Penentuan Calon Wakil Agar Lewat Survei – Berita Kota Kendari
Headline

Penentuan Calon Wakil Agar Lewat Survei

KENDARI, BKK–
Penentuan calon wakil wali kota dalam koalisi partai politik dipastikan akan menimbulkan dinamika tersendiri. Sebab partai politik biasanya akan mematok kadernya sebagai calon wakil wali kota.

Dalam Pemilihan Wali Kota Kendari, baru Abdul Rasak yang telah berhasil membentuk satu koalisi utuh yang akan menjadi kendaraan politiknya. Masuknya Partai Golkar dalam koalisi ini memantik isu bahwa partai tersebut mensyaratkan kadernya dipasangkan dengan Rasak.
“Bisa jadi seperti itu. Karena Golkar yang paling banyak kursinya, maka posisi bargainingnya untuk memasang kadernya sebagai wakil, lebih kuat dibandingkan partai lain,” kata Ketua Eksekutif PT Indeks Politica Indonesia, Suwadi Idris Amir yang dihubungi Jumat (12/8).
Penentuan wakil ini akan lebih menantang jika seumpama Demokrat ikut menjatuhkan pilihannya kepada Rasak. Pasalnya, Demokrat juga punya empat kursi, sama dengan jumlah kursi yang dimiliki Partai Golkar.
Jika sudah seperti itu, menurut Suwadi sebaiknya koalisi ini melakukan survei terhadap calon wakil yang tepat yang mendampingi Rasak. Sebab bagaimana pun, posisi wakil juga ikut menentukan dalam pemenangan.
“Sebaiknya wakil juga disurvei. Kalau memang ada kader yang bagus surveinya, tentu itu akan lebih mereka utamakan dipasangkan dengan Rasak. Kalau tidak ada, pilihannya ada pada calon eksternal (luar partai koalisi, red),” katanya.
Meski demikian, penentuan wakil ini akan sangat bergantung pada kemampuan Abdul Rasak dalam membangun komunikasi politik dengan partai-partai pengusungnya. Sebab Rasak maupun partai pengusungnya sama-sama butuh.
Sementara pengamat politik dari Universitas Halu Oleo Dr Bahtiar meyakini sampai saat ini belum ada kepastian siapa yang akan mendampingi Rasak. Nama politisi Partai Golkar, Haris Andi Surahman yang belakangan ini mengemuka, masih sekadar wacana.
“Sampai sekarang kan belum ada pernyataan resmi. Saya pikir posisi wakil ini belum final. Mereka juga mungkin ingin melihat reaksi publik dulu,” katanya.
Dalam pandangannya, meski Partai Golkar punya lebih banyak kursi dalam koalisi partai pendukung, namun penentuan soal wakil akan berada di tangan Abdul Rasak sendiri. “Pak Rasak pasti akan punya pertimbangan tersendiri dalam mencari wakil yang pas. Tapi itu tergantung dari komunikasi politiknya dengan partai-partai pengusungnya,” katanya.
Adapun NasDem dan PBB, Bahtiar melihat kedua partai itu tidak akan banyak campur tangan dalam menentukan wakil.  “Untuk NasDem saya menilai bahwa tidak ada target untuk mengajukan wakil, boleh jadi ada bargening lain dan itu kita belum tahu pasti apa isi dari komunkasi yang dibangun Rasak dan Parpol tersebut, ” tambahnya.
Yang menarik bagi Bahtiar adalah posisi Partai Demokrat. Partai yang dibangun mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tersebut terkesan jual mahal karena sampai saat ini belum menjatuhkan pilihannya.
“Jual mahal yang saya maksud ini bahwa di masa injury time, partai itu mahal. Ini merupakan strategi untuk menaikan tawaran dengan pertimbangan bahwa partai tersebut merupakan juru kunci,” kata mantan Pembantu Rektor III UHO tersebut.
Namun yang masalah, Rasak kini sudah punya kendaraan politik. Meski tanpa bergabungnya Demokrat, Rasak sudah bisa maju Pilkada. Begitu juga Adwiatma Dwi Putra. Meski belum mengumumkannya secara resmi, publik sudah tahu bahwa kendaraan politik ADP sudah jadi.
“Pertanyaannya, Demokrat ini mau ke mana. Rasak dan ADP sudah lengkap kursinya. Mau membentuk poros sendiri sudah susah. Kecuali mau ke Anak Lorong atau Derik,” katanya.
Itupun, kata dia, Zayat Kaemoedin (Derik) dan Ishak Ismail (Anak Lorong) masih berebutan partai politik yang tersisa. Sejauh ini, Derik dan Anak Lorong diketahui mengincar PDIP untuk menyempurnakan koalisinya masing-masing.
“Kalau PDIP direbut oleh salah satu dari mereka, misalnya Derik yang dapat, ditambah Hanura dan PKB inikan sudah cukup. Sehingga saya melihat posisi Demokrat ini sulit, ada di persimpangan jalan,” katanya berpendapat.
Sementara itu pengamat politik lainnya Dr Eka Suaib juga melihat sampai saat ini belum ada calon wakil yang resmi, terutama dari pihak Rasak. Menurutnya, penentuan calon wakil yang akan dipasangkan dengan Rasak masih akan mengalami dinamika.
“Saya mengamati untuk sementara melihat bahwa Rasak belum memilih wakil, baik itu di kubu Golkar sendiri,” ungkap Ketua Prodi Ilmu Pemerintahan tersebut.
Eka mengingatkan agar Rasak mempertimbangkan secara matang wakil yang akan mendampinginya dalam Pilwalkot nanti. Meski surveinya saat ini masih yang tertinggi, namun posisi wakil juga sangat menentukan dalam pemenangan.
“Saya yakin Pak Rasak akan memilih wakil yang benar-benar tepat. Seorang wakil juga harus punya survei yang tinggi, punya amunisi, punya kekuatan massa dan lainnya,” kata dia.
Hal yang sama juga disampaikan Dr Peribadi. Dia yakin Rasak akan melakukan banyak hal dalam menentukan wakilnya. Yang jelas kata dia, wakil tersebut jangan sekadar dipasangkan saja, tapi harus punya kekuatan yang bisa mendukung popularitas Rasak saat ini.
“Pertimbangan dari Parpol itu memang perlu. Tapi jangan lupakan reaksi masyarakat. Apakah calon wakil itu mendapatkan sambutan positif atau sebaliknya,” tutupnya. (p7/b/aha)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top