Nenek Asal Butur Ubah Sampah Jadi Uang – Berita Kota Kendari
Feature

Nenek Asal Butur Ubah Sampah Jadi Uang

DARSON/BERITA KOTA KENDARI BERNILAI EKONOMI. Husna (70) tampak merangkai pelastik menjadi tas keranjang yang biasanya dipakai ibu rumah tangga berbelanja ke pasar.

DARSON/BERITA KOTA KENDARI
BERNILAI EKONOMI. Husna (70) tampak merangkai pelastik menjadi tas keranjang yang biasanya dipakai ibu rumah tangga berbelanja ke pasar.

SINGKIRKAN anggapan bahwa kreativitas hanya milik anak muda. Nenek dari Buton Utara ini membuktikan, kreativitas sesungguhnya tak kenal usia. Ditangannya, ia mampu mengubah sampah menjadi uang. Seperti ini ceritanya.

Laporan Darson
Buton Utara

Sabtu (14/8) pagi yang cerah. Di akhir pekan, suasana Desa Loji, Kecamatan Kalisusu, Kabupaten Buton Utara nampak hening. Hiruk pikuk kendaraan hampir saja tak terdengar kecuali kendaraan yang dipacu penulis.
Menyusuri sekitar 200 meter jalan desa dari jalan utama, jarang didapati rumah warga yang berdekat-dekatan. Akhirnya, sebuah rumah kayu yang akan penulis tuju pun terlihat dari kejauhan. Dari luar, rumah tersebut seperti tak berpenghuni. Apalagi, tak ada rumah di samping kiri kanannya. Benar-benar sunyi.
Di dalam rumah kayu itu, tinggal seorang wanita renta seorang diri bernama Husna (70). Dia mengisi hari-harinya dengan daur ulang sampah pelastik bungkusan permen, maupun bungkusan makanan ringan, menjadi kerajinan tangan.
Mendaur ulang sampah menjadi kerajinan mungkin sering kita dengar. Tapi itu di perkotaan. Bukan di desa sunyi seperti Desa Loji ini.
Saat penulis memberi salam, terdengar jawaban dari dalam dan mempersilahkan masuk. Di sebuah ruangan yang sederhana, Husna tampak asyik merangkai bungkusan-bungkusan pelastik menjadi tas. Di sekitarnya terlihat produk yang sudah jadi, seperti tas keranjang, vas bunga, tudung saji dan lainnya.
Husna bercerita, mendaur ulang sampah pelastik itu sudah digelutinya sejak satu tahun lebih. Pekerjaan tersebut ditekuninya tak semata-mata untuk mencari penghasilan, namun juga mengusir rasa sepi terutama sejak suaminya meninggal dunia sekitar tiga tahun lalu.
Dia punya delapan anak. Tapi semuanya merantau ke luar daerah.
“Saya sudah tua, tidak bisa lagi bertani, jadi cari-cari kegiatan untuk hasilkan uang yang tidak butuh tenaga banyak. Makanya saya coba-coba buat kerajinan dari sampah plastik ini. Karena anak-anak juga jauh di perantauan,” terang Husna yang masih lancar bertutur kata ini.
Dulunya, kata dia, selama suaminya masih hidup, mereka bertani dan sekali-sekali menganyam rotan menjadi keranjang. Berbekal dari pengalaman itulah, sekitar dua tahun lalu, dirinya berkunjung ke sanak keluarganya di Buton yang juga melakoni pekerjaan yang serupa. Tak butuh lama, hanya mencoba mengamati cara pembuatan kerajinan dari bahan plastik itu.
Sepulang dari Buton, mulai muncul niatnya untuk membuat kerajinan dari bahan plastik. Kemudian, mulai berkeliling untuk mengumpul bahan-bahan yang telah dibuang warga.”Awalnya susah cari bahannya, tapi lama-lama sudah tidak susah lagi. Karena selain saya pungut-pungut yang telah dibuang, sekarang sudah ada beberapa kios yang sengaja simpan bungkusan permen dan kopi saset atau makanan ringan. Tinggal saya pergi ambil, mereka kasih saja tanpa saya beli,” tuturnya.
Proses pembuatannya, lanjut nenek Husna, pebungkus kopi saset atau bahan plastik lainnya setelah dipotong ujungnya, hingga membentuk lingkaran gelang, kemudian dilipat satu persatu, lalu diambil satu persatu. Selanjutnya,  dirangkaikan untuk dianyam sesuai betuk produk yang diinginkan.
“Memang kelihatannya sulit tapi kalau ingin belajar biasa satu hari sudah mahir,” imbuh nenek Husna.
Dalam satu hari, nenek Husna mengaku mampu membuat satu produk. Sebetulnya, bisa lebih dari satu, namun karena kurangnya bahan baku.
“Mau tak mau hanya hanya bisa menghasilkan satu tas, atau satu vas bunga dalam satu hari,”pungkasnya.
Hasil dari anyamannya itu, biasanya dijual beragam. Ada yang mencapai Rp. 50 ribu, ada juga Rp. 30 ribu hingga Rp. 20 ribu. Tergantung besar kecilnya dan tingkat kesulitannya.
“Alhamdulillah dari kerajinan saya ini bisa menghidupi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya sambil tersenyum.
Nenek Husna mengungkapkan, hingga saat ini produk kerajinannya selain dijual di Butur. Ada juga dipasarkan sampai luar daerah.
“Sudah banyak juga yang pesan dari Kendari. Sekarang ini, saya buat sesuai dengan pesanan konsumen,” tuturnya.
Di akhir ceritanya, dirinya berharap, pemerintah bisa mendukung industri rumahan yang membuat kerajinan tangan  seperti yang kini ditekuninya. Bukan hanya  pelatihan ataupun bimbingan saja , tapi  juga bantuan berupa modal usaha. (*/aha)

Click to comment
To Top