Hasyim Muzadi Kunjungi Ponpes di Konsel – Berita Kota Kendari
Aktualita

Hasyim Muzadi Kunjungi Ponpes di Konsel

MARWAN/BERITA KOTA KENDARI MENJAMU KIAI. KH Hasyim Muzadi bersama Bupati H Surunuddin Dangga di Rujab Bupati Konsel, Kamis (8/9) malam lalu.

MARWAN/BERITA KOTA KENDARI
MENJAMU KIAI. KH Hasyim Muzadi bersama Bupati H Surunuddin Dangga di Rujab Bupati Konsel, Kamis (8/9) malam lalu.

ANDOOLO, BKK – Mantan Ketua PBNU, KH Hasyim Muzadi yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) mengunjungi Pondok Pesantren Minhaj Thullab di Desa Andoolo Utama, Kecamatan Andoolo, Kabupaten Konsel. Kunjungan Hasyim ini atas undangan khusus dari pemimpin Pesantren Minhaj Thullab, Ustadz Wildan Habibi untuk membawa ceramah dan meminta pemikiran dalam ajaran Ahlu Sunnah Waljamaah.
Hasyim tiba di Konsel pada pukul 16.00 Wita, Kamis (8/9) dan langsung istirahat di Rumah Jabatan Bupati Konawe Selatan. Dalam kunjungan ini, dia ditemani Bupati Konawe Selatan H Surunudin Dangga, dan wakilnya H Arsalim Arifin beserta SKPD dan Camat.
Surunuddin dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukurnya telah dikunjungi salah satu kyai besar dan terkenal di Indonesia. “Ini adalah kesyukuran bagi Konawe Selatan bisa dikunjungi kyai besar sekaligus dewan pertimbangan presiden. Karena hanya Konawe Selatanlah satu- satunya daerah di Sultra dikunjungi pak kyai,” ucapnya.
Oleh karena itu, kata dia, masyarakat Konsel beserta pejabat yang ada di Konsel untuk bersama-sama mendoakan agar Konsel menjadi daerah yang hubungan antarumat beragamanya harmonis. “Mari kita bersama-sama mendoakan agar KH Hasyim Muzadi untuk sehat selalu. Umurnya bisa dipanjangkan agar bisa berkunjung di Konawe Selatan lagi,” ajaknya.
Hasyim dalam ceramahnya banyak memberikan petuah dalam menjalani hidup bermasyarakat dalam ajaran NU.  “NU adalah ciri khas Indonesia yang tak pernah menganut ajaran asing. NU itu asli Indonesia. Mau dibolak-balik negara kita, ini mau diserang asing, ini tetap tanah Indonesia, ini tempat kita makan,” jelasnya.
Hasyim mengatakan, janganlah menjadi manusia yang hanya menunggu. Misalnya menunggu makan tanpa kerja. Hal seperti ini bukan manusia biasa, tapi manusia yang diistilahkan koromonggo.
“Akhirnya asinglah yang kuasai negara ini dengan mengambil kekayaan alam kita. Kebanyakan Undang-Undang di negara ini banyak yang keliru. Hanya menguntungkan yang kaya dan merugikan yang miskin. Akhirnya kita lebih di kuasai asing,” ungkapnya.
Dia menambahkan, pemerataan ekonomi di Indonesia adalah harapan rakyat Indonesia. Namun, lanjut dia, itu telah dinafikan oleh kalangan atas.
“Pemerataan ekonomi itulah Islam. Itulah Nahdlatul Ulama,” ungkapnya di depan ratusan jemaah di pondok pesantren Minhaj Thullab. (k8/aha)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top