Memulung untuk Mengejar Cita-cita Jadi Dokter – Berita Kota Kendari
Feature

Memulung untuk Mengejar Cita-cita Jadi Dokter

Daniar Nurlianti saat mengayuh sepeda gerobaknya untuk mencari barang bekas. (Foto: Nirwan/BKK)

Daniar Nurlianti saat mengayuh sepeda gerobaknya untuk mencari barang bekas. (Foto: Nirwan/BKK)

Sungguh keras beban hidup yang dipikul gadis kecil ini. Daniar Nurlianti salah satu murid disalah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) 13 Baruga Kendari harus menerima kenyataan hidup yang menimpanya. Diusianya yang baru 11 tahun itu terpaksa kurang menyempatkan waktunya untuk bermain dengan teman-teman sebayanya, tapi bekerja keras mencari penghasilan sendiri dengan memulung barang bekas.

————————–

Berkat usaha, kerja keras, bahkan kegigihannya untuk terus melanjutnya pendidikannya dengan berprofesi sebagai pemulung, kini Niar si kecil yang tangguh itu duduk dibangku kelas lima SDN 13 Baruga Kendari. Niar dengan dengan tekun dan rasa sabarnya menjalankan profesinya sebagai pemulung cilik itu memang masih terbilang belum lama yakni baru memasuki sebulan, semua dilakukannya untuk meraih cita-citanya sejak kecil yakni ingin menjadi dokter gigi.

Kini sekecil malang itu hidup bersama neneknya yang juga berprofesi sebagai pemulung di jalan sao-sao depan gor. Niar hidup bersama neneknya sejak ia berumur 1,5 tahun, pada saat ini ayah dan ibunya terpaksa mengakhiri hubungan mereka dengan bercerai.

Bermodalkan sepeda gerobak yang dihadiahkan dari sang nenek, sikecil itu mengauh sepeda gerobaknya yang tak peduli panasnya terik mentari disiang hari. Bahkan setiap harinya gadis cilik itu mengayuh sepeda gerobaknya hingga berkilo meter demi mendapatkan botol plastik sisa pembuangan orang yang ia kumpulkan satu demi satu untuk menghasilkan uang.

Berprofesi sebagai pemulung tidak membuat gadis cilik itu merasa malu dan diledekin dengan teman sebayanya, yang panting bagi Niar halal dan bisa membantunya untuk membiayai pendidikannya maka ia jalankan denga iklas.

”Selama saya memulung tidak pernah diledikan sama teman sekolah. Bahkan teman-teman sekolah saya juga mereka tahu bahwa saya pulang sekolah suka mencari botol plastik untuk dijual,” kata Daniar Nurliati, Selasa (18/8).

Kata Niar, mengayuh sepeda seumurnya sudah terbiasa dari semenjak beberapa bulan yang lalu. Keramaian yang ada disekitaran pelataran eks MTQ atau yang lebih dikenal dengan Tugu Religi membuatnya bisa tersenyum manis. Tanpa harus pergi kejauhan untuk mencari botol palstik untuk dikumpulkan.

“Bagi saya keramaian yang sering terjadi di Tugu Religi adalah rezeki, sebab kalau Tugu Religi sedang ramai saya tidak perlu lagi mengayuh sepeda saya lebih jauh lagi,” paparnya.

Itupun, tutur dia, kalau ada keramaianan dipelataran Eks MTQ. Terkadang ia mengayuh sepeda gerobaknya menerobos Rumah Toko (Ruko) sekitaran Jalan Ahmad Yani. Jalan inilah yang menjadi saksi dalam perjuangannya untuk menempuh pendidikan hingga mencapai cita cita yang ia idamkan.

Tanpa paksaan dari siapapun ia ihlas menjalani kesehariannya melewati deretan Ruko yang ada disekitaran Jalan Ahmad Yani.

”Tidak ada yang suruh saya untuk memulung. Itupun kemauan sendiri,” tambahnya sambil melinangkan air mata.

Ketika memulung barang bekas, tak jarang Niar bertemu dengan neneknya (Sunarsih, red) yang umurnya sudah menginjak 60 tahun. Cucu (Niar, red) dan nenek (Sunarsih, red) kerap kali bertemu karena mereka berdua sama-sama berprofesi sebagai pemulung. Sehingga sebagian hasil mulung yang didapatkan Niar, sebagian digunakan untuk membantu sang nenek membiayai kebutuhan sehari-hari, sedangkan sisanya dipergunakannya untuk keperluan sekolahnya. (m3/lex)

To Top