Kejati Sultra Jangan Tebang Pilih – Berita Kota Kendari
Kasuistika

Kejati Sultra Jangan Tebang Pilih

RUDI/BKK Syahirudin Latif.

RUDI/BKK
Syahirudin Latif.

KENDARI, BKK –
Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Tenggara (Sultra) diminta agar tidak tebang pilih dalam memperlakukan seluruh tersangka dalam kasus dugaan korupsi pembangunan Kantor Bupati Kabupaten Konawe Utara tahap II dan III Tahun 2011- 2012.

“Kami menilai penahanan tersangka nampak ada perbedaan perlakuan antara semua tersangka yang sudah ditetapkan jaksa penyidik Kejati Sultra,” kata penasihat hukum tersangka Ahmad Yani Simarata, Syahirudin Latif SH.
Syahiruddin mengungkapkan itu karena dari sembilan orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka, termasuk mantan Bupati Konawe Utara, Aswad Sulaiman, namun hanya kliennya saja yang ditahan penyidik kejaksaan.
“Harus disamakan semua tersangka dalam penanganannya. Masa hanya klien saya (Ahmad Yani Simarata) yang ditahan, sementara semuanya ikut serta dalam kasus itu,” katanya saat ditemui, Rabu (10/8).
Ia pun mempertanyakan mengapa Aswad Sulaiman dan Gina Lolo yang juga tersangka dalam kasus korupsi tersebut, masih bisa berkeliaran dengan bebas. Padahal keduanya merupakan orang yang paling bertanggungjawab dalam perkara korupsi tersebut.
Sementara kliennya, yang saat itu menjabat sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), ditahan dengan alasan tidak jelas. Olehnya itu ia meminta agar kejaksaan profesional dalam melakukan penahanan seseorang yang sudah berstatus tersangka.
“Masa Aswad dan Gina Lolo ini tidak ditahan. Sementara mereka bertiga dengan klien saya bersamaan ditetapkan tersangka. Kan ada prasangka negatif nanti kita pada kejaksaan. Ada apa kok dibeda-bedahakan perlakuannya,” terang mantan perwira Kepolisian Daerah (Polda) Sultra ini.
Tak hanya Aswad Sulaeman dan Gina Lolo saja, Syahirudin Latif juga menyorot tersangka lain yang ikut terlibat dan sudah ditetapkan sebagai tersangka, diantaranya Asmara, Cakunda dan Usman. Mereka juga belum ditahan oleh jaksa.
“Klien saya masih tahap pemberkasan, sudah ditahan dan yang lain belum ditahan sementara status sama-sama tersangka. Karena itu, kami menganggap jaksa ini pilih kasih,” bebernya dengan nada kesal.
Terpisah, Kepala Seksi Penerangan Hukum dan Hubungan Masyarakat (Kasipenkumhumas) Kejati Sultra, Janes Mamangkey SH membantah pihaknya melakukan tebang pilih dalam bersikap. Dia pun menjelaskan mengapa belum menahan tersangka lain.
“Aswad Sulaiman tidak ditahan karena selain dia kooperatif, dia juga sudah mengembalikan kerugian negara dan kini sudah kami limpahkan ke Kejari Konawe. Kalau untuk Gina Lolo tidak ditahan karena persoalan medis,” tangkisnya.
Adapun Cakunda, Asmara, Usman dan lainnya, tidak dilakukan penahanan karena masih sementara menjalani banding. “Kan kalau mereka Asmara itu jelas, dan sudah selesai persidangan. Hanya masih sementara upaya banding dan masih menunggu putusan bandingnya saja. Jika sudah keluar putusan bandingnya, kami langsung tahan kok,” pungkasnya.
Untuk mengingatkan kembali, korupsi pembangunan Kantor Bupati Konut tahap II dan III Tahun 2011-2012, ini membuat negara rugi hingga Rp 2,3 miliar sesuai hasil audit BPK Perwakilan Sultra. Lalu kemudian, Aswad Sulaiman datang pada, Selasa (23/2) lalu, dan menyerahkan uang tunai Rp 2,3 miliar ke Kejati Sultra sebagai uang pengganti kerugian negara. (p5/b/aha)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top