Aksara Laembo, Pusaka Wawonii Itu Akhirnya Ditemukan Kembali – Berita Kota Kendari
Feature

Aksara Laembo, Pusaka Wawonii Itu Akhirnya Ditemukan Kembali

RAHMAT RULLAH/BERITA KOTA KENDARI AKSARA LAEMBO. Sejarawan yang juga Wakil Dekan III, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Haluoleo, Basrin Malenba memperlihatkan Aksara Laembo yang dipakai suku Wawonii di masa lampau.

RAHMAT RULLAH/BERITA KOTA KENDARI
AKSARA LAEMBO. Sejarawan yang juga Wakil Dekan III, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Haluoleo, Basrin Malenba memperlihatkan Aksara Laembo yang dipakai suku Wawonii di masa lampau.

Peradaban masa lalu di Sulawesi Tenggara yang lama terpendam mulai terungkap satu demi satu. Salah satunya adalah Aksara Laembo Suku Wowonii, yang sempat dikira sudah punah.

Laporan: Rahmat Rullah

Provinsi ini patut berterima kasih kepada Basrin Melambi dan timnya. Atas penelitiannya, sejarawan Sulawesi Tenggara ini akhirnya berhasil menghimpun kembali huruf-huruf kuno dari peradaban Kerajaan Wowonii yang sudah lama hilang, yakni Aksara Laembo.
Dalam penelitiannya, Basrin bekerja sama dengan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LPPM) Universitas Halu Oleo dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Konawe Kepulauan (Konkep). Kerajaan Wowonii dulunya memang menguasai kepulauan di Konawe.
“Setelah kami melakukan penelitian selama 6 bulan di Wawonii, kami berhasil menekukan aksara yang digunakan oleh Kerajaan Wawonii yang ditulis dalam susunan huruf-huruf kuno, dan dipergunakan di masa kekuasaan Raja Mbeoga pada pertengahan abak ke-16 Masehi,” kata Basrin saat berbincang dengan Berita Kota Kendari, di Kampus UHO Kendari, Senin (8/8).
Basrin melanjutkan, di Sulawesi Tenggara, hanya dua suku yang mengenal aksara, yaitu suku Wolio dan Wawonii. Berdasarkan temuan arkeologi, Wolio (Buton) dan Wawonii diketahui sudah memiliki tradisi tulis sejak zaman kerajaan.
“Aksara yang dimiliki Wolio (Buton) ini memiliki kemiripan dengan ejaan Arab. Kalau Wawonii juga bagian memiliki ciri khas tersendiri, ” tambahnya.
Aksara untuk suku Wowonii diperkenalkan oleh seorang ulama besar bernama Laembo yang hidup pada abad ke-16. Nama Laembo lah kemudian yang dipakai untuk menamai aksara tersebut, Aksara Laembo.
Dalam penelitiannya, Basrin menemukan fakta bahwa huruf-huruf dari aksara tersebut diciptakan oleh Laembo berdasarkan pengalaman empiris dalam perantauannya di beberapa kerajaan Islam di nusantara.
“Adanya hubungan persahabatan antar suku-suku di daerah dan bangsa-bangsa baik dari Aceh, Sulawesi Selatan hingga Maluku, Ternate, memungkinkan Laembo terinspirasi untuk membuat huruf-huruf tersebut, lalu disesuaikan dengan bahasa yang lazim digunakan masyarakat setempat,” paparnya.
Karena itu, kebanyakan huruf Laembo ditemukan mirip dengan dari aksara Aceh (Kerajaan Samudera Pasai), aksara di Maluku dan aksara lontarak, Sulawesi Selatan.
Huruf-huruf Aksara Laembo sendiri terdiri atas 16 huruf. Hanya saja, huruf-hurufnya merupakan huruf hidup atau berakhiran huruf vokal. Tidak ada yang memiliki tanda mati.
Karena itu, menurut Basrin, orang yang tidak mengusai bahasa Wowonii akan cukup kesulitan ketika hendak menuliskan huruf mati.
“Beberapa huruf dapat ditafsirkan secara teoritis dengan beberapa cara berbeda supaya kita bisa tahu makna katanya. Tapi mungkin saja di sini bisa menimbulkan kesalahan penafsiran,” tambahnya.
Setelah resmi menjadi budaya kerajaan, Aksara Laembo pun digunakan untuk keperluan surat-menyurat Mokole/Lakino Wawonii, mencatat mantra atau doa Wawoni, doa Islam, silsilah, ilmu pengetahuan hingga cerita rakyat.
Sayangnya, dalam perjalanan peradaban, Aksara Laembo semakin kurang digunakan oleh masyarakat. Bahkan hampir dikira sudah punah. Masyarakat hanya memelihara bahasanya, tapi tidak dengan aksaranya.
Beruntung, beberapa cendekia Wowonii di masa lalu masih mengajarkan aksara itu secara turun-temurun, dari generasi ke generasi. Namun memang, sangat sedikit sekali keluarga yang menyimpan tulisan Aksara Laembo.
“Boleh dikata, aksara ini sudah nyaris punah. Yang bisa kuasai hanya orang-orang tua dulu. Beruntung masih ada yang menyimpan naskahnya dan masih bisa diidentifikasi bacanya,” kata Basrin.
Lantas, bagaimana dengan upaya pelestarian salah satu pusaka bangsa ini? Simak lanjutannya besok. (*/aha)

To Top