Ali Irfan : Semua Itu Fitnah – Berita Kota Kendari
Headline

Ali Irfan : Semua Itu Fitnah

H Mohamad Ali Irfan

H Mohamad Ali Irfan

KENDARI, BKK– Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Tenggara, Muhammad Ali Irfan membantah semua tudingan miring yang dialamatkan kepada dirinya, seperti yang disuarakan oleh sekelompok mahasiswa saat menggelar unjuk rasa di Kantor Kemenag Sultra, baru-baru ini.

“Semua itu fitnah,” kata Ali Irfan yang ditemui Berita Kota Kendari di kantornya di Kendari, Jumat (16/9).
Ali Irfan pun menyayangkan aksi unjuk rasa yang dimotori APHI (Aktivis Pemerhati Hukum Indonesia) itu, mengangkat isu-isu lama yang diembuskan oknum tertentu untuk menjatuhkan karirnya. Yang disesalinya, aksi tersebut dilakukan di depan publik sehingga dikhawatirkan akan banyak orang yang termakan dengan isu-isu sesat itu.
Karena itu, Ali pun melaporkan koordinator pengunjuk rasa tersebut di kepolisian. “Saya sudah ajukan laporan pencemaran nama baik ke Polda Sultra yang dilakukan oleh saudara Abdul Syukur. Semoga polisi bisa segera tindaklanjuti,” kata Ali sembari memperlihatkan lembar laporannya yang teregistrasi dengan nomor LP/378/IX/2016/SPKT/Polda Sultra.
Ali kemudian mengklarifikasi secara rinci sejumlah tudingan yang dialamatkan kepada dirinya. Yang pertama, dia dituding korupsi dalam proyek pembangunan Tower Haji.
“Saya tidak tahu bagaimana caranya mereka bisa percaya dengan isu ini. Bayangkan, bagaimana bisa orang korupsi kalau proyeknya saja belum ada? Pembangunan Tower Haji kan belum ada. Apanya yang mau dikorupsi?” jelasnya.
Yang kedua, dia dituduh korupsi sampai Rp 11 miliar pada proyek pembangunan gedung Madrasah Aliyah Negeri Islamic Center. Tuduhan ini juga tidak masuk akal. Pasalnya, anggaran proyeknya hanya Rp 12 miliar.
Kalau korupsinya Rp 11 miliar dari Rp 12 miliar nilai proyeknya, kata dia, tentu akan nampak sangat jelas pelanggarannya. Terlebih lagi sekolah ini bertaraf internasional. Lagipula, tambah dia, MAN IC dikelola oleh Kemenag Kota Kendari. Bukan Kemenag Sultra.
Ketiga, Ali Irfan juga dituding melakukan pungutan liar terhadap 204 honorer kategori dua. Padahal, proses pengangkatan honorer K2 di lingkup Kemenag Sultra justru paling cepat diantara daerah lainnya.
“Kita ditarget dua tahun, tapi kami bisa selesaikan dalam waktu satu tahun. Seandainya pengangkatan mereka memakan waktu lama, itu bisa saja orang curiga ada yang main. Tapi kita yang tercepat selesainya,” jelasnya.
Keempat, Kakanwil Kemenag Sultra ini juga disebut-sebut meminta fee dari seluruh rekanan. Dia mengakui, budaya memberi fee ini bisa saja terjadi di lingkup kerjanya. Namun dia menjamin tidak pernah meminta ataupun menerima gratifikasi dari rekanan.
Memang, katanya, pernah ada seorang pegawai yang membawakan sejumlah uang dari rekanan yang diistilahkan dengan ‘uang terima kasih’. “Tapi saya tolak dan minta pegawai itu mengembalikannya,” ujarnya.
Begitupula dengan perjalanan dinas haji. Ali Irfan mengakui program ini pernah dilaporkan kepada Kejaksaan Tinggi Negeri. Namun setelah dilakukan pemeriksaan, seluruh laporan keuangan dapat dipertanggungjawabkan.
Yang lainnya adalah acara pertemuan 1000 tokoh lintas agama. Ali Irfan juga disebut melakukan korupsi anggarannya. “Kenapa bisa ada tuduhan korupsi sementara anggarannya saja masih diaudit oleh satuan pengawas internal?” tanyanya lagi.
Tak hanya isu korupsi, Ali Irfan juga diguncang dengan skandal perselingkuhan dengan salah satu stafnya. Ali pun tampak emosi saat menjelaskan tuduhan yang satu ini. Bagaimana tidak, akibat tuduhan tersebut, rumah tangga stafnya itu nyaris hancur.
“Staf saya itu hampir cerai dengan suaminya. Gara-gara ada orang yang terus-terusan kabari mereka kalau saya selingkuh dengan istrinya. Ini sebenarnya sudah bentuk teror,” katanya.

Ditanya apakah Ali Irfan tahu siapa dalang dari semua tuduhan tersebut, dia mengaku tak ingin berprasangka buruk. Namun dia menduga, tudingan itu diembuskan oleh orang dalam internal Kemenag Sultra sendiri. Apalagi, Ali Irfan pernah melakukan mutasi jabatan.
“Orang itu mungkin sakit hati jadi ingin menghancurkan saya. Dia mau karir dan rumah tangga saya rusak,” katanya.
Sebelumnya, sekelompok mahasiswa yang menamakan dirinya APHI Sultra menggelar aksi unjuk rasa di Kantor Kemenag Sultra. APHI mendesak agar Ali Irfan mundur dari jabatannya karena disangka terlibat dalam sejumlah kasus korupsi serta perselingkuhan dengan stafnya.
Kasus korupsi yang dituduhkan meliputi proyek pembangunan MAN IC, pungli honorer K2, pembangunan tower asrama haji Kendari, fee dari tiap paket proyek dan proyek-proyek yang ditangani Kemenag Sultra lainnya.
Mereka juga menuding Ali Irfan menjalin hubungan terlarang dengan stafnya. (p5/aha)

To Top