Pengaruh Negatif Internet Menakutkan Bagi Anak – Berita Kota Kendari
Pendidikan

Pengaruh Negatif Internet Menakutkan Bagi Anak

BAUBAU, BKK – Aliansi Peduli Perempuan dan Anak (APPAK) Buton menilai, pengaruh dunia maya atau internet saat ini menjadi hal yang sangat menakutkan, bila dilihat dari sisi negatifnya. Hal itu diungkapkan salah seorang pendiri APPAK Buton, Farida Kamaruddin ketika ditemui di kantor APPAK Buton di Kota Baubau, Sabtu (27/8).

Diakuinya, penggunaan internet bagi anak-anak juga mendatangkan hal positif, namun yang harus diwaspadai adalah jika penggunaan internet bagi anak yang tidak terkontrol dapat membahayakan anak itu sendiri. Menurut dia, tidak sedikit akibat pengaruh dunia maya dapat menjerumuskan, bahkan menjadikan anak-anak sebagai korban tindakan kejahatan.

APPAK sendiri, lanjutnya, dalam menangani kasus-kasus kekerasan terhadap anak, tidak sampai menggali lebih dalam asal-muasal kejahatan, apakah dari dunia maya atau bukan. Namun secara umum di Kota Baubau sendiri, dari banyaknya hotspot atau warnet yang tersedia dan terbuka untuk siapa saja, termasuk anak-anak, bisa menjadi salah satu pendukung terjadinya pelecehan dan kekerasan terhadap anak.

Salah satu solusi yang ditawarkan APPAK Buton di antaranya, Badan Informasi Komunikasi (Infokom) Kota Baubau dapat menyeleksi seluruh hotspot dan warnet-warnet di Kota Baubau. Misalnya dengan menyamakan pemikiran agar menyediakan internet yang sehat dan ramah bagi anak. Tempat-tempat hostspot dan warnet juga harus menyosialisasikan bagaimana anak menggunakan internet.

Selain hotspot dan warnet, penggunaan ponsel pintar atau Smartphone di kalangan anak-anak juga harus dikontrol dan dibatasi, baik itu di sekolah atau di rumah, karena menjadi salah satu media yang juga dapat memengaruhi perilaku anak. Bila perlu anak-anak dilarang menggunakannya.

“Karena saya berpikir, kalau di sekolah boleh pakai ponsel, tapi tidak yang memakai kamera atau ponsel yang banyak aplikasinya (Smartphone) untuk internetan, dan lihat-lihat situs yang tidak bagus,” paparnya.

Di situlah, katanya, peran Dinas Pendidikan juga harus ditingkatkan. Namun, menurut Farida, peran orang tua lah yang lebih penting. Banyak kasus yang ditangani APPAK, didominasi karena masalah keluarga yang tidak harmonis. Saat ini APPAK Buton yang bekerjasama dengan Dinas Sosial Kota Baubau mendampingi 60 kasus anak.

“Kalau saya memang lebih kepada keluarga yang tidak harmonis, bisa jadi itu. Kemudian juga pengaruh di lingkungan sekitarnya, kalau karena keluarga, orang tua jauh dari pengawasan orang tua oke, kemudian faktor lingkungan yang lain yang paling kuat, karena dengan siapa mereka berteman, dengan siapa mereka bergaul itu yang penting,” ungkap wanita berkerudung itu.

Solusi lain yang dapat dilakukan, lanjut Farida, Forum Anak yang ada di Kota Baubau dan dibawah Badan Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Anak harus dikuatkan. Forum Anak itu, kata dia, sangat bagus jika digunakan dengan baik dan mulai direncakanan dengan matang akan sangat membantu menurunkan tren kekerasan terhadap anak yang menurutnya saat ini semakin meningkat.

“Misalnya satu kecamatan ada kelurahan atau RT yang ramah anak, nah di situ itu semua stakeholder di RT itu di tingkat kelurahan harus berpartisipasi, bagaimana yang ramah anak, misal kalau kita lihat harusnya jam sekolah, tetapi kemudian dia tidak di sekolah, tiap orang yang ada di situ berhak menegur atau memastikan dia kembali ke sekolah,” paparnya menyarankan.

“HP (ponsel) tetap digunakan, apalagi yang Android (Smartphone) itu, tetapi kontrol orang tua penting sekali, karena tidak ada lagi yang bisa kita lakukan selian itu. Saya kira kampanye untuk menggunakan internet sehat bagi anak-anak penting lebih dipopulerkan,” tutupnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda Kota Baubau, Masri juga berpendapat penggunaan internet yang tidak terkontrol akan berdampak buruk kepada anak-anak. Penggunaan internet melalui ponsel pintar yang dimiliki anak-anak menjadi salah satu pendukung hal itu. Wacana pembatasan penggunaan ponsel pintar di kalangan pelajar di Kota Baubau juga akan ia bahas bersama dewan pendidikan.

“Kita tidak larang, tapi kita batasi, jangan sampai ada yang mengganggap kita membatasi hak-hak anak. Makanya kita akan bicarakan terlebih dahulu bersama dewan pendidikan dan pihak-pihak terkait,” katanya. (k2/c)

 

To Top