Harusnya Tujuh Polisi Jadi Tersangka – Berita Kota Kendari
Headline

Harusnya Tujuh Polisi Jadi Tersangka

KENDARI, BKK – Penasehat hukum keluarga almarhum Jalil, Anselmus AR Masiku SH merasa ada keanehan dengan kinerja pihak kepolisian dalam menanangani perkara kematian Jalil. Pasalnya, Anselmus menganggap pihak kepolisian seakan-akan sengaja menutup-nutupi perkara ini.

“Seharusnya bukan hanya ada tersangka tunggal dalam perkara ini, karena jika dicermati secara mendalam, ada banyak anggota buser yang melakukan penangkapan malam itu juga ikut terlibat,” kata Anselmus setelah mengamati berbagai fakta yang terjadi dalam kematian Jalil termasuk dalam rekonstruksi yang dilakukan kepolisian, kepada Harian Berita Kota Kendari (BKK), Minggu (21/8).

Anselmus menegaskan harusnya ke enam saksi yang ikut dalam proses penangkapan juga mesti dimasukan sebagai tersangka, bukan saja seorang Brigadir Muh Ikhsan alias Aca.

“Polisi harus tegas dan teliti dalam mengungkap kasus kematian Jalil. Enam orang itu di masukan Pasal 55 atau 56 KUHP yakni turut bersama-sama melakukan tindakan penganiayaan. Apalagi saya sudah lihat rekaman penangkapannya,” sindirnya saat dikonfirmasi melalui selulernya, Minggu (21/8).

Anselmus meyakini, adanya ketidak jujuran polisi dalam mengungkap kasus ini. Apalagi kata dia, dalam perkara itu, saksi dari Ibu Jalil tidak dimasukan di BAP.

“Ini tidak beres. Kalau mau jadi penegak hukum, ungkap semuannya siapa-siapa yang terlibat. Apalagi kan jelas-jelas hasil otopsi itu sudah keluar tapi kenapa polisi memberikan kepada pihak keluarga Almarhum,” cetusnya.

Keberanian Kepolisian Daerah (Polda) Sultra untuk melimpahkan berkas tersangka oknum polisi bernama Brigadir Muh Ikhsan alias Aca ke Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sultra harus extra hati-hati. Setelah berkordinasi dengan JPU, pihak Polda Sultra berkesimpulan masih ada kekurangan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP).

Syaratnya dengan melengkapi BAP pembunuhan staf Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sultra ini dengan menggelar rekonstruksi ulang. Walau luput dari pantaun media, rekonstruksi dikabarkan telah dilakukan sejak Kamis (18/8) lalu. Penyidik mempertimbangkan, kegiatan tersebut guna melengkapi beberapa kekurangan dalam penyusunan berkas. Tidak disebutkan berapa adegan yang dilakukan pihak kepolisian saat itu. Yang jelas, rekonstruksi dilakukan di lima tempat kejadian perkara (TKP) sekaligus.

“Ada yang di Kecamatan Kadia, tepat P2ID, ada yang di Kecamatan Baruga dekat Bakso Rahayu Wanggu, juga di RSUD Bhayangkara, dan yang terakhir sel tahanan Polres Kendari,” kata Kasubdit III Jatanras Tindak Pidana umum Polda Sultra, AKBP Dodi Ruyatman yang ditemui di Kepolisian Resor (Polres) Kendari, yang diduga masih kembali melanjutkan rekonstruksi di sel Polres Kendari beberapa hari lalu.

Dari hasil pantauan jurnalis Berita Kota Kendari, Kamis pekan lalu, tepat di depan ruang sel tahanan Polres Kendari, terlihat beberapa anggota Polda Sultra sedang berjaga. Tidak ditau persis apa yang sedang dilakukan, namun menurut penuturan seorang anggota polisi Polres Kendari ada rekonsrtuksi yang sedang berlangsung.

Dikonfirmasi menegnai hal tersebut, Dodi tidak memberi komentar. Yang jelasnya kata dia saat ini, rekonstruksi telah usai dilakukan kamis lalu. Hanya sehari, pihak kepolisian sukses menggelar rekonstruksi tersebut. Pertimbangan lima titik yang telah dipilih itu, menurut perwira polisi ini, merupakan beberapa tempat Almarhum Abdul Jalil dibawa, sebelum dieksekusi. Ada enam saksi yang turut berpatisipasi dalam beberapa adegan, termasuk enam anggota buser Polres Kendari yang ikut menagkap malam itu.

“Waktu penangkapan dikatakan ada 20 orang anggota buser. Tapi setelah penangkapan itu, kan dibagi kelompoknya. Nah dikelompok yang membawa almarhum, yakni cuma hanya enam buser. Itulah yang kita libatkan,” ujarnya

Dodi juga menegaskan hanya ada enam saksi anggota buser yang dihadirkan dalam BAP Brigadir Muh Iksan. Selain itu selebihnnya alat bukti lainnya dirinya tidak menyebutkan. Dia juga menyebut, sementara belum ada keterlibatan pihak lain dalam kasus ini. Hanya ada tersangka tunggal. Tidak ditau apakah ada perkembangan setelah hasil otopsi sudah dirterima nanti.

“Hasil otopsi sudah keluar, tapi kami belum mengambilnya. Yang jelas matinya almarhum, karena pendarahan dibetis kirinya,” ungkapnya.

Dalam waktu dekat ini, Dodi menambahkan, akan melimpahkan berkas tahap I ke JPU Kejati Sultra setelah menyusun berkas kembali plus tambahan keterangan rekonstruksi. Jika sudah tidak ada kekurangan, dia optimis berkas tersebut akan segera di nyatakan lengkap (p21) kepada JPU.

“Setelah gelar ini, kemungkinan pekan ini, sudah tahap I di Kejati,” tambahnya.(p5/c/lex)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top