Kasuistika

Polda Telusuri Keterlibatan Oknum Aparat

LA ODE ONO/BERITA KOTA KENDARI BERBAHAYA. Puluhan sak amonium nitrat yang diduga diolah untuk dijadikan bom ikan. Sebanyak 71 sak amonium nitrat ini disita dari sebuah ruko di Kecamatan Poleang, Kabupaten Bombana, beberapa waktu lalu

LA ODE ONO/BERITA KOTA KENDARI
BERBAHAYA. Puluhan sak amonium nitrat yang diduga diolah untuk dijadikan bom ikan. Sebanyak 71 sak amonium nitrat ini disita dari sebuah ruko di Kecamatan Poleang, Kabupaten Bombana, beberapa waktu lalu

KENDARI, BKK – Penemuan 71 karung amonium nitrat yang biasa dijadikan sebagai bahan peledak berkekuatan rendah di ruko milik seorang pengusaha di Poleang, Bombana, beberapa waktu lalu, kini menjadi perhatian utama kepolisian.

Polisi pun menelusuri kemungkinan adanya oknum aparat yang terlibat dalam kasus ini, mengingat rantai pendistribusiannya yang sudah cukup lama dan sangat panjang. Dalam keterangan persnya, Direktorat Reserse Kepolisian Air, Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara menyatakan bahwa amonium nitrat itu dikirim dari Flores, Nusa Tenggara Timur melalui jalur laut ke Bombana. Dari Bombana, amonium nitrat diracik menjadi bom ikan dan disalurkan ke para nelayan di Bombana hingga Konawe Kepulauan. Direktur Polair Polda Sultra, Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Andi Anugrah mengungkapkan, di NTT, harga amonium nitrat sebesar Rp 900 ribu per karung 25 kg. Oleh tersangka, sekarung dijual lagi Rp 1,5 juta. Asal tahu saja, untuk satu botol bom ikan, hanya cukup dengan memasukkan 500 gram amonium nitrat. “Amonium jika tidak berada di tangan yang tepat, akan jadi bahan peledak low explosive. Sangat berbahaya. Dengan banyaknya barang bukti yang disita, kita akan selidiki apakah ada oknum aparat yang terlibat di balik semua ini,” katanya. Kombes Andi pun menceritakan bagaimana kasus penemuan bahan peledak terbesar di Sultra itu, bisa terungkap. Awalnya, setelah mendapatkan informasi adanya pasokan bom ikan, Polair Polda Sultra bersama Polres Bombana melakukan penyelidikan. Dari situ, polisi pun mendapatkan petunjuk mengenai alur distribusinya, hingga akhirnya menuju pada seorang pengusaha di Kecamatan Poleang, Kabupaten Bombana. Saat penggerebekan akan dilakukan, polisi sudah mengutus aparatnya untuk melakukan misi intelejen. Tak tanggung-tanggung, beberapa polisi dengan keahlian khusus harus menyusup ke dalam bangunan ruko bertingkat untuk mencari barang bukti. Walhasil, mereka pun berhasil mendapatkannya. Diantaranya adalah puluhan sak amonium nitrat yang disembunyikan dalam karung bermerek Mitsubishi. “Dulunya mereka pakai pupuk

Cap Matahari sebagai bahan baku bom ikan. Pupuk ini ada kandungan amonium nitratnya sekitar 35 persen. Jadi harus ada campuran lainnya supaya bisa jadi bahan peledak. Tapi sekarang, mereka benar-benar pakai amonium nitrat. Penemuan ini benar-benar sangat mengkhawatirkan kita,” katanya. Setelah mendapatkan bukti yang cukup, Polair beserta Polres Bombana pun langsung melakukan penggerebekan. Awalnya, pemilik pupuk itu berkelit dengan beralasan bahwa itu adalah pupuk untuk keperluan pertanian. Namun dia akhirnya tak berkutik setelah akhirnya sadar bahwa sudah ada anggota di dalam ruko yang menemukan amonium nitratnya.

“Amonium tersebut disita karena tidak memiliki ijin khusus untuk menyimpan dan menjual serta tidak memiliki surat-jual beli yang sah,” kata Andi Anugrah. Kabid Humas Polda Sultra AKBP Sunarto mengatakan, dalam kasus ini, polisi sudah menetapkan pengusaha BH (50) sebagai tersangka. Sunarto memastikan kasus ini akan diselidiki secara intensif. “Untuk penyelidikan lebih lanjut, kepolisian masih melakukan pemeriksaan terhadap pemilik bahan peledak tersebut, serta memeriksa keterangan saksi-saksi,” tuturnya. (p4/aha)

To Top