Headline

Mahasiswa Ancam Boikot Perkuliahan

IRMAN/BERITA KOTA KENDARI CEGAT MOBIL REKTOR. Sejumlah mahasiswa berusaha mencegat mobil yang ditumpangi Rektor Universitas Lakidende, Unahaa, saat berdemonstrasi memprotes kenaikan SPP, Senin (5/9).

IRMAN/BERITA KOTA KENDARI
CEGAT MOBIL REKTOR. Sejumlah mahasiswa berusaha mencegat mobil yang ditumpangi Rektor Universitas Lakidende, Unahaa, saat berdemonstrasi memprotes kenaikan SPP, Senin (5/9).

UNAHAA, BKK- Aksi unjuk rasa memprotes kenaikan SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan) di Universitas Lakidende, Konawe, Senin (5/9) berlangsung ricuh. Selain bersitegang dengan pengamanan kampus, mahasiswa sempat mengeroyok mobil Rektor Unilaki, Prof Dr Laode Masihu Kamaluddin.
Aksi yang dimotori Badan Eksekutif Mahasiswa Unilaki ini bermula saat puluhan mahasiswa berdemontrasi di depan kampus, menuntut agar sang rektor dicopot dari jabatannya karena telah mengeluarkan kebijakan menaikkan SPP secara sepihak.
Sejumlah sekuriti pun berdatangan dan berusaha membubarkan aksi mahasiswa. Sempat terjadi ketegangan antara kelompok sekuriti dan mahasiswa, namun berhasil diredam.
Nah, saat itulah, mobil Toyota Fortuner berwarna putih masuk dari gerbang menuju ke Kantor Rektorat Unilaki. Para mahasiswa pun langsung menyerbu mobil yang didalamnya ada prof Dr Laode Masihu itu. Mereka memaksa rektor agar keluar dari mobil dan berdialog dengan mahasiswa. Beberapa mahasiswa pun sempat memukul-mukul badan mobil.
Karena situasi masih ‘panas’, rektor memilih tak menemui mahasiswa. Mobil itu terus saja berjalan pelan-pelan dan kali ini sudah dikawal sekuriti kampus. Sesampai di halaman, Rektor Unilaki ini bergegas masuk.
Para demonstran yang merasa dicueki pun berteriak, mengancam akan memobilisasi massa yang lebih besar. Mereka juga akan memboikot proses perkuliahan.
“Kita sudah seminggu melakukan aksi. Namun Pak Rektor tidak memberikan ruang diskusi.  Mending kampus ini dipimpin selevel doktor atau megister. Ketimbang dipimpin oleh seorang profesor yang arogan seperti ini,” teriak Ketua BEM Unilaki, Pijerlin Arlin.
Arlin menjelaskan, kebijakan rektor atas tambahan pembayaran SPP sudah mulai sejak semester lalu. Alasannya untuk peningkatan inventaris kampus dan pengadaan wifii. Yang jadi persoalan, hingga saat ini belum ada realisasinya.
Saat BEM mengajak berdialog mengenai alokasi dana hasil kenaikan SPP itu, pihak rektorat tidak bisa memberikan penjelasan secara rinci. Bahkan terkesan ingin menghindar dari pertanyaan tersebut.
“Seharusnya seorang rektor itu punya jaringan luas dan bisa memanfaatkan jaringannya untuk membantu pengembangan kampus. Tapi yang terjadi, justru mahasiswa yang dibebani,” kata Arlin.
Sayangnya, pihak Rektorat Unilaki masih tertutup. Pembantu Rektor III, Annas yang beberapa kali dihubungi tak bersedia memberikan tanggapan. (cr4/b/aha)

To Top