Gegara Oknum PLN, Warga Lalomba Nyaris Parangi Istrinya – Berita Kota Kendari
Kasuistika

Gegara Oknum PLN, Warga Lalomba Nyaris Parangi Istrinya

KOLAKA, BKK- Firman langsung naik pitam begitu melihat meteran listrik rumahnya tidak lagi berada di tempatnya. Bagaimana tidak, Firman sudah memberikan uang kepada istrinya untuk melunasi tunggakan pembayaran listriknya selama tiga bulan, untuk menghindari pencabutan meteran.
Kemarahan pun ditujukan kepada sang istri. Firman mengira istrinya tidak segera ke PLN untuk melunasi tunggakan tersebut. Saking emosinya, Firman sudah pegang parang.
Sang istri yang ketakutan menjelaskan bahwa uang tersebut sudah diserahkan kepada PLN setempat. Namun dia tidak tahu, petugas PLN tetap datang dan mencabut meteran listriknya.
Kejadian yang membuat heboh warga Lorong Bendungan, Kelurahan Lalombaa, Kolaka itu diceritakan oleh kepala lingkungan setempat, Jems.
Dia juga mengaku tidak tahu mengapa PLN tetap mencabut meteran warganya padahal sudah dilunasi.
“Padahal tahunya mereka kan sudah dilunasi. Tapi kenapa dicabut meterannya. Hampir saja Firman parangi istrinya,” kata Jems.

Pimpinan PLN Rayon Kolaka, Ihwan Budiawan yang hendak dikonfirmasi tidak berada di tempat. Namun salah seorang pegawai PLN bernama Haji Alwi, mengakui adanya insiden tersebut.
“Oh iya, warga Balandete yang Kwh-nya dicabut, sudah dipasangkan lagi,” katanya.
Namun mengapa dicabut kalau sudah dilunasi, Alwi mengatakan itu terjadi karena sistem administrasi yang kemungkinan terganggu. “Kemungkinan jaringan rusak sehingga tunggakan yang dia bayar kemarin belum masuk,” katanya.
Menanggapi masalah ini, Ketua Lingkar Demokrasi Rakyat (Lider) Sultra Herman Syahruddin menyatakan keprihatinannya. “Bagaimana kira-kira kalau karena kesalahan administrasi ini, warga Lalombaa tadi sampai memarangi istrinya. Apa PLN mau bertanggungjawab,” katanya.
Menurut Herman, bukan kali ini saja instansi kelistrikan itu diadukan oleh warga. Herman sendiri juga baru-baru ini memprotes kebijakan PLN yang mencabut meteran listrik milik warga Jl Pendidikan, Kelurahan Balandete, bernama Bahar.
Setelah ditelusuri, ada oknum PLN yang memasang MCB (pembatas arus) tidak sesuai dengan daya listrik yang dimiliki Bahar, yakni 900 watt. “Beberapa bulan lalu, Bahar melapor ke PLN bahwa MCB-nya rusak. Tapi ternyata yang dipasang tidak sesuai dengan daya 900. Akibatnya, pihak PLN memberikan denda dengan alasan kelebihan daya,” jelasnya.
Denda itu pun cukup besar, yakni Rp 1.?390.059, dengan rincian tungakan dua bulan Rp 1.073.159 dan P2TL Rp 316.900. “Ini kan namanya jebakan. Mereka sendiri yang pasang, justru mereka juga yang memvonis pelanggan melanggar,” protes Herman.
Dengan dua kasus ini, Herman mengecam kinerja PLN dan meminta para pimpinannya dievaluasi. (cr3/c/aha)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top