Agar Tetap Lestari, Aksara Laembo Harus Diajarkan Kembali – Berita Kota Kendari
Feature

Agar Tetap Lestari, Aksara Laembo Harus Diajarkan Kembali

RAHMAT RULLAH/BERITA KOTA KENDARI PUSAKA BANGSA. Inilah 16 huruf Aksara Laembo yang menjadi penanda kemajuan kebudayaan di masa Kerajaan Wawonii.

RAHMAT RULLAH/BERITA KOTA KENDARI
PUSAKA BANGSA. Inilah 16 huruf Aksara Laembo yang menjadi penanda kemajuan kebudayaan di masa Kerajaan Wawonii.

PENELITIAN UNIVERSITAS HALU OLEO
(Bagian Kedua/Selesai)

AKSARA Laembo merupakan salah satu pusaka bangsa, warisan dari kebudayaan masa lalu yang wajib dilestarikan. Agar tak menjadi pajangan museum, tak ada cara lain, aksara ini harus diwariskan ke generasi masyarakat saat ini supaya tidak punah.

Laporan: Rahmat Rullah
Universitas Halu Oleo

Peneliti kebudayaan dan juga sejarawan dari Universitas Halu Oleo, Basrin Malemba mengatakan pihaknya sangat berharap Aksara Laembo bisa diajarkan ke generasi saat ini. Salah satu upaya yang bisa ditempuh adalah memasukkannya sebagai muatan lokal.
Setidaknya, hal itu bisa dilakukan dulu di Konawe Kepulauan, yang menjadi pusat berhimpunnya suku Wawonii moderen. “Anak-anak kita harus belajar mengenal kearifan lokalnya sendiri. Saya harapkan ini bisa jadi muatan lokal di sekolah-sekolah,” kata Basrin.
Wakil Dekan Fakultas Ilmu Budaya UHO ini menjelaskan, sebelum dijadikan sebagai pelajaran muatan lokal, yang pertama harus disiapkan tentu adalah tenaga pengajarnya. Pasalnya, mempelajari Aksara Laembo butuh keahlian.
“Tenaga pengajar atau masyarakat yang berminat terlebih dahulu harus paham apa itu abjad, apa itu aksara dan apa itu huruf,” ungkapnya.
Dijelaskan, abjad adalah kumpulan tanda yang disebut huruf atau aksara, yang masing-masing menggambarkan satu bunyi atau lebih, dan biasanya mempunyai urutan tetap. Sedangkan aksara adalah sistem tanda-tanda grafis yang dipakai manusia untuk berkomunikasi. Istilah aksara mencakup baik jenis-jenis, sistem maupun huruf-hurufnya.
“Kalau sudah bisa mengetahui perbedaan tersebut, maka Aksara Laembo ini sudah siap diajarkan,” katanya.
Untuk Aksara Laembo sendiri, huruf yang disebut Horupu berjumlah 16 unit. Basrin mengakui merangkaikan huruf Aksara Laembo menjadi sebuah kata memang perlu pendalaman.
Apalagi, huruf bunyi konsonan dan vokal punya susunan sendiri. Dalam sistem Aksara Laembo, dikenal penanda vokal a, i, u, e, o dan nta.     Penanda bacanya sangat mirip dengan huruf hijaiyah yang memiliki penanda baca seperti fatha, kasra dan dhomma. Seumpama huruf Mim yang secara bentuk hampir mirip dengan Huruf Laembo, jika diberi tanda fatha (garis atas), baru bisa dibaca ‘Ma’. Begitu juga Huruf Laembo, ada tanda baca khusus baru bisa dibunyikan sebagai ‘Ma’
Mempelajari Aksara Laembo juga punya tantangan karena aksara ini adalah tidak mengenal huruf atau lambang untuk mematikan huruf. Misalnya: ‘Na’ menjadi ‘N’.
“Keunikannya untuk bunyi hurufnya sama dengan Aksara Lontarak yang dipakai Suku Bugis dan Makassar. Mereka juga tidak mengenal huruf mati, meski dalam penyebutan sehari-hari ada huruf matinya. Jadi harus dipelajari dulu baik-baik supaya diketahui apa bunyi masing-masing huruf, supaya bisa terangkai kata dan diketahui maknanya,” paparnya.
Selain itu, Aksara Laembo juga memiliki falsafah tersendiri. Salah satunya bisa dilihat dari bentuk hurufnya yang mirip tanda pagar, ‘#’, yang disebut ‘Sa’.
“‘Sa’ adalah huruf perpaduan dua garis vertikal dan dua garis horisontal. Bentuk ini disandarkan pada filosofi dan kepercayaan masyarakat Wawonii yang menganggap struktur kehidupan manusia ada empat yaitu Wita (tanah), Baho (air), Opua (angin) dan api,” katanya.
Dia berharap, upaya pelestarian Aksara Laembo ini bisa mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah. Sebab memang dibutuhkan bantuan untuk pengembangannya, seperti training atau pelatihan bagi guru-guru muatan lokal, pengadaan buku panduan hingga sosialisasi.
Untuk sosialisasinya, pemerintah juga bisa didorong untuk memakaikan Aksara Laembo pada fasilitas-fasilitas publik, seperi nama jalan, nama kantor, pintu gerbang dan lainnya.
“Seumpama ada nama jalan Veteran, di bawahnya bisa juga dituliskan huruf Laembo. Jadi orang akan semakin terbiasa,” katanya.
Basrin mengatakan, masyarakat Wawonii patut bersyukur karena masih ada generasi yang menyimpan catatan-catatan bahasa daerah yang ditulis dengan Aksara Laembo. Terutama koleksi milik Haji Muhammad Gazali yang dijadikan warisan ilmu secara turun-temurun.
Muhammad Gazali sendiri merupakan Raja Wawonii terakhir yang dijuluki Lakino Wawonii. (*/aha)

Click to comment
To Top