BNPT Gelar penilaian Video Pendek Anti Radikalisme Tingkat SMAN dan MAN Se-Sultra 2016 – Berita Kota Kendari
Pendidikan

BNPT Gelar penilaian Video Pendek Anti Radikalisme Tingkat SMAN dan MAN Se-Sultra 2016

Swastika Nohara sebagai salah seorang Juri Video Pendek BNPT (RAHMAT R./BKK)

Swastika Nohara sebagai salah seorang Juri Video Pendek BNPT (RAHMAT R./BKK)

KENDARI BKK- Badan Nasional Penanggulangan Terorisme melakukan penilaian terhadap video hasil kreatifitas Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) dan Madrasah Alia Negeri (MAN) Se- Sulawesi Tenggara (Sultra).

Acara tersebut berlangsung pada hari Kamis (4/8) di Hotel Athaya Kendari, BNPT bekerja sama dengan forum koordinasi pencegaha terorisme (FKPT) menggelar acara tersebut dengan tujuan menghindari paham radikalisme dikalangan Siswa tingak SMA dan MAN,

Dalam fim tersebut sebanyak 17 Film dan diseleksi akhirnya mengerucut menjadi film terbaik dan akan diumunkan pada Jumat (5/8), adapun video pendek yang masuk besar yakni dengan judul “Jangan Usik Kedamaian Kami, Dakwah, Toleransi, dan Kita Boleh Beda”.

Hasil penilain video pendek karya siswa-siswi lokal ini dinilai oleh 3 juri yakni Swastika Nohara, Johanes dan Ahmad Wijar.

Menurut Dra Hj Yuni Susilowati selaku Kepala Bidang Pemuda dan Perempuan FKPT Sultra mengukapkan bahwa tujuan dari pemutaran video pendek ini berawal dari kesan perbedaan agama yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kepada siswa-siswa SMAN dan MAN di Sultra.

“Tidak boleh ada yang mengatakan kita yang paling benar dan kita yang paling benar, Video ini dipilih untuk mengkitui perkembangan dunia Digital dan para siswa lebih banyak mengakses berita dan perkembangan melalui informatika komunikasi, ” terangnya.

Hal tersebut juga menurut Yuni bahwa anak muda saat ini lebih banyak berhadapan dengan TV, dan ketika mengetahui sesuai informasi yang berkaitan dengan pemahaman agama yang condong kepada Radikalisme.

“Pemahaman radikal bisa condong pada terorisme dan pemuda saat ini para pemuda dilihatb dari segi Ekonomi, Sosial dan Budaya memiliki latar belakang yang berbeda, disamping perkembangan fisiknya yang berbeda pemuda juga belum banyak memahami politik, ekonimi dan lain sebagainya sehingga kebanyakan ikut-ikutan, ” terangnya.

Yuni melanjutkan untuk efektifitas dalam acara tersebut bahwa informasi-informasi mengenai radikalisme itu cepat diakses, dan yang ditakutkan adalah para siswa maupun pemuda ini mendapatkan informasi pure dari situ dan ditelan mentah-menath sehingga menimbulkan pertentanagn dengan orang lain yang menurutnya tidak sesuai dengan pemahaman radikalisme.

Keluarga harus memberikan pemahaman radikalisme harus dihindari dan secepat mungkin diambil langkah-langkah spesifik yang sampai terjerumus pada faham tersebut.

“Pemutaran karya-karya video tersebut bertujuan untuk para pemuda, siswa agar bisa memilah informasi radikalisme yang disajikan melalui media, ” tutupnya. (p7)

 

Click to comment
To Top