Masyarakat Sultra Diminta Waspadai Obat Palsu – Berita Kota Kendari
Beranda

Masyarakat Sultra Diminta Waspadai Obat Palsu

Kantor BPOM Perwakilan Sultra. (Nirwan/BKK)

Kantor BPOM Perwakilan Sultra. (Nirwan/BKK)

KENDARI, BKK – Akhir-akhir ini peredaran obat palsu terus terjadi. Hal itu tidak membuat pihak Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Sulawesi Tenggara (Sultra) hanya berpangku tangan dan meminta agar masyarakat berhati-hati dalam membeli dan mengkonsumsi obat.

Kepala BPOM Sultra Adilla Pababbari mengatakan, obat yang tidak memiliki izin edar resmi dan merupakan obat palsu, sudah banyak beredar di Sultra terkhusus di Kota Kendari.

“Selama ini dalam melakukan pengawasan terhadap obat yang tidak memiliki izin edar resmi kami selalu berkoordinasi dengan pihak kepolisian setempat. Sebab, tanpa ada campur tangan dari pihak kepolisian maka pengawasan terhadap obat yang tidak memiliki izin edar dan kadaluarsa tidak akan bisa maksimal,” ungkap Adilla kepada Harian Berita Kota Kendari (BKK), Senin (19/9).

Untuk memperoleh obat, Adilla meminta kepada masyarakat untuk menjadi konsumen cerdas dengan membelinya di Apotek yang sudah terdaftar resmi dan yang memiliki izin.

“Untuk menjadi konsumen cerdas sebenarnya tidak terlalu rumit, yakni ketika membeli obat hal yang mesti dilakukan adalah memperhatikan kemasannya, izin edarnya, dan kadaluarsanya atau dalam bahasa kami KIK,” paparnya.

Menurutnya, obat yang tidak memiliki izin edar resmi sangat jarang dijual ditempat-tempat yang resmi karena itu akan lebih mudah ditemukan BPOM. Saat ini kebanyakan penjualannya lewat sistim online.

“Jujur kami pernah mendapatkan kosmetik yang tidak memiliki izin edar resmi dan itu dipesan lewat online,” bebernya.

Untuk wilayah Sultra, sejauh ini belum ditemukan adanya pabrik yang memproduksi obat-obatan. Yang ada hanya distributor.

“Di tingkat distributor, kami juga melakukan pengawasan dan dari 10 distributor obat-obatan yang ada di Sultra semua memiliki izin yang resmi. Selain itu obat yang dijualpun sudah terdaftar dengan resmi oleh kami,” pungkasnya.

Sementara itu, salah satu warga Sinta mengatakan, memang obat yang paling banyak tidak memiliki izin adalah kosmetik kecantikan wanita. Ia juga pernah menggunakannya hingga wajahnya nyaris rusak.

“Saya pernah memakai kosmetik kencantikan itu, yang ada malah wajah saya menjadi memerah kesakitan,” ungkapnya. (m3-p9/nur)

To Top