Sionidar Merasa Disudutkan Aswad Sulaiman dan Yani – Berita Kota Kendari
Kasuistika

Sionidar Merasa Disudutkan Aswad Sulaiman dan Yani

RUDY/BERITA KOTA KENDARI MEMBELA DIRI. Mantan Bupati Konawe Utara Aswad Sulaiman memberikan kesaksian dalam sidang lanjutan dugaan korupsi proyek pembangunan Kantor Bupati Konut Tahap III di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Kendari, Selasa (30/8).

RUDY/BERITA KOTA KENDARI
MEMBELA DIRI. Mantan Bupati Konawe Utara Aswad Sulaiman memberikan kesaksian dalam sidang lanjutan dugaan korupsi proyek pembangunan Kantor Bupati Konut Tahap III di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Kendari, Selasa (30/8).

KENDARI, BKK – Saling bantah dalam memberi dan menerima uang fee proyek pembangunan Kantor Bupati Konawe Utara tahap ketiga, mewarnai sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Kendari, Selasa (30/8).

Dalam sidang dengan majelis hakim Andi Arwana SH (ketua) dan Mulyono SH (anggota) tersebut, jaksa penuntut umum Kejari Konut, Munir Adi SH dan Dian SH menghadirkan tiga orang saksi, yakni Aswad Sulaiman (mantan Bupati Konut), Sionidar (kontraktor) dan Marten (Kepala Inspektorat Konut).
Mereka bersaksi untuk terdakwa Ahmad Yani Sumarata yang saat itu menjabat sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dalam pelaksanaan proyek pembangunan kantor Bupati Konut.
Jalannya sidang mulai panas saat Siodinar membeberkan pernah menyetorkan fee kepada Ahmad Yani Sumarata sebesar Rp 175 juta. Fee tersebut diserahkan beberapa kali. Pertama Rp 30 juta, lalu Rp 140 juta dan terakhir Rp 5 juta.
Mendengar keterangan Siodinar, Ahmad Yani pun langsung membantahnya. “Maaf Yang Mulia. Semua pernyataan dan keterangan Siodinar itu bohong semua. Saya tidak pernah menerima uang kepada Siodinar. Jangankan menerima uang, bertemu langsung saat melakukan pembangunan Kantor Bupati Konut tidak pernah,” bantah Ahmad Yani.
Andi Arwana yang memimpin sidang itu kemudian bertanya kepada Siodinar mengenai pernyataannya itu, Siodinar tetap bersikukuh. Dia meyakinkan bahwa telah menyerahkan sejumlah uang tersebut.
“Tetap Yang Mulia. Sama keterangan yang saya katakan tadi. Saya tidak berbohong sama sekali,” tegas Siodinar.
Majelis hakim kemudian memanggil Aswad Sulaiman untuk bersaksi. Dalam keterangannya, Aswad menegaskan dirinya tidak pernah menandatangani surat penunjukan langsung.
Pasalnya, Aswad saat itu belum menjadi Bupati Konut. Tanggal penandatanganan surat penunjukan langsung itu bahkan bersamaan dengan persiapan proses pelantikannya sebagai Bupati Konut.
“Yang bertandatangan pada saat itu Pj Bupati Konut, Amrin Patolo. Saya tidak tahu kalau ada kelebihan pembayaran. Proses pekerjaan pembangunan itu saya tidak ada sangkut pautnya karena saya saat itu belum menjadi Bupati,” ujar Aswad yang menghadiri sidang dengan pakaian batik itu.
Majelis hakim pun langsung menimpali, kalau memang Aswad tidak terlibat dalam kasus itu, mengapa harus mengembalikan uang kerugian negara senilai Rp 2,3 miliar kepada Kejati Sultra? “Saya menyerahkan uang karena saya diancam oleh pihak Kejati Sultra. Kalau saya tidak kembalikan, saya akan langsung ditahan,” ungkap Aswad.
Ditemui usai sidang, Siodinar merasa tersudutkan oleh keterangan para saksi. Dia menduga ada persengkongkolan antara Aswad Sulaiman dan Ahmad Yani Sumarata.
“Ada kebohongan besar yang dibangun Aswad dan Yani Sumarata. Jelas sekali Aswad sendiri yang bertandatangan dalam penunjukan langsung kepada Ahmad Yani untuk menjadi KPA dalam proses pembangunan proyek tersebut,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan, sebelum Aswad mengembalikan uang kerugian negara kapada pihak Kejati Sultra beberapa bulan lalu, dia sempat diminta bertemu dengan Aswad. Pertemuan itu berlangsung di Kamar 226, Hotel Horison, Kendari.
“Dia bilang mau melakukan pengembalian kerugian negara agar tidak ada yang dipenjara,” jelas Siodinar. (p5/b/aha)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top