sebelumnya, Pj Bupati Bombana dan rombongan tiba di Pelabuhan Batuawu dan langsung menuju aula pertemuan Kecamatan Kabaena Selatan sekitar jam 10.30 dan langsung memimpin rapat koordinasi kepala desa, lurah dan camat se Pulau Kabaena.
Usai memimpin Rakor, Saleha dan rombongan bertolak menuju Desa Tirongkotua, Kecamatan Kabaena untuk memperkenalkan desa mereka yang mengusung tagline desa ‘Berirama’ itu sebelum akhirnya ke Tangkeno.
Di desa Tirongkotu’a ini, Bupati Saleha dan Rombangan disuguhkan sejumlah seni tradisional seperti pencak silat (Mansa), musik bambu, dan ore-ore kreasi (perpaduan bunyi bilah kayu bernada, gendang dan bambu serta ohoohi yang dilantukan oleh seorang nenek sebut saja Haliina (83 tahun).
“Kampung berirama itu adalah sebuah desa yang warganya agamis, berbudaya, beretika, bertatakrama dan memiliki jiwa seni yang mampu diejawantahkan dalam bentuk kegiatan yang berbudaya dan berkearifan lokal,” ujar Kepala Desa Tirongkotua, Abdul Majid. (*/b/aha)

To Top