Kesulitan Air, Waduk Tidak Berfungsi dengan Baik – Berita Kota Kendari
Feature

Kesulitan Air, Waduk Tidak Berfungsi dengan Baik

Jalan pertanian yang rusak parah di Desa Gunung Jaya, Kecamatan Dangia, Kolaka Timur. (foto: Abdul Rahim/BKK)

Jalan pertanian yang rusak parah di Desa Gunung Jaya, Kecamatan Dangia, Kolaka Timur. (foto: Abdul Rahim/BKK)

Aktivitas pertanian, khusus sawah, keberadaan air yang pasti dan stabil adalah kebutuhan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Namun, yang terjadi  di Desa Gunung Jaya, Kecamatan Dangia, Kabupaten Kolaka Timur (Koltim), justru hal tersebut menjadi persoalan, tidak sesuai dengan harapan mereka.

Laporan: ABDUL RAHIM, Tirawuta

SEPERTI yang disampaikan Kariman, anggota salah satu Kelompok Tani Desa Gunung Jaya dalam pembicaraan terkait pertanian bersama wartawan Berita Kota Kendari yang sengaja berkunjung, Sabtu (10/9).

“Setiap tahun hanya bisa diolah satu kali saja. Padahal sebelumnya kami bisa dalam setahun panen dua kali dan mengolah sawah tiga kali. Namun setelah bendungan atau waduk pengairan kami jebol dan tidak berfungsi dengan baik, maka kondisinya berubah drastis. Musim panen kami mengalami penurunan tidak seperti jauh sebelum bendungan kami rusak,” tutur Kariman.

Kondisi persawahan sekarang hanya untuk satu kali pengolahan jika bertepatan dengan musim kemarau. Kendati tetap bisa ditanami, petani harus mengeluarkan biaya pengairan yang tinggi. Sebab mereka mengalirkan air sungai menggunakaan pompa air yang membutuhkan bahar bakan mesin (BBM).

Selain itu, kesulitan lain yang dialami petani Gunung Jaya adalah jalan produksi pertanian rusak parah sehingga dalam memuat hasil pertanian petani kesulitan. Kendaraan yang mau masuk untuk memuat hasil panen tidak bisa dilalui dengan lancar. “Tapi kami bersyukur karena pada akhirnya kini pihak pemerintah mulai memperhatikan kesulitan kami. Dalam hal ini dari Dinas Pertanian Kolaka timur, baru-baru ini saya sudah diperintahkan mengukur volume jalan ini karena sudah mau dianggarkan untuk pengerasan jalan,” kata Kariman.

Awi, petani lainnya, mengaku sawah miliknya sering kekeringan dan kerap tidak terairi disebabkan debit air yang ada disekitar sawahnya sangat tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pengairan di sawah percetakan tersebut. “Saya sangat merasa kesulitan air di saat mau mengolah sawah,” jelasnya.

Dia menceritakan, selain air susah, sawah percetakan ini dulunya dikerja asal-asalan alias asal jadi saja. “Sebenarnya sawah ini belum bisa diolah secara normal. Bayangkan dari  kurang lebih luas seratus delapan hektare, sawah yang bisa diolah hanya sebagian kecil. Kurang lebih hanya seluas  enam hektare saja karena pengairannya susah. Ini akibat pengolahan percetakan sawah di sini dulunya juga kurang maksimal,” ungkap  Awi.

Awi berharap agar sekiranya pemerintah bisa lebih memperhatikan petani di desanya agar. “Supaya hasil panen kami nantinya jauh lebih baik lagi dan bisa mencukupi kebutuhan,” harap Awi. (*/b)

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top