Aktualita

Kebangkitan Nasional Harusnya Diambil Dari Tanggal Lahirnya Sarikat Islam bukan Budi Utomo

Hamdan Zoelva bersama Ketua dan Sekretaris SI Sultra, Abu Hasan dan Ruksamin

Hamdan Zoelva bersama Ketua dan Sekretaris SI Sultra, Abu Hasan dan Ruksamin

KENDARI, BKK – Ketua Umum Pengurus Pusat Syarikat Islam (SI), Dr H Hamdan Zoelva SH MH mengatakan, ada kekeliruan sejarah bangsa ini berkaitan penetapan hari Kebangkitan Nasional. Dia menyatakan, seharusnya Hari Kebangkitan Nasional diambil dari tanggal lahirnya SI bukan Budi Utomo.

 

Hamdan Zoelva menjelaskan, SI lahir 16 Oktober 1905 karena perlawanan atas ketidakadilan ekonomi, dimana saat itu lebih banyak didominasi penjajah Belanda dan China. SI juga sejak awal sudah menyepakati menggunakan Bahasa Melayu, sementara Budi Utomo dalam setiap rapatnya hanya menggunakan Bahasa Jawa dan Belanda sejak awal berdiri hingga dia bubar.

 

“Jadi harusnya Hari Kebangkitan Nasional diambil dari tanggal lahirnya SI bukan Budi Utomo,” kata Hamdan saat memberikan sambutan pada pelantikan Dewan Pengurus Wilayah Syarikat Islam di Hotel Zahra Kendari, Jumat (12/8).

 

Dijelaskan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini SI diawal terbentuknya berbentuk Sarikat Dagang Islam (SI) yang dirintis Haji Samanhudi di Surakarta.

 

Tujuannya, katanya menghimpun para pedagang pribumi muslim agar dapat bersaing pedagang Tionhoa. “Saat itu banyak juga investasi besar di Indonesia seperti perkebunan besar, tapi warga pribumi hanya menjadi kuli. Bukan saja itu banyak lahan-lahan warga yang dicaplok,” katanya.

 

SDI kemudian berkembag pesat dan berdiri di beberapa kota di Indonesia seperti Batavia (Jakarta) oleh RM Tirto Sudiro dan di Surabaya oleh HOS Cokroaminoto.

 

SDI yang dipimpin HOS Cokroaminoto berkembang pesat sehingga menarik bagi sejumlah tokoh muda saat itu untuk datang berguru, diantaranya Soekarno, Samau dan Kartosuwiryo.

 

“Mereka bertiga tinggal sekamar di lantai 2 rumah Pak Cokroaminoto di Jl Peneleh Surabaya. Setelah berguru, ketiga keluar dengan perjuangannya masing-masing. Samau memilih jalur kiri bergabung dengan komunis, Kartosuwiryo memilih jalur kanan mendirikan NII, dan Soekarno memilih jalur tengah,” urai Hamdan.

 

Hamdan melanjutkan belakangan Soekarno setelah jadi presiden terpaksa mengkesekusi kedua sahabatnya itu setelah keduanya melancarkan pembetontakan. “Pak Soekarno mengesekusi keduanya dengan derai air mata, karena mereka pernah sependeritaan, tapi dia harus lakukan karena tugas negara,” ujarnya.

 

Lebih jauh Hamdan menguraikan, perjalanan SI cukup penjang, pernah berdiri menjadi partai, sehingga membuat elit dan kadernya bercerai berai.

 

” Setelah melalui proses yang panjang akhirnya di era reformasi ini SI dibangkitkan lagi dengan format dan semangat baru,” katanya. (lex)

To Top