Feature

Kaka, Putra Kolaka yang Pukau Menpora dengan Rekor Juggling

ARMIN/BERITA KOTA KENDARI BINTANG MASA DEPAN. Kaka Amrulah Ronaldo Messi didampingi Ayahnya Sabriadi memperlihatkan piagam sebagai jaminan beasiswa Kaka dari Rektor UHO Kendari.

ARMIN/BERITA KOTA KENDARI
BINTANG MASA DEPAN. Kaka Amrulah Ronaldo Messi didampingi Ayahnya Sabriadi memperlihatkan piagam sebagai jaminan beasiswa Kaka dari Rektor UHO Kendari.

Siapa yang bisa sangka, seorang murid Sekolah Dasar yang masih berusia 9 tahun dan tinggal di pelosok, Amrulah, mampu memukau Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi. Kaka dengan skillnya, memecahkan rekor juggling (memainkan bola di udara) terlama. Saat ini Kaka masuk pantauan Timnas Garuda U-11.

Armin Arsyad
Kolaka

Kepiawaian Amrullah memainkan kulit bundar itu pun boleh dikata sebagai buah dari namanya sendiri. Bagaimana tidak, saat lahir, dia diberi nama-nama pesepakbola kawakan. Tak hanya satu, tapi tiga pesepakbola sekaligus, yakni Kaka, Ronaldo dan Messi. Maka jadilah namanya ‘Kaka Amrullah Ronaldo Messi’. Sehari-hari, bocah ini akrab disapa Kaka.
Kaka Amrulah Ronaldo Messi selama ini menghabiskan waktu di Kelurahan Anaiwoi, Kecamatan Tanggetada, bersama kedua orang tuanya Sabriadi dan Ani Anwar, serta adik perempuannya Balqis Anisa Azzahrah (1,5 tahun).
Keseharian Kaka sama saja dengan anak seusianya yang tinggal di pinggir laut Anaiwoi. Setiap pagi sekolah di SDN Anaiwoi dan siang hingga waktu Ashar mengaji di masjid.
Hanya saja dia memang sering mengikuti bapaknya, Sabriadi, yang berprofesi sebagai pelatih bola di kampungnya. Dari situlah, ketertarikan Kaka terhadap bola mulai muncul. Seiring waktu, dia pun terus mengembangkan skillnya sehingga benar-benar mahir dan melampauai banyak anak-anak seusianya dalam penguasaan bola. Bahkan orang yang umurnya jauh lebih tua dari dirinya sekalipun.
Kemampuan Kaka dalam junggling bola inilah menarik perhatian dari pelatih sepak bola PT Antam UBPN Sultra U-14 Coach Daud Hery. Dengan talenta yang dimiliki Kaka, Daud kemudian melaporkan kepada pelatih Garuda U-12 Coach Riman Upa, hingga diminta membawanya ke Jakarta untuk dilihat langsung.
“Saat disampaikan coach Daud supaya membawa Kaka ke Jakarta bersama rombongan U-14, PT Antam dalam acara Hari Oahraga Nasional (Haornas) tahun 2016, saya kaget sekaligus gembira,” kata ayah Kaka, Sabriadi, saat mendatangi sekretariat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kolaka, Rabu (21/9).
Sabriadi mengaku sempat kebingungan saat diajak ke Jakarta. Pasalnya, tidak punya biaya sama sekali. Karena itu, dia memberanikan diri mendatangi orang-orang di kecamatannya yang mau peduli pada prestasi Kaka, termasuk anggota DPRD Kolaka yang ada di dapil Selatan seperti Rusman. Bersyukur yang didatanginya bersedia memberikan dana, meskipun ada beberapa yang tidak merespons.
Pada acara Haornas yang dihadiri Menpora pada 10 September 2016 di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, kala itu Menpora menghadiri pemecahan Museum Rekor Dunia Indonesia (MuRI) juggling sebanyak 1.010 peserta. Acara itu didahului final antara kesebelasan Universitas Halu Oleo vs Riau. Kaka ikut nonton.
Saat berakhir babak pertama, Kaka turun di lapangan dan memperlihatkan aksi juggling yang memukau penonton, termasuk Menpora.
Ketika diuji, ternyata Kaka mampu mengelilingi stadion Deltras sambil juggling dengan waktu terlama melebihi 2.000 kali, mengalahkan peserta juggling yang rata-rata berusia 12 tahun ke atas.
Akhirnya Kaka dijadikan ikon juggling pada pemecahan perolehan rekor MuRI. Pemain terbanyak juggling yang mencapai 1.010 orang. Terakhir Kaka bisa juggling sebanyak 2.300 kali dalam waktu 12 menit 48 detik.
“Kaka bahkan dinobatkan sebagai pemecah rekor juggling terbanyak yang saat ini sementara diurus, sebab saat itu pemecahan rekor MuRI hanya pada pemain terbanyak. Kaka bahkan diwawancarai beberapa televisi swasta,” kata Sabriadi sambil memperlihatkan foto-foto Kaka yang mendapat penghargaan dari Menpora.
Kaka mengaku sangat gembira karena bisa bertemu langsung dengan Menpora. Apalagi dia diberikan uang tunai Rp 2,5 juta. Begitupun Gubernur Jawa Timur dan Kapolda Jatim juga memberikan uang pada Kaka.
“Cita-citaku mau jadi pemain nasional. Saya gembira karena baru pertama saya naik pesawat, ternyata bagus,” kata Kaka polos.
Dengan kemampuan yang dimilikinya, Kaka yang juga juara kelas di sekolahnya saat ini dalam pemantauan Garuda U-11. Namun karena usianya masih 9 tahun, belum bisa masuk sekolah sepak bola dan akan dipanggil ketika usianya telah mencapai 10 tahun.
Untuk memperbaiki tingkat pertumbuhannya, rencananya Kaka akan dikirimkan susu yang khusus dikonsumsi sekolah bola dan tidak dijual komersil. Selain Garuda U-11, Kaka juga ditawari masuk di Assipa FC dan Juanda FC.
Bukan hanya itu, Rektor UHO Prof Usman Rianse memberikan penghargaan kepada Kaka, dengan memanggilnya ke kampus UHO pada 19 September 2016. Kaka diberikan beasiswa untuk kuliah gratis di UHO setelah tamat di SMA nanti.
Sabriadi menceritakan, nama Kaka Amrulah Ronaldo Messi diberikan ketika Kaka masih dalam kandungan. Saat itu, bertepatan dengan penobatan Kaka (pemain bola Brasil) sebagai pemain terbaik dunia 2007 dengan mendapat ballon D’Or saat bermain di AC Milan.
Ketika dilahirkan tanggal 7 November 2007, Kaka mencetak gol ke gawang MU. Adapun nama Amrulah untuk memberikan identitas agama Kaka yang Islam, sementara Ronaldo dan Messi hanya ditambahkan karena keduanya pemain dunia terbaik.
Sementara pelatih Timnas U-12 Riman Upa yang dihubungi melalui telepon selulernya meminta supaya Kaka jangan terlalu diekspose terlalu berlebihan. Dia khawatir Kaka akan menjadi korban eksploitasi media.         “Sehingga karena terlalu sibuk menerima tawaran wawancara dia lupa latihannya. Sudah banyak kasus seperti itu terjadi, anak terlalu diekspose besar-besaran dan ujung-ujungnya gagal di tengah jalan,” ingatnya. (*/aha)

To Top