Pro Kontra FDS di Kota Kendari – Berita Kota Kendari
Pendidikan

Pro Kontra FDS di Kota Kendari

Jurtian

Jurtian

KENDARI,BKK– Penerapan Full Day School (FDS) dengan sistem piloting (percontohan) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Muhadjir Effendy, masih menimbulkan pro dan kontra di kalangan guru-guru Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kota Kendari.

Salah satu guru SDN 11 Mandonga kelas II C Jurtian mengaku keberatan jika harus mengajar sepanjang hari. Pasalnya, murid SD lebih susah diatur dibanding pelajar SMP atau SMA.

“Kami tentu merasa sangat keberatan dengan diterapkannya full day school ini apalagi kami ini adalah guru SD yang mengajar seluruh mata pelajaran di sekolah. Berbeda dengan guru SMP atau SMA yang hanya memegang satu mata pelajaran saja,” jelas Jurtian di SDN 11 Mandonga, Rabu (21/9).

Hal berbeda justru diucapkan wakil kepala sekolah (wakasek) bidang kurikulum SMAN 4 Kendari Suradin Daaba. Dikatakannya, penerapan FDS tidak akan memberatkan karena sejak tahun 2009, sekolahnya itu telah menerapkan jam pembelajaran sampai pukul 16.00.

Menurut Suradin, penerapan FDS tidak semua waktu yang digunakan oleh siswa-siswi disekolah untuk menimbah ilmu akademik namun secara umum penerapan FDS juga meliputi kegiatan ekstrakurikuler.

“Kegiatan ekstrakurikuler yang dimaksud itu adalah kegiatan diluar pembelajaran tetapi mendukung pembelajaran seperti kegiatan kepramukaan dan dilakukan di luar kelas,” tutur Suradin saat ditemui diruang kerjanya.

SMAN 4 Kendari, kata Suradin, bersedia jika dipercaya Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) untuk menjadi sekolah percontohan FDS bagi sekolah-sekolah lainnya yang ada di Kota Kendari.

Sementara ketua komisi empat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sultra Yaudu Salam Ajo mengatakan, FDS bukan lagi hal baru di kalangan pelajar. Namun beberapa sekolah yang belum menerapkannya, tentu masih penting untuk diberikan sosialisasi agar tidak menimbulkan polemik.

“Ful day school ini anak-anak didesain untuk belajar sampai sore bahkan sampai malam tapi, bukan belajar toh saja ada juga kegiatan lainnya dan itu sudah terbiasa seperti siswa-siswi di pesantren,” ungkap Yaudu. (p8/nur)

To Top